Berhubungan Saat Masa Iddah, Apakah Perceraian Jadi Batal ?

0
241
orang tua
Selama dalam masa iddah suami boleh rujuk kepada istri yang ditalak. ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, saya mau curhat mengenai masalah rumah tangga. Masalah tersebut bermula ketika suami menikah dengan wanita lain tanpa seizin saya. Karena sudah terlanjur terjadi, saya pun menjalani pernikahan (poligami) ini dengan berusaha sabar dan ikhlas. Saya berharap, suatu saat dia sadar akan kekeliruannya dengan kembali kepada saya dan anak-anak. Tapi ternyata, suami dan saya tidak bisa menjalani semua ini dengan baik. Saya pun menggugat cerai, meskipun kami masih saling mencintai. Pada suatu hari, sekitar satu setengah bulan setelah perceraian, kami melakukan hubungan suami istri. Saya pernah mendengar, jika wanita yang mengajukan/menggugat (cerai), maka tidak ada masa rujuk dan masa idahnya hanya satu bulan. Tapi, saya juga pernah mendengar ada lagi pendapat yang menyatakan bahwa masa idahnya tiga setengah bulan dan jika di dalam masa idah itu melakukan hubungan suami sitri, berarti perceraiannya batal. Pertanyaannya, bagaimanakah status perceraian saya? Apakah batal atau tidak?Mohon nasihat dan penjelasannya. (W via email)

 

iklan

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Begini, ada dua istilah untuk perceraian yang dilakukan atas dasar permintaan cerai atau biasa disebut gugatan cerai dari pihak istri.

 

Pertama, fasakh atau pengajuan cerai oleh istri tanpa adanya kompensasi yang diberikan istri kepada suami dalam kondisi:

 

  • Suami tidak memberikan nafkah lahir dan batin selama enam bulan berturut-turut;
  • Suami meninggalkan istrinya selama empat tahun berturut-turut tanpa ada kabar berita (meskipun terdapat kontroversi tentang batas waktunya);
  • Suami tidak melunasi mahar (mas kawin) yang telah disebutkan dalam akad nikah, baik sebagian ataupun seluruhnya (sebelum terjadinya hubungan suami istri); atau
  • Adanya perlakuan buruk oleh suami seperti penganiayaan, penghinaan, dan tindakan-tindakan lain yang membahayakan keselamatan dan keamanan istri.

 

Kedua, khulu’ atau perceraian antara suami-istri dengan keridoan dari keduanya dan atas permintaan istri dengan pembayaran (imbalan) sejumlah harta yang diserahkan istri kepada suaminya serta menggunakan kata khulu’ (gugat cerai).

 

Besarnya kompensasi (iwadh) tergantung kesepakatan keduanya dan disunatkan tidak melebihi jumlah mahar yang telah diberikan kepada istri. Yang berhak menjatuhkan dan mengucapkan lafazh talak adalah suami, baik dengan sepengetahuan hakim ataupun tidak.

 

Khulu’ dan fasakh merupakan cerai yang hukumnya halal tapi dibenci Allah. Artinya, selama masih mungkin dipertahankan, sebaiknya bersabar dulu dan mempertimbangkan dengan masak serta berdoa agar diberi jalan yang terbaik. Jika ternyata tiada pilihan lain, maka konsekuensi hukumnya adalah pemberlakuan talak ba’in bagi istri.

 

Talak ba’in artinya talak yang menghilangkan kesempatan rujuk, kecuali sang isteri tersebut terlebih dahulu menikah dengan yang lain dan telah dukhul (berhubungan suami isteri). Ini menunjukkan bahwa fasakh atau khulu’ sama artinya dengan talak tiga yang berarti talak ba’in.

 

Namun, sebagian ulama mengatakan bahwa gugatan cerai itu berakibat pada talak ba’in shugra saja dan bukan talak ba’in kubro seperti yang telah dijelaskan tersebut.

Talak ba’in sugro yaitu hilangnya hak rujuk pada suami selama masa ‘iddah. Artinya, mantan suami ingin kembali kepada mantan istrinya, maka ia diharuskan melamar dan menikah kembali dengan perempuan tersebut.

 

Sementara itu, istri wajib menunggu sampai masa ‘iddahnya berakhir apabila ingin menikah dengan laki-laki yang lain.

 

Dalam hal ini, saya lebih cenderung pada pendapat kedua karena talak yang datang dari suami atau istri pada prinsipnya sama yaitu jatuhnya talak. Ketika gugatan cerai itu terjadi untuk yang pertama, maka yang terjadi adalah talak satu, bukan talak tiga.

 

Sementara itu, masa ‘iddah karena talak yang datang baik dari suami atau istri adalah sama yaitu tiga kali suci dari haid atau tiga bulan jika belum atau sudah tidak haid.

 

Berdasarkan pada ketentuan tersebut, kasus yang Anda alami merupakan pelanggaran terhadap ketentuan syari’at. Karenanya, segeralah Anda bertobat dan semoga kesalahan tersebut lebih karena keidaktahuan sehingga peluang terampuni lebih besar.

 

Sebagian ulama berpendapat bahwa hubungan suami istri pada masa iddah adalah salah satu bentuk rujuk dan si wanita kembali menjadi istri dari suaminya, dan dengan demikian selesailah masa idahnya.

 

Namun, untuk keluar dari perbedaan pendapat, sebaiknya suami menyatakan keinginan untuk rujuk dengan istrinya dan disaksikan oleh dua orang saksi dari kalangan umat Islam sehingga orang di sekitarnya tahu bahwa dia telah rujuk kembali dengan istrinya.

 

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Talaq [65]: 2).

Harus diketahui pula bahwa rujuk itu hanya dapat dilakukan dalam talak raj’i serta pada masa iddah, karenanya jika talak itu adalah talak yang ketiga kalinya (talak ba`in) atau sudah habis masa iddah istri maka tidak boleh lagi dilakukan rujuk. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

985

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .