Ciri Orang Yang Hatinya Mati, Waspadai 6 Tanda Ini

0
283

iPERCIKANIMAN.ID – – Seseorang dengan kondisi hati yang telah mati inilah yang tidak akan merasa berdosa ketika dirinya melakukan maksiat kepada Allah Swt. Seorang muslim yang telah terbiasa berbuat dosa sehingga tidak ada lagi rasa penyesalan di dalam hatinya, perlu dipertanyakan kembali keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Swt.

Sebab, bisa saja dirinya telah tergolong sebagai orang munafik tanpa dia sadari. Alasannya, orang munafik menganggap perbuatan dosa yang telah dilakukannya seperti lalat yang kecil. Sedangkan, orang beriman menganggap dosanya seperti gunung besar yang diletakkan di atas kepalanya.

iklan

Ada beberapa golongan manusia yang masuk dalam kategori memiliki hati yang sudah mati. Mereka memiliki indikasi berikut ini.

 

Pertama, melakukan dosa terus-menerus.

Dosa yangdilakukan secara berulang terjadi karena pengaruh kerasnya jiwa dan adanya bercak di dalam hati sehingga sulit menerima petunjuk (kebenaran). Allah Swt. berfirman,

Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau men-zalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa mereka. Siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu dengan penuh kesadaran.” (Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 135).

Ibu Abbas pernah berkata, “Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan dengan terus menerus dan tidak ada dosa besar apabila disertai dengan istighfar. ”

 

Kedua, menganggap remeh perbuatan dosa.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Berhati-hatilah kalian terhadap dosa kecil, sebab jika berkumpul dalam diri seseorang, ia (dosa kecil itu) akan membinasakannya” (H.R. Ahmad dan Thabrani).

 

Ketiga, terasa menyenangkan.

Perasaan senang terhadap kemaksiatan menunjukkan adanya keinginan untuk melakukannya serta tidak adanya keinginan untuk bertobat. Orang yang bangga dengan dosanya berarti sudah begitu lupa dengan bahaya dosa.

Sehingga, dia malah senang tatkala dapat melampiaskan keinginannya yang terlarang. Jika kealpaan dan kelalaian semacam ini telah begitu parah, dia akan menyeret kita untuk terus menerus melakukan perbuatan dosa, merasa tenang dengan perbuatan salah, dan bertekad untuk terus melakukannya.

Kondisi ini adalah jenis lain dari dosa dan jauh lebih berbahaya daripada dosa yang dilakukan sebelumnya. Allah berfirman,

Apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah,’ bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka, pantaslah baginya Neraka Jahanam. Sungguh, Jahanam itu tempat tinggal yang terburuk.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 206).

 

Keempat, membongkar dan menceritakan kepada orang lain, padahal Allah Swt. telah menutupinya.

Seseorang yang melakukan dosa dan telah ditutupi oleh Allah Swt. terkadang malah menampakkan dan menceritakannya. Maka, dosanya justru menjadi berlipat karena gabungan dari beberapa dosa. Dia telah mengundang orang untuk mendengarkan dosa yang dikerjakannya dan bisa jadi akan memancing orang lain untuk ikut melakukannya. Allah Swt. berfirman,

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali mengerjakan larangan itu dan mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Apabila datang kepadamu (Muhammad), mereka mengucapkan salam dengan cara yang bukan seperti yang ditentukan Allah untukmu. Mereka berkata pada diri mereka sendiri, ‘Mengapa Allah tidak menyiksa atas ucapan kita?’ Cukuplah bagi mereka Jahanam. Neraka itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Q.S. Al-Mujādalah [58]: 8).

 

Kelima, melakukannya secara terang-terangan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Semua umatku akan diampuni dosanya kecuali orang yang mujaharah (terangterangan dalam berbuat dosa) dan yang termasuk mujaharah adalah seseorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, hingga pagi hari Allah telah menutupi dosa tersebut, tetapi kemudian dia berkata, ‘Wahai Fulan, semalam saya berbuat ini dan berbuat itu.’ Padahal, Allah telah menutupi dosa tersebut semalaman, tetapi di pagi hari dia buka tutup Allah tersebut” (H.R. Bukhari dan Muslim).

 

Keenam, dilakukan oleh orang yang menjadi teladan.

Hal ini jika dilakukan dengan sengaja, disertai kesombongan, atau dengan mempertentangkan antara

nash yang satu dan nash yang lain. Maka, dosa kecilnya bisa berubah menjadi besar. Rasulullah Saw. bersabda,

Barangsiapa yang memberi contoh di dalam Islam dengan contoh yang jelek, dia akan mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya setelah dia, tanpa dikurangi dosa tersebut sedikit pun” (H.R. Muslim).

Lain halnya jika dilakukan karena kesalahan dalam ijtihad, marah, atau semacamnya. Tentunya, hal itu dimaafkan. Jadi, sudah sewajarnya kita lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini agar jangan sampai sudah tidak merasa bersalah lagi saat berbuat dosa sehingga berakhir menjadi siksa di neraka. Naudzubillaahi min dzaalik. [ ]

 

Sumber: dikutip dari buku ” KETIKA DOSA TAK DIRASA ” karya Dr. H. Aam Amiruddin, M.si

5

Red: admin

Editor: iman

860