Bacaan Shalat Fajar Sebelum Subuh, Ini Yang Dilakukan Rasulullah

0
299
Kautamaan Shalat Fajar

PERCIKANIMAN.ID – – Shalat Fajar atau shalat sunnah dua rakaat sebelum Shalat Subuh adalah diantara shalat sunnah yang mempunyai banyak keutamaan. Dalam sebuah haditsdari ‘Aisyah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

iklan

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

 

Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim).

 

Shalat rawatib sebelum shalat Subuh ini paling dijaga oleh Rasulullah Saw. Shalat sunat ini tidak pernah ditinggalkan oleh beliau. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan Aisyah r.a. dalam hadis Abdullah bin Mughaffal r.a., yaitu,

Shalat sunat yang paling serius dijaga Rasulullah Saw. adalah dua rakaat sebelum Subuh.”

Selama hidupnya, Rasulullah Saw. tidak pernah meninggalkan shalat sunat ini, baik saat beliau ada di rumahnya maupun saat sedang melakukan perjalanan. Aisyah r.a. berkata,

Beliau tidak pernah meninggalkan kedua rakaat tersebut selamanya.” (H.R. Ibnu Qudamah)

Masih dari Aisyah r.a., “Tidaklah lebih besar perhatian Rasulullah Saw. itu atas satu pun dari sekian banyak shalat sunat daripada dua rakaat shalat sebelum Subuh.” (H.R. Bukhari)

Biasanya, dalam shalat tersebut, Rasulullah Saw. membaca surat Al-Kāfirūn dan Al-Ikhlāś (H.R. Muslim dari Abu Hurairah).

Namun, tak jarang pula pada rakaat pertama beliau membaca,

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

 “Katakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami; apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma‘il, Ishaq, Ya‘qub, dan anak cucunya; apa yang diberikan kepada Musa dan Isa; serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami berserah diri kepada-Nya.’” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 136)

Pada rakaat kedua, beliau membaca,

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

 “Maka, ketika Isa merasakan gejala kekufuran Bani Israil, ia berkata, ‘Siapa yang akan menjadi penolongku untuk menegakkan agama Allah?’ Para Ĥawāriyyūn (sahabat setia-nya) menjawab, ‘Kami-lah penolong agama Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.’” (Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 52)

Namun, dalam riwayat lain pada rakaat kedua tersebut beliau membaca,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakan (Muhammad), ‘Hai, Ahli Kitab! Marilah kita berpegang pada satu keyakinan yang sama antara kami dan kamu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Sebagian kita juga tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling, katakan kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang Muslim.’ (Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 64).” (H.R. Muslim)

Setelah mengerjakan dua rakaat shalat sunat tersebut, beliau tidak mengerjakan shalat apa pun kecuali melaksanakan shalat Subuh.

Jika tidak sempat melaksanakan shalat ini sebelum waktu shalat Subuh, diperbolehkan melaksanakannya setelah shalat Subuh selesai. Misalnya, kita datang ke sebuah masjid untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah.

Namun, ketika datang, iqamah sudah dikumandangkan dan semua tengah bersiap melaksanakan shalat berjamaah, maka kita diwajibkan untuk langsung bergabung dalam jamaah sehingga pelaksanaan shalat ini dilakukan setelah shalat wajib usai.

Hal ini disebutkan dalam beberapa keterangan. Salah satunya hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah saat Qais bin ‘Amr shalat Subuh bersama

Rasulullah Saw. dan dia belum melaksanakan dua rakaat fajar (qabla Subuh). Setelah salam, Qais berdiri lalu shalat dua rakaat (maksudnya melaksanakan shalat sunat sebelum Subuh). Rasulullah melihatnya, tetapi beliau membiarkannya.

Qais bin Amr juga bercerita bahwa Rasulullah Saw. pernah menyaksikan seseorang mengerjakan shalat dua rakaat setelah shalat Subuh. Lalu, Rasulullah Saw. bersabda, “Shalat Subuh itu hanya dua rakaat.” Orang itu berkata, “Aku tadi belum mengerjakan shalat dua rakaat sebelum Subuh. Oleh karena itu, aku mengerjakannya sekarang.” Mendengar hal tersebut, Rasulullah Saw. hanya diam. (H.R. Abu Daud)

 

Sumber: buku “ MELANGKAH KE SURGA DENGAN SHALAT SUNAT ” karya Dr. Aam Amiruddin, M.Si

5

Red: admin

Editor: iman

906