Hakikat Marah Menurut Pandangan Psikologi dan Islam

0
184
Marah dapat mempengaruhi psikis seseorang. (ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Dalam kajian ilmu komunikasi, marah hakikatnya adalah salah satu bentuk dari komunikasi seseorang. Kala seseorang marah, artinya dia sedang berupaya menyampaikan pesan kepada orang lain. Bentuk penyampaiannya berbeda-beda, bergantung pada lingkungan dan kondisi sosial budaya yang membentuknya.

Di Jepang, orang sering diam saat marah karena memang orang-orang Jepang tidak terbiasa mengekspresikan perasaannya. Hal itu akan berbeda jauh dengan orang Amerika yang lebih berterus terang mengungkapkan perasaannya, sama halnya dengan Suku Batak di tanah air kita.

iklan

Menurut kacamata psikologi, marah adalah bagian dari emosi. Di antara sekian banyak emosi, seperti gembira dan sedih, marah dikategorikan sebagai emosi yang negatif. Sebagaimana yang diungkapkan psikolog Alva Handayani, penyebab marah berbeda-beda pada tiap orang, tapi umumnya terjadi karena frustasi, tersinggung, atau memang karena temperamen.

Ada pula kemarahan yang terjadi karena kasus atau pengalaman seseorang di masa lalu. Kasus ini disebut kasus predisposisi. Pada kasus ini, kemarahan disebabkan oleh pengalaman buruk masa lalu yang menumpuk hingga pada akhirnya meledak ketika ada pemicunya.

Kita sering menyaksikan contohnya di layar kaca, misalnya ketika seorang istri yang dikenal orang lain sebagai seorang wanita sabar, ternyata mampu menghabisi nyawa suaminya dengan cara yang sadis.

Emosi seseorang selama ini dinilai dipengaruhi oleh faktor lingkungannya. Faktor lingkungan memang berpengaruh sebagai musabab sekaligus pemicu kemarahan seseorang, tetapi sebenarnya faktor lingkungan amat bergantung pada faktor internal, yaitu kestabilan emosi.

Dalam lingkungan yang sama, dua orang berbeda bisa bereaksi berbeda dalam menghadapi masalah yang sama, bergantung pada kendali diri yang dimiliki. Orang yang ritme hidup dan denyut jantungnya lebih cepat, ketika dihadapkan pada situasi lebih lambat, dia akan stres dan mudah marah.

Begitu pun sebaliknya, orang yang emosinya tenang dan lambat jika dia masuk ke situasi yang lebih cepat, dia akan cepat marah dan stres.

Sementara dari kajian ilmu jiwa atau psikiatri, marah justru lebih dikenal sebagai bentuk gejala atau symptom. Kemarahan menandakan adanya suatu penyakit dalam tubuh seseorang. Dan memang dalam kajian psikiatri, seseorang yang sakit akan mudah marah karena penyakit yang dideritanya.

Marah digolongkan ke dalam jenis gejala agresi yang positif karena merupakan ekspresi emosi yang ditampakkan. Penyebabnya disebut dengan istilah impuls atau dorongan. Jenis impuls ini bisa bermacam-macam, mulai dari kondisi lingkungan yang tidak kondusif dan penuh tekanan, makanan yang berprotein tinggi, rendahnya kadar oksigen pada otak, dan kasus hormonal.

Sama seperti dalam kajian psikologi, faktor lingkungan didaulat sebagai salah satu penyebab timbulnya kemarahan pada diri seseorang. Seseorang yang berprofesi sebagai pengemudi angkutan kota akan lebih mudah marah ketimbang seseorang yang bekerja di ruangan ber-AC.

Tuntutan lingkungan yang penuh tekanan, bising, dan panas akan memacu emosi seseorang berada dalam kondisi tinggi. Begitu pun makanan yang berprotein tinggi. Menurut dr. Jaya Mualimin, makanan yang berprotein tinggi, seperti daging kambing, cenderung memicu seseorang untuk marah karena meningkatkan hormon-hormon tertentu dalam tubuh.

Begitu pula dengan kurangnya oksigen pada otak yang membuat kesadaran seseorang menjadi turun dan rentan terhadap stimulus yang negatif.

Untuk kasus hormonal, seseorang menjadi mudah marah jika kadar hormon pemicu kemarahan tidak berada pada kadar semestinya. Singkatnya, proses kemarahan dalam tubuh bisa dijabarkan dengan dimulainya impuls yang diterima oleh limbic system (pusat emosi) di hypothalamus yang terletak di bagian otak tengah.

Penerimaan impuls tersebut merangsang peningkatan neurotransmitter dompamine pada neuron otak. Setelah itu, rangsangan diteruskan ke hypophycis yang kemudian dikirim ke bagian tubuh lainnya, seperti bagian tubuh penghasil hormon-hormon yang memacu denyut jantung, pupil mata membesar, dan lain-lain. Hormon tersebut contohnya seperti epinefrin, noreprinefrin, serotonin, dan testosteron.

Itulah sebabnya gangguan hormonal, yaitu ketidakseimbangan kadar hormon –baik kelebihan maupun kekurangan– akan menyebabkan seseorang mudah marah. Kasus ini terjadi pada kaum wanita saat sedang menstruasi ataupun pada kaum lansia yang hormon testosteron dan progesteron-nya sudah mulai menurun. Hal tersebut mengurangi ambang batas kesabarannya sehingga dipicu sedikit akan mudah marah.

Jauh hari, Rasulullah saw. telah bersabda, “Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan terbuat dari api.” (H.R Ibnu Asakir, Mauquf).

Imam Ja’far ash-Shadiq pun berkata, “Sesungguhnya marah itu adalah bara api dari setan yang dinyalakan dalam hati keturunan Adam dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu apabila marah maka merahlah matanya dan berdetak cepat jantungnya, lalu masuklah setan (menguasai) ke dalam (diri)nya.”

Dari dua kabar tersebut, setidaknya kita bisa menyimpulkan bahwa kemarahan pada diri seseorang identik dengan perbuatan dan sifat setan. Marah pun sering dikaitkan dengan sifat api yang panas, sementara api itu sendiri adalah bahan bakar penciptaan setan. Jelaslah kiranya jika Rasulullah dan para pemikir Islam banyak yang mengidentikkan kemarahan berasal dari setan.[ ].

 

Red: Agung

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman