Kisah Kaum Ad, Inilah Kaum Penyembah Berhala Yang Dibinasakan Allah

0
89
bangunan yang dipercaya sebagai peninggalan Kaum 'Aad ( foto: islamicwayzone.com)

PERCIKANIMAN.ID – – Mayoritas umat Muslim tentu pernah mendengar kisah umat Nabi Hud AS yakni kaum ‘Aad, yang ditimpa azab Allah Swt. Dikisahkan kaum ‘Aad merupakan kaum yang durhaka kepada Allah dengan menjadi kaum yang pertama kali menyembah berhala setelah peristiwa banjir besar dan luluhlantaknya umat manusia yang kafir pada masa Nabi Nuh AS.

Kaum `Ad (Arab:عاد ʿĀd) adalah sebuah suku bangsa kuno yang tinggal di daerah Al-Ahqaf di sebelah utara Hadramaut, antara Yaman dan Oman. Mereka hidup pasca banjir besar di masa Nabi Nuh. Kehidupan mereka dikisahkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

iklan

Awalnya mereka merupakan sebuah suku yang sejahtera namun menyekutukan Allah dan menentang nabi yang diutus kepada mereka, sehingga kemudian Allah menghancurkan mereka dengan angin badai yang mematikan. Nabi yang telah diutus kepada mereka bernama Hud.

 

Kisah tentang kaum ‘Aad ini bahkan tertuang jelas dalam Al-Quran antara lain surat Al-A’raaf dan surat Hud. Dalam Quran diceritakan, Nabi Hud AS sengaja diutus Allah untuk menyelamatkan kaum ‘Aad dari kebodohan dan kesesatan.

 

Kepada kaum ‘Ad, Kami utus Hud. Ia berkata, “Hai, kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Allah. Selama ini kamu hanyalah meng¬ada-ada. Hai, kaumku! Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas seruanku ini. Imbalanku hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Tidakkah kamu mengerti?”. Hud berkata, “Hai, kaumku! Mohonlah ampunan kepada Allah, lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Allah menurunkan hujan deras. Allah akan menambahkan kekuatan di atas ke-kuatanmu. Janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.”. Mereka (kaum ‘Ad) berkata, “Hai, Hud! Kamu tidak mendatangkan bukti yang nyata kepada kami. Kami tidak akan meninggalkan sesembahan kami karena perkataanmu dan kami tidak akan memercayaimu, kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah membuatmu gila.” Hud menjawab, “Sesungguhnya, aku bersaksi kepada Allah. Saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dengan yang lain. Sebab itu, jalankanlah semua tipu dayamu terhadapku dan jangan kamu tunda lagi. Sesungguhnya, aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada satu pun makhluk bernyawa melainkan Allah-lah yang menguasainya. Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus dan adil. Jika kamu berpaling, sungguh aku telah menyampaikan tugasku sebagai rasul kepadamu. Tuhanku akan menggantimu dengan kaum lain, sedangkan kamu tidak dapat mendatangkan mudarat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya, Tuhanku Maha Pemelihara segala sesuatu.” Ketika azab datang, Kami selamatkan Hud dan orang-orang beriman yang bersamanya dengan rahmat Kami. Kami selamatkan pula mereka dari azab yang berat di akhirat. Itulah kisah kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Mereka mendurhakai rasul-rasul-Nya dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi durhaka. Mereka dilaknat di dunia, begitu pula pada hari Kiamat. Ingatlah, kaum ‘Ad itu ingkar kepada Tuhan mereka. Sungguh, binasalah kaum ‘Ad, umat Hud itu.” (QS.Huud: 50-60)

 

Namun sekeras apapun usaha Nabi Hud AS, mereka tetap tidak mau mengakui Allah sebagai Tuhan. Kaum ‘Aad bahkan ‘menantang’ Allah untuk segera mendatangkan azab pada mereka. Hingga akhirnya, ‘tantangan’ tersebut terjawab. Dalam Quran surat Al-Haqqah dijelaskan, Allah mendatangkan azab yang dahsyat pada kaum ‘Aad.

Azab tersebut berupa angin yang sangat kencang. Saking kencangnya, angin tersebut lalu memutar kepala-kepala mereka hingga putus dan yang tersisa hanya jasad-jasad tanpa kepala.

 

Beberapa dari mereka lari mengungsi ke gua-gua dan gunung-gunung karena rumah-rumahnya telah hancur. Namun kemudian Allah mengutus angin Al-Aqim, yakni angin panas yang disertai nyala api untuk membinasakan mereka. Alhasil tak ada bentuk kehidupan yang tersisa. Negeri kaum ‘Aad musnah seketika.

 

Namun setelah berabad-abad lamanya, jejak peristiwa maha dahsyat itu ternyata dapat ditelusuri kembali. Sejumlah ulama, ahli tafsir hingga ahli geografi melakukan penelitian dan mendapati bahwa dahulu kaum ‘Aad tinggal di sebuah wilayah bernama Haqf.

Haqf berarti ‘pasir yang miring’. Kini, wilayah tersebut bernama Zhaafar dan merupakan bagian dari negara Yaman yang berbatasan langsung dengan Oman.

 

Adapun peninggalan-peninggalan kaum ‘Aad memang telah musnah tertimbun pasir. Namun adanya penggalian dan penelitian arkeologi sejak tahun 1980-an hingga 2000-an berhasil menemukan sisa-sisa bangunan yang dianggap peninggalan kaum ‘Aad. Bangunan ini ditemukan terkubur di padang pasir ar-Rub’u al-Khali di wilayah Zhaafar, 150 km sebelah utara Kota Shalabah, selatan kerajaan Oman. Penemuan tersebut membuktikan kebenaran kisah kaum ‘Aad dalam Al-Quran.

 

Menurut Lenormant dan Chevallier dalam bukunya “Ancient History of the East” disebutkan bahwa mereka telah dibentuk seorang raja dan dari mana asal usul mereka yang diberikan kehidupan selama beberapa abad, kaum Ad diduga berasal dari timur laut.

Seorang Raja besar pernah hidup dan membawa pengaruh besar terhadap peradaban terdahulu, dia disebut ‘Shedd Ad Ben Ad’ atau ‘Shed Ad bin Ad’. Dia penduduk pertama negara Arab yang dikenal dengan sebutan ‘Adites’ berasal dari nenek moyang mereka yang disebut kaum Ad, cucu Ham.

Adites mungkin adalah manusia Atlantis atau ‘Ad-lantis’. Dia menikahi seribu wanita, memiliki empat ribu anak dan hidup selama 1200 tahun. Setelah kematiannya, anaknya Shadid dan Shedad memerintah berturut-turut di kerajaan Adites.

Pada saat kedua turunan Ad memimpin seribu suku yang masing-masing terdiri dari beberapa ribu pria, maka terjadi penaklukan besar dikaitkan dengan penundukan Shedad. Semua orang-orang Saudi dan Irak migrasi dari Kanaan, mereka berdiri di Suriah dan invasi Mesir juga dikaitkan dengan ekspedisi Shedad.

 

Shedad telah membangun istana yang dihiasi dengan kolam yang luar biasa dan dikelilingi oleh taman yang megah, sebuah istana yang disebut Irem. Istana itu dibangun Shedad dan disebutkan telah meniru keindahan surga di langit.

Dengan kata lain, seorang Raja besar dan kuat di zaman kuno, memuja matahari, menaklukkan ras dan sebagai bangsa yang pertama kali menyerbu Arab. Mereka adalah bangsa Ad-lantis, dimana Raja-nya mencoba untuk membuat sebuah istana dan taman Eden.

Adites diingat orang Arab sebagai ras besar dan beradab, digambarkan sebagai laki-laki bertubuh raksasa, kekuatan ras-nya mampu memindahkan blok besar batu. Ras mereka merupakan arsitek dan pembangun, mengangkat monumen kekuasaan, sehingga orang-orang Arab saat ini masih ada yang menyebut sisa reruntuhan situs sebagai ‘Bangunan Adites’.

 

Dalam kiasan Alquran, mereka mendirikan bangunan ditempat-tempat yang tinggi dan penggunaannya sia-sia. Gambaran ini membuktikan bahwa mereka penyembahan berhala dan dianggap telah meyakini ajaran Sabaeism atau Dewa-dewa Bintang.

Kemajuan material bersekutu dengan kebejatan moral yang besar dan ritual cabul. Bangsa Adites pertama telah punah akibat banjir besar dan diteruskan oleh ras Adite kedua. Mungkin mereka telah lolos dari banjir besar Nuh, dimana pusat kekuasaan selanjutnya berada di Sheba dan bertahan selama seribu tahun.

Adites digambarkan pada monumen Mesir sebagai ras merah, kuil besar mereka adalah piramida Mesir. Bangunan mereka memiliki serambi bertiang dengan kolom berselubung berhiaskan emas atau perak. Pada ornamen dan kerangka pintu diletakkan piring emas dengan batu mulia. [Dirangkum dari berbagai sumber]

5

Red: admin

Editor: iman

943