Keutamaan dan Tips Menjaga Lisan Dalam Islam

0
104
Ghibah atau gosip dianggap sepele padahal dosanya serius. (ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Di antara perkataan manusia, ada yang buruk dan ada yang lebih buruk, ada yang keji dan ada yang lebih keji, ada yang baik dan ada yang lebih baik. Allah menganjurkan kita mengucapkan perkataan terakhir, yakni perkataan yang lebih baik.

Renungkanlah penggalan hikmah di atas. Perhatikanlah keadaan kebanyakan manusia di mana perkataan mereka masih berada di dalam kategori ‘yang buruk’ dan ‘lebih buruk’ atau ‘yang keji’ dan ‘lebih keji’ atau bahkan tidak dua-duanya, yakni perkataan sia-sia atau ‘mubah’.

iklan

Jarang sekali orang yang bisa meningkatkan ibadahnya ke kategori ‘lebih baik’. Padahal perkataan ‘yang baik’ saja masih bisa memberi peluang kepada setan dan menimbulkan perselisihan.

Ibnu Al-Azraq dengan kitabnya Bada’i’ as-Salik mencoba menghitung kewajiban lisan, hasilnya ia mendapatkan lebih dari 50 buah kewajiban seorang manusia terhadap lisannya, di antaranya ialah:

-Berkata jujur

-Amar makruf dan nahyi munkar

-Berkata baik,

-Mengecam orang yang yang melalukan kesesatan,

-Membaca bacaan shalat,

-Tilawah Al Quran,

-Zikir,

-Berkata tegas karena Allah,

-Memohon perlindungan kepada Allah ketika menghadapi godaan setan,

-Menunaikan kalimat Allah,

-Mencegah kesaksian palsu,

-Mendamaikan di antara manusia yang bertikai,

-Menjawab salam, dll.

 

Selanjutnya Ibnu Al-Azra menghitung larangan-larangan lisan, lebih dari 65 buah larangan lisan ia temukan. Hal ini tak jauh berbeda dari temuan Imam Al Ghazali yang diringkas Sa’id Hawwa dalam bukunya Mensucikan Jiwa. Imam Al Ghazali menyebutkan setidaknya ada duapuluh penyakit lisan, di antaranya: pembicaraan yang tidak berguna, berlebihan dalam berbicara, melibatkan diri dalam pembicaraan yang batil, perbantahan dan perdebatan, kefasikan, berkata keji, jorok, dan cacian, melaknati, senda gurau, ejekan dan cemoohan, menyebarkan rahasia, janji palsu, berdusta dalam perkataan sumpah, menggunjing (ghibah), menghasut (namimah), dan sanjungan.

Rasulullah saw. bersabda, “Simpanlah lisanmu kecuali untuk kebaikan karena sesungguhnya dengan demikian kamu dapat mengalahkan setan.” (H.R. Thabrani dan Hibban). Hadis di atas menyiratkan bahwa bahaya lisan sangat besar dan tak ada seorang pun yang dapat selamat daripadanya kecuali dengan perkataan yang baik, atau kalau tidak mampu maka hendaknya ia diam.

 

Keutamaan diam diakibatkan oleh banyaknya penyakit lisan di atas. Ketahuilah bahwa penyakit-penyakit ini sangat mudah dan ringan meluncur dari lidah, terasa manis di dalam hati, bahkan orang yang melibatkan diri di dalamnya jarang sekali mampu menahan lidahnya.

Keterlibatan dalam berbagai penyakit lisan ini sangat berbahaya. Diam merupakan jalan keselamatan, oleh sebab itu keutamaan diam sangatlah besar. Di samping dalam diam itu terkandung kewibawaan, konsentrasi, zikir, dan ibadah, di dalamnya juga berbagai tanggung jawab perkataan di dunia dan hisabnya di akhirat.[ ]

4

Red: admin

Editor: iman

904