Memahami Kedudukan, Fadhilah dan Hukum Shalat Sunnah

0
268
Shalat Istikharah boleh lakukan siang atau malam hari ( ilustrasi foto: pixabay )

PERCIKANIMAN.ID – – Derajat keimanan seorang manusia tidak pernah stabil. Ia kadang berada di atas, tetapi tak jarang pula terjerembab pada posisi yang paling bawah. Hal ini menyebabkan ibadah-ibadah yang dilaksanakan sering menjadi tidak sempurna alias banyak kekurangan.

 

iklan

Itulah sebabnya Rasulullah Saw. menganjurkan kita untuk melaksanakan ibadah tambahan sebagai penguat dan penyempurna ibadah wajib yang dilaksanakan.

 

Ibadah penguat atau penyempurna tersebut disebut ibadah sunah. Terminologi sunah dalam istilah fikih memiliki banyak sinonim, yaitu mustahab, mandub, nafilah, dan tathawwu.

 

Namun, seperti halnya fardhu dan wajib, perbedaan itu tidaklah prinsip karena jika ditinjau dari makna kebahasaan, sunah berarti jejak, jalan, atau kebiasaan.

 

Mustahab berarti sesuatu yang disenangi, mandub berarti sesuatu yang dianjurkan, nafilah berarti lebihnya dari sesuatu, dan tathawwu bermakna bertambah atau tambahan.

 

Jadi, dapat diartikan bahwa istilah sunah merupakan jejak atau kebiasaan dalam agama yang disenangi Allah dan sebagai tambahan dari kewajiban.

 

Namun, ada pula sebagian ulama yang membedakan istilah tersebut berdasarkan intensitas Rasulullah Saw. dalam melaksanakannya. Jika suatu perbuatan selalu dilakukan dan ditekuni oleh Nabi maka disebut sunah.

 

Jika perbuatan itu hanya dilakukan sekali-dua kali, tidak terus menerus, dinamakan mustahab.

 

Dalam ushul fiqh, mandub atau sunah didefinisikan sebagai perintah Allah yang mengandung tuntutan untuk berbuat, tetapi tidak secara tegas. Firman Allah Swt.,

 

Hai, orang-orang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 282)

 

Ayat tersebut memerintahkan untuk membukukan (mencatat) transaksi yang dilakukan tidak secara tunai. Namun, perintah ini tidak tegas. Sebab, ayat sesudahnya menyatakan jika kedua belah pihak yang melakuakan transaksi sudah saling percaya, tidak perlu lagi dibukukan.

 

Jadi, redaksi (hendaklah kamu menuliskannya) yang menggunakan bentuk ‘amr (perintah) dalam ayat tersebut tidak tegas karena masih ada peluang yang memperkenankan untuk tidak mencatat ketika ada trust (kepercayaan) dari kedua belah pihak.

 

Jadi, hukum membukukan transaksi adalah mandub atau sunah. Dalam fikih, mandub sering didefinisikan sebagai sesuatu yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak mendapat siksa atau tidak berdosa.

 

Para ulama membagi sunah dalam tiga macam, yaitu sunah muakad, sunah nafilah, dan sunah fadhilah.

 

Sunah muakad yaitu sunah-sunah yang menjadi penyempurna bagi hal-hal yang wajib, misalnya azan dan shalat sunat rawatib (shalat sebelum dan sesudah shalat fardhu).

 

Termasuk kategori ini adalah sunah yang selalu dilakukan Nabi, yaitu bersiwak.

 

Sunah nafilah adalah sunah yang tidak menjadi rutinitas Nabi, misalnya shaum Senin-Kamis.

 

Sedangkan sunah fadlilah adalah meneladani sifat-sifat Nabi dalam kapasitasnya sebagai manusia, misalnya cara makan, minum, berpakaian, dan sebagainya. (Abd. Wahhab Khallaf, Ilm Ushul al-Fiqh, hlm. 111 – 112)

 

Ada juga sebagian ulama yang membagi sunah dalam dua macam saja, yaitu muakad dan ghair muakad.

Muakkad artinya sunah yang menjadi rutinitas Nabi,tidak pernah ditinggalkan, kecuali satu-dua kali sebagai isyarat bahwa hal itu bukan merupakan kewajiban. Ghair muakad artinya sunah yang tidak menjadi rutinitas Nabi. [ ]

 

Sumber: buku “ Melangkah Ke Surga Dengan Shalat Sunat “ karya Dr.Aam Amiruddin, M.Si

 

5

Red: iman

Editor: admin

890