Saat Sakit, Langsung Ingat Dokter atau Allah ?

0
888

PERCIKANIMAN.ID – – Sakit adalah kondisi yang normal dialami oleh manusia. Menurut para ahli kesehatan, sakit sendiri adalah gejala atau kondisi metabolisme tubuh sedang atau dalam keadaan yang tidak normal dari biasanya sehingga metabolisme dalam tubuh tidak berjalan sesuai dengan fungsinya secara maksimal.

Semua orang bisa dipastikan pernah mengalami sakit baik ringan maupun berat. Namun lamanya sakit hingga akhir dari sakit itu sendiri tiap orang mengalami perbedaan. Ada yang sehat kembali namun tak sedikit yang menjadi jalan menuju alam kebadian yakni dipanggil yang Maha Kuasa.

iklan

Demikian juga dengan respon orang yang mengalami sakit. Ada yang menerima dengan sabar dengan ikhtiar namun ada yang putus dengan menganggap sebagai hukuman dari Allah Swt sebagai sebuah takdir buruk yang terpaksa diterima.

Sementara berkaitan dengan ikhtiar sebagai usaha untuk sehat kembali,sebagian orang akan segera mengingat dokter dan obat sebagai reaksi awal ketika merasa sakit.

Namun sebagai seorang yang beriman maka ketika kita tertimpa sakit, hendaknya yang pertama kali terbetik dalam hati dan benak kita adalah segera ingat dan kembali kepada Allah Swt.

Bukankah Allah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, menghilangkan kesusahan, dan menjadikanmu (manusia) sebagai khalifah bumi? Apakah selain Allah ada tuhan lain? Sedikit sekali nikmat Allah yang kamu ingat”.  [QS. An Naml: 62]

Ingat kepada Allah dalam hal ini maksudnya segera meyakini bahwa manusia adalah makhluk-Nya yang lemah, tanpa daya dan kekuatan apa pun tanpa kekuatan dari-Nya. Kemudian menyakini bahwa sakit tersebut datangnya dari Allah dan sembuh pun karena Allah pula.

Namun demikian ketika sakit tidak juga bersikap hanya sekedar ingat kepada Allah dengan kepasrahan tanpa ada ikhtiar untuk sembuh dan sehat kembali. Ini semua bukan berarti tidak boleh sama sekali meminta pendapat kepada orang lain. Karena Allah sendiri juga berfirman yang artinya,

Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam perkara itu.” (QS Ali ‘Imran: 159)

Akan tetapi, mana yang didahulukan, “mengadu” kepada Allah terlebih dahulu, atau segera mendatangi manusia untuk berkeluh kesah?. Sebagai orang yang beriman tentu langkah pertama ketika sakit adalah ingat kepada Allah sebagai pemilik jiwa dan raga kita. Beristighfar dan berdoa mohon kesembuhan atas sakit yang kita rasakan.

Sebagian orang ada yang menganggap remeh akan kekuatan sebuah doa. Orang yang berdoa dianggap lemah dan pasrah dengan menerima keadaan serta menyerah. Padahal doa adalah kekuatan dan senjata orang beriman. Sesungguhnya seluruh makhluk itu lemah, kecuali orang yang mau berdoa. Bahkan benda-benda mati pun berdoa dan berdzikir, sebagaiman pernyataan Allah dalam surat Al Isra’ ayat 44.

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti cara tasbih mereka. Sungguh, Allah Maha Penyantun, Maha Pengampun (QS.Al Isra’:44)

Doa adalah salah satu ibadah yang tidak boleh kita tinggalkan sebagai sebuah pengakuan diri bahwa manusia adalah makhluk lemah dan tidak ada daya upaya tanpa kekuatan dari Allah. Selain itu Allah sendiri telah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk senantiasa berdoa:

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan doamu. Sesungguhnya, orang-orang sombong yang tidak mau menyembah-Ku akan masuk Jahanam dalam keadaan terhina.” (QS:Ghafir: 60)

Siapa yang tidak meminta kepada Allah, Dia akan murka kepadanya” [Riwayat At Tirmidzi dan Al Hakim, dari hadits Abu Hurairah]

Berdasar surat Ali ‘Imran ayat 159 dimana kita diperintahkan untuk bermusyawarah,maka langkah berikutnya setelah berdoa tentu saja berikhtiar mencari obat atau penawaran untuk kesembuhan atas sakit yang menimpa.

Ikhtiar ini juga bagian dari ibadah sebagai upaya manusiawi. Adalah salah besar jika sakit hanya berhenti diaktivitas doa saja tanpa tanpa mencari kesembuhan. Kita yakini bahwa segala penyakit itu Allah turunkan juga disertai dengan penawarnya. Bisa lihat dari hadits Abu Hurairah ra dari Rasulullah Saw beliau bersabda,

Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit itu obatnya.” (HR. Al-Bukhari)

Sementara dari Jabir radhiallahu ‘anhu membawakan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Setiap penyakit ada obatnya. Maka bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR. Muslim).

Namun yang perlu dipahami dan ketahui meski kita diperintah untuk berobat atau mencari kesembuhan tetapi harus berobat dengan yang halal dan ikhtiar yang sesuai syariat,bukan sekedar sembuh atau bahkan asal sehat meski berobat dengan yang haram.

Hal ini tentu sangat dilarang,karena pada hakekatnya sakit adalah bagian dari cobaan dan ujian dari Allah sehingga tidak mungkin ujian dan cobaan itu di “lawan” dengan sesuatu yang dibenci Allah. Berikutnya adalah dengan bertawakal kepada Allah:

Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah mencintai orang yang bertawakal”. (QS.Ali ‘Imran:159)

Setelah proses ikhtiar ditempuh,sebagai orang yang beriman yang meyakini bahwa segala sesutau yang datang dari Allah adalah baik maka tawakal akan sesudahnya ikhtiar yang maksimal. Kita yakini bahwa sakit adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Senantiasa berdoa,dengan bersabar Allah limpahkan pahala dan sakitnya menjadi penggugur dosa. Wallahu’alam. [ ]

5

Red: iman

Editor: admin

902