Bacaan Imam Terlalu Panjang, Bolehkah Makmum Memisahkan Diri ?

0
207
Muslim Brazil

PERCIKANIMAN.ID – – Assalamu’alaykum. Pak Aam, suatu saat saya shalat berjamaah di suatu masjid yang dekat dengan praktek dokter.  Saat itu saya sedang antri di dokter tersebut , karena saya khawatir antrian saya terlewat oleh pasien yang lain sehingga saya memisahkan diri dari shalat berjamaah karena imamnya membaca suratnya sangat panjang. Saya menjadi tidak konsen dalam shalat karena imamnya terlalu panjang membaca surat sementara saya ada keperluan dengan dokter. Pertanyaannya apakah tindakan saya memisahkan diri dari berjamaah itu diperbolehkan? Mohon penjelasan. Terima kasih ( Dony via  fb )

 

iklan

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Coba kita simak kisah pada jaman Rasulullah SAW pernah ada kasus yang mirip seperti yang Anda alami, dimana ada seorang sahabat bernama Jabir bin Abdullah, dia ikut shalat Isa berjamaah yang diimami oleh sahabat Mu’adz.

Sebuah hadits riwayat Imam Bukhari menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah memperingatkan Muadz bin Jabal karena terlalu panjang membaca Al-Qur’an.

حَدَّثَنَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَأْتِي قَوْمَهُ فَيُصَلِّي بِهِمْ الصَّلَاةَ فَقَرَأَ بِهِمْ الْبَقَرَةَ قَالَ فَتَجَوَّزَ رَجُلٌ فَصَلَّى صَلَاةً خَفِيفَةً فَبَلَغَ ذَلِكَ مُعَاذًا فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ فَبَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَوْمٌ نَعْمَلُ بِأَيْدِينَا وَنَسْقِي بِنَوَاضِحِنَا وَإِنَّ مُعَاذًا صَلَّى بِنَا الْبَارِحَةَ فَقَرَأَ الْبَقَرَةَ فَتَجَوَّزْتُ فَزَعَمَ أَنِّي مُنَافِقٌ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ ثَلَاثًا اقْرَأْ وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَنَحْوَهَا

Telah menceritakan kepada kami (Amr bin Dinar) Jabir bin Abdullah bahwa Mu’adz bin Jabal RA pernah shalat (di belakang) Rasulullah SAW, kemudian dia kembali ke kaumnya untuk mengimami shalat bersama mereka dengan membaca surat Al-Baqarah, Jabir melanjutkan, ‘Maka seorang laki-laki pun keluar (dari shaf) lalu ia shalat dengan shalat yang agak ringan, ternyata hal itu sampai kepada Mu’adz, ia pun berkata, ‘Sesungguhnya dia adalah seorang munafik.’ Ketika ucapan Mu’adz sampai ke laki-laki tersebut, laki-laki itu langsung mendatangi Nabi SAW sambil berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah kaum yang memiliki pekerjaan untuk menyiram ladang, sementara semalam Mu’adz shalat mengimami kami dengan membaca surat Al-Baqarah, hingga saya keluar dari shaf, lalu dia mengiraku seorang munafik.’ Nabi SAW bersabda, “Wahai Mu’adz, apakah kamu hendak membuat fitnah?’ Beliau mengucapkannya tiga kali. ‘Bacalah Was syamsi wadhuāhā dan wasabbihisma rabbikal a’la atau yang serupa dengannya,” ( HR.Bukhari ).

Salah satu ijtihad Imam Bukhari dalam hadits tersebut adalah memperbolehkan makmum untuk keluar dari jamaah ketika imam membaca surat yang terlalu panjang. Imam Al-Bukhari memberikan tarjamatul bab dari hadits tersebut dengan “Bab man sakā amamahu idza tūla” Bab seseorang yang mengadukan imamnya karena bacaan panjang.

Imam Ibnu Huzaimah juga memasukkan hadits tersebut dalam bab “rukhsah fi khurujil ma’mūm min ṣhalātil Imām”  atau bab keringanan bagi makmum yang keluar dari shalat jamaah bersama imam. Artinya, diperbolehkan bagi makmum untuk meninggalkan jamaah jika imam membaca surat yang terlalu panjang, bahkan termasuk rukhsah (keringanan).

Jadi yang ditegur oleh Rasul bukan yang memisahkan diri, yang ditegur oleh Rasululloh adalah imamnya. Mu’adz apakah kamu akan menimbulkan kesulitan Idza amantannaas kalau kamu menjadi imam faqro bisayaamsi wadhuhaaha wasab khis marobbikal mal a’la waqro bismirobbik wallaili idza yaghsayaa kata Rasul Mu’adz apa kamu akan menyulitkan orang koq kamu membaca surat yang panjang-panjang, bacalah yang pendek-pendek saja.

Rasul justru menegur imam yang bacaannya panjang sampai makmum itu gelisah. Hadits ini ada dalam Muttafaqun ‘alaih. Kesimpulannya boleh saja memisahkan diri dari berjamaah kalau ada alasan yang dibenarkan. Hal ini juga menjadi peringatan dari kita kalau menjadi imam jangan menyulitkan makmum.

Merujuk kepada hadits yang diriwayatkan oleh Buchori Muslim juga Abu Hurairoh, Abu Hurairoh pernah berkata ana nabiyya sholallohu alaihi wassalama qola sesungguhnya Nabi SAW bersabda idza amma ahaddukumunnas fal yuchofif  apabila salah seorang diantara kamu mengimami shalat maka ringankanlah makmum fa inna fii himusayaoghiiru wal kabiiru wadzo’iifu sesungguhnya diantara makmum itu ada anak-anak, ada yang sudah udzur ada yang sudah sepuh wa dzal haajjah dan boleh jadi ada yang punya keperluan fa idza sholla wahdahu fal yushoolli kaifa sayaa’a tapi kalau dia shalat sendirian, silahkan sholat dengan bacaan surat sesukanya mau Al Quran 30 juz juga boleh.

Ini menjadi catatan bagi para imam untuk meringankan bacaan, mengambil surat-surat yang pendek sehingga makmum tidak merasa berat. Jadi apa yang Anda lakukan tidak menyalahi imam dan shalat Anda tetap sah. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab. [ ]

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 08112202496 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

buku doa

5

Red: admin

Editor: iman

974

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini