Suami Kena PHK dan Tidak Memberi Nafkah, Bolehkah Istri Bekerja?

0
280
Dalam kondisi tertentu kadang seorang istri dituntut bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – – Assalamu’alaykum. Pak Ustadz mohon maaf bertanya. Sejak dua bulan lalu suami kena PHK karena perusahaannya terdampak wabah Corona. Sejak menikah saya sendiri memutuskan keluar dari pekerjaan. Beberapa hari lalu perusahaan lama saya menawari untuk bekerja lagi. Bagaimana hukum suami yang tidak bekerja dan tidak memberi nafkah? Bagaimana hukum istri bekerja diluar rumah? Apakah hal tersebut juga bisa disebut sebagai pengabaian tanggung jawab saya dalam menidik anak-anak di rumah dan melayani suami? Mohon nasihat dan penjelasannya ( Soraya –via fb )

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Pada prinsipnya sesuai dengan syariat Islam bahwa memberi nafkah atau kewajiban suami adalah memenuhi nafkah keluarganya, istri dan anak-anaknya. Ayatnya sangat jelas sebagaimana yang difirmankan Allah Swt dalam Al Quran,

iklan

(233)……وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ…

“Kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian (nafkah) kepada para istri dengan cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah : 233)

Ini ketentuan umumnya dalam syariat Islam tentang kewajiban suami memberi nafkah. Menjawab pertanyaan Anda yang pertama, bagaimana hukumnya suami tidak bekerja dan tidak memberi nafkah? Kalau merujuk pada ayat tersebut maka suami berdosa, apabila suami sehat jasmani dan rohani dengan sengaja tidak memberi nafkah maka jelas ia berdosa.

Kecuali suami tidak sehat jasmani dan rohaninya sehingga ia terhalang atau terhambat untuk bisa bekerja, misalnya suami akalnya kurang sehat atau suami sakit menahun sehingga tidak mampun atau tidak bisa bekerja maka yang demikian itu tidak berdosa.

Bagaimana kalau kena PHK? Selama ia masih ada niat dan tekad untuk bekerja dan memberi nafkah keluarga maka insya Allah suami tidak berdosa.Toh, dia tidak bekerja dan tidak memberi nafkah itu bukan karena kesengajaan atau keinginan tetapi karena keadaan yang sifatnya darurat sehingga suami belum bekerja dan belum bisa memberi nafkah.

Tetapi seorang suami harus terus berusaha dan bertekad untuk bisa mendapatkan pekerjaan dan kembali memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Coba ingat pesan Rasulullah Saw dalam sebuah hadits beliau bersabda,

Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan   shalat. ‘ Lalu para sahabat pun bertanya,” Apa yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?”. Kemudian Rasul menjawab,” bersusah payah dalam mencari nafkah”. ( HR.Bukhari)

Jadi ini harus menjadi motivasi bagi para suami atau ayah bahwa bekerja hingga bersusah payah menjemput rezeki Allah itu bagian dari ibadah dan sebagai penggugur dosa. Untuk itu suami tidak boleh bermalas-malasan atau menganggur tidak bekerja.

Pertanyaan Anda yang kedua, bagaimana hukum istri bekerja? Barangkali pertanyaan ini bisa mewakili sebagian besar para istri yang kebingungan antara memegang idealisme keislaman secara mutlak atau mengikuti realitas yang ada. Dalam pengamatan saya, ada dua bentuk wanita karier. Pertama, wanita karier sebagai pilihan hidup Kedua, wanita karier karena karena terpaksa atau adanya desakan kebutuhan.

Tipe wanita karier pertama (secara prinsip) dibolehkan dalam Islam karena Islam tidak pernah mengebiri hak-hak kaum perempuan untuk meraih mimpinya. Islam mengakui hak-hak gender secara sama namun tetap pada fitrahnya masing-masing dan bukan lantas disama-ratakan dalam segala hal sebagaimana diinginkan sebagian kalangan.

Namun demikian, para wanita karier tersebut harus benar-benar memperhatikan rambu-rambu yang sudah ditetapkan Islam, seperti mengenakan pakaian yang menutup aurat, tidak tabarruj atau memamerkan perhiasan dan kecantikan, tidak melunakkan atau memerdukan atau mendesahkan suara, menjaga pandangan, aman dari fitnah, serta mendapatkan izin dari orangtua atau suaminya.

Jika satu diantaranya dilanggar, maka apapun alasannya, akan menjadi kebaikan jika ia meninggalkan karier demi tetap memegang tali keridhaan Allah. Hendaknya kita menempatkan karier sebagai bagian dari meniti hidup dalam mencari kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Artinya, karier hendaknya dijalani di atas pijakan duniawi dan ukhrawi. Jika yang terjadi malah sebaliknya (akhirat dikorbankan), maka segeralah tinggalkan karier tersebut atas dasar keimanan.

Lain halnya jika memang karier atau pekerjaan dilakukan atas dasar keterpaksaan atau desakan ekonomi yang bila tidak dilakukan akan berakibat fatal terhadap masa depan keluarga sehingga beberapa hal harus dengan terpaksa dikorbankan seperti pendidikan anak.

Dalam batas tertentu, Allah akan tetap memaafkannya. Akan tetapi harus ada ikhtiar untuk keluar dari kondisi tersebut. Satu hal yang perlu diingat bahwa sesuatu yang boleh dilakukan karena terpaksa atau madharat, tidak dibenarkan melebihi batas kewajarannya.

Jika suatu saat ada peluang lain yang lebih maslahat, maka disarankan untuk meninggalkan karier tersebut dengan segera. Perlu diingat pula, jangan pernah mengukur sukses hanya dari kacamata materi saja.

Jadi sekali lagi yang tahu persis kondisi Anda adalah Anda dan suami Anda. Silakan dikomunikasikan dengan suami dengan baik dan bahasa yang lembut. Selama suami belum mendapat pekerjaan lagi, istri boleh bekerja untuk membantu secara financial untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Namun saran saya, suami tetap harus diingatkan dan diberi motivasi untuk bisa bekerja atau berwiraswasta sehingga kewajiban sebagai suami tidak hilang. Jangan sampai suami jadi keenakan dan ketergantungan pada istri yang sudah bekerja. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.Wallahu a’lam bishshawab. [ ]

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

5

Red: iman

Editor: admin

938

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini