Idul Fitri Ditengah Pandemi, Saatnya Lebih Peduli dan Empati Untuk Berbagi

0
77
Idul Fitri ditengah pandemi Covid-19 saatnya lebih peduli untuk berbagi ( Ilustrasi foto: pixabay)

Barangsiapa yang melaksanakan ibadah shaum selama satu bulan penuh dengan penuh keimanan kepada Allah, maka apabila memasuki Idul Fitri dia akan kembali menjadi fitrah seperti bayi (tiflul) dalam rahim ibunya.” (H.R. Bukhari)

 

PERCIKANIMAN.ID – – Menurut hadits tersebut, Idul Fitri diartikan sebagai kembali ke fitrah (awal kejadian). Maksudnya, mulai hari itu dan seterusnya, kita diharapkan kembali pada fitrah. Kembali pada awal kejadian saat semua manusia dalam keadaan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan.

iklan

Idul Fitri tahun ini (1441H/2020) begitu sangat istimewa yakni dirayakan ditengah bangsa dan ummat tengah menghadapi pandemic Covid-19 yang sudah berlangsung sejak sebelum Ramadhan hingga hari ini. Jumlah korban sudah ribuan yang menimbulkan keprihatinan yang mendalam.

Korban itu baik yang terpapar langsung hingga korban meninggal maupun korban tidak langsung yang terdampak khususnya secara ekonomi. Ribuan bahkan jutaan orang kehilangan mata pencaharian, pekerjaan, PHK dan berbagai dampak lainnya.

Ribuan bahkan jutaan orang tidak bisa mudik baik dari segi ongkos yang tidak ada hingga yang sadar mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak mudik ke kampung halaman yang lama dirindukan. Hal ini membuat kita tidak bisa silaturahmi dengan orangtua, saudara, kerabat, teman dan tetangga kampung.

Meski secara fisik tangan tidak saling berjabat, mata tidak saling menatap dan lisan tidak bisa saling kasih selamat namun silaturahmi batin, suara, tulisan bahkan video masih bisa kita lakukan. Tanpa kehadiran fisik kita saling bermaafan dan saling mendokan serta berharap pandemi segera terhenti sehingga bisa lagi bersilaturahmi.

Idul Fitri tahun ini ditengah pandemi saatnya kita mengedepankan empati dan peduli serta jika memungkinkan bisa berbagi. Jika Idul Fitri sebelumnya kita masih boros, dimanja multifasilitas, hidup perlente, serta memperturutkan nafsu duniawi, maka Idul Fitri tahun ini harus dijadikan simbol kemenangan lahir dan batin dalam mengekang hawa nafsu.

Sejatinya, puncak dari kemenangan melawan hawa nafsu selama Ramadhan terletak pada pemaknaan secara integral atas poin-poin penting yang terkandung dalam formula dasar teologis shaum.

Posisi terpenting Idul Fitri adalah merayakan kemenangan melebihi kemenangan sebuah peperangan yang nyata (fisik). Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw., “Kita telah kembali dari jihad sughra (perang kecil) menuju jihad qubra (perang besar).” Para sahabat heran dan bertanya, “Apakah perang yang lebih besar itu, ya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Perang yang paling besar adalah melawan hawa nafsu.” ( HR. Al Baihaqi)

Kita harus ingat bahwa Idul Fitri harus mencerminkan tiga sikap. Pertama, mempertahankan nilai-nilai kesucian yang diraih umat Islam pada hari fitri. Berlalunya momentum shaum hendaknya tidak membuat kita kembali pada kebiasaan dan perilaku lama (sebelum Ramadhan) yang jauh dari perintah Allah dan malah dekat dengan segala larangan-Nya.

Kedua, berharap bahwa Allah Swt. akan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu dan meminta selalu dibimbing agar dijauhkan dari perbuatan dosa pada kemudian hari. Bukankah amat disayangkan bila dosa-dosa yang telah terhapus berkat melaksanakan ibadah shaum dan derivasinya secara bersungguh-sungguh, kembali kita lakukan setelah usai Ramadhan?

Ketiga, hendaknya melakukan evaluasi dan kontemplasi diri apakah ibadah puasa kita sudah sesuai dengan yang diharapkan Allah Swt.? Jangan sampai kita seperti yang disabdakan Nabi Saw., “Banyak sekali orang yang berpuasa, yang puasanya sekadar menahan lapar dan dahaga.” ( HR. Ath Thabrani)

Sekali lagi, Idul Fitri ditengah pandemi ini marilah kita ketuk hati nurani apa yang bisa kita beri dan bagi? Berilah kebahagiakan bagi saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan. Bagilah semangat, harapan dan ragam motivasi untuk esok yang lebih baik lagi.

Akhirnya, penulis mengajak agar kita bersama-sama kembali pada kefitrahan diri dan spiritual. Bukan bermaksud untuk menafikan kenikmatan duniawi yang masih bisa kita rasakan, tetapi hendaknya semua itu tidak membuat silau yang pada akhirnya menodai kesucian akidah kita. Semoga, kita akan menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih suci dari satu Idul Fitri ke Idul Fitri selanjutnya.

Taqobbalallahu minna wa minkum. Aamiin. [ ]

5

Red: Iman

Editor: admin

905

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini