Malam Lailatul Qadar Dan Keutamaannya (tafsir surat Al-Qadr bagian 2)

0
132
Lailatul Qadar di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu bulan ( ilustrasi foto: pixabay)

Tafsir Surah Al-Qadr (97) ayat 2-5

Oleh: Dr.Aam Amiruddin,M.Si *

 

PERCIKANIMAN.ID – – Pada penjelasan sebelumnya kita telah mengetahui empat pengertian lailatul qadar. Silakan ambil pendapat mana saja yang menurut Anda paling logis karena masing-masing pendapat didasari alasan-alasan yang kuat. Namun, satu hal yang perlu dicatat bahwa keempat pengertian tersebut sebenarnya saling melengkapi.

iklan

Pengertian-pengertian tersebut menggambarkan betapa agung dan mulianya malam saat diturunkan Al-Qur’an. Allah Swt. melanjutkan firman-Nya,

(2). وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

 “Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”  (QS. Al-Qadr: 2)

Kalimat Maa adraaka biasanya digunakan Al-Qur’an untuk menggambarkan sesuatu yang dahsyat, hebat, bahkan spektakuler. Kalimat Maa adraaka dalam Al-Qur’an diulang hingga tiga belas kali dan semuanya dihubungkan dengan sesuatu yang spektakuler, misalnya masalah kiamat, surga, dan neraka.

Jadi, lailatul qadar itu sangat agung, dahsyat, dan spektakuler karena diawali dengan kalimat, “Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” Allah Swt. menjelaskan mengapa malam diturunkannya Al- Qur’an disebut malam kemuliaan.

(3). لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Kalimat lebih baik daripada seribu bulan mengandung dua pengertian.

Pertama, diartikan secara harfiah, apa adanya, tidak perlu tafsir apapun. Jadi, mereka mengartikan seribu secara definitif, angka 1000.

Kedua, ada juga ahli tafsir yang berpendapat bahwa makna seri¬bu bulan pada ayat itu tidak harfiah, tetapi menunjukkan sesuatu yang sangat banyak, bahkan tak terhingga. Hal ini diungkap dalam ayat lain, ketika Allah Swt. menggambarkan lamunan atau khayalan orang-orang kafir dengan ungkapan

“…Mereka ingin diberi umur seribu tahun…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 96). Kata seribu di sini menunjukkan bahwa mereka ingin hidup abadi.

Jadi, menurut pendapat ini, tingkatan keutamaan lailatul qadar tidak bisa dihitung dengan angka. Atas dasar ini, maka lailatul qadar adalah lebih utama dari sepanjang masa.

Keutamaan lailatul qadar bukan sekadar itu, tapi pada malam tersebut turun pula malaikat Jibril dan para malaikat lainnya ke bumi sehingga bumi menjadi penuh sesak.

(4). تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

(5). سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Pada malam, itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 4 -5)

Sesungguhnya, tidak ada penjelasan yang rinci malaikat-malaikat apa saja yang turun ke bumi pada lailatul qadar. Yang dipastikan namanya hanya satu, yaitu malaikat Jibril seperti diungkap secara eksplisit dalam ayat ini.

Kalau seseorang bisa mendapatkan lailatul qadar, orang terse¬but akan merasakan semakin kuat dorongan dalam jiwanya untuk melakukan kebajikan-kebajikan pada sisa hidupnya sehingga dia akan merasakan kedamaian hidup.

Kesimpulan ini merujuk pada isyarat bahwa pada lailatul qadar banyak malaikat yang turun ke bumi hingga menjadikan energi bagi hamba yang mendapatkannya untuk melakukan berbagai kebaikan sepanjang hidupnya.

Bertolak dari analisis tersebut, bisa disimpulkan bahwa lailatul qadar hanya terjadi pada bulan Ramadan. Persoalannya, pada malam ke berapa lailatul qadar itu terjadi? Tidak ada seorang pun yang tahu karena Nabi Muhammad Saw. tidak menjelaskannya secara detail.

Beliau hanya mengisyaratkan bahwa kemungkinan besar lailatul qadar terjadi pada sepuluh hari terakhir pada setiap bulan Ramadan. Oleh karena itu, beliau lebih meningkatkan amal saleh bahkan mengisinya dengan iktikaf. Iktikaf artinya berdiam diri di masjid dengan niat ibadah kepada Allah Swt.

Aisyah r.a. berkata, “Apabila telah masuk sepuluh hari yang terakhir pada bulan Ramadan, Rasulullah selalu mengisi malam dengan ibadah dan membangunkan keluarganya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain dari Ibnu Umar r.a. berkata, “Rasulullah Saw. selalu beriktikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Aisyah r.a. berkata, “Disunahkan bagi yang beriktikaf untuk tidak menjenguk orang yang sakit, tidak melawat jenazah, tidak berhubungan intim, dan tidak keluar masjid kecuali untuk hajat yang tidak bisa ditinggalkan. Tidak boleh iktikaf kecuali dengan berpuasa dan tidak boleh iktikaf kecuali di dalam masjid jami’.” (H.R. Abu Dawud).

Aisyah r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya aku tahu terjadinya lailatul qadar, apa yang sebaiknya aku baca pada malam itu?” Beliau menjawab, “Bacalah Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Pengampun, maka ampunilah aku).” (H.R. Imam yang lima kecuali Abu Dawud dan hadis ini dinilai sahih oleh Imam Tirmizi dan Hakim).

Lakukanlah iktikaf dengan penuh keikhlasan karena orang yang beriktikaf sangat berpeluang besar mendapatkan lailatul qadar.

Namun, kalau tidak memungkinkan, tingkatkanlah amal saleh di mana pun kita berada karena lailatul qadar bukan turun hanya kepada orang-orang yang sedang iktikaf, tetapi pada siapa pun yang beribadah kepada Allah Swt. dengan ikhlas, baik di rumah, pasar, pabrik, atau di mana saja.

Pokoknya kita akan mendapatkan lailatul qadar, asalkan saat terjadinya, kita sedang dalam keadaan dekat dengan Allah.

Semoga Allah Swt. memberi kesempatan pada kita untuk bisa meraih lailatul qadar. Ââmîîn. [ ]

Tafsir Al Hikmah

5

Red: admin

Editor: iman

930

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini