Agar Mendapat Ampunan Allah Di Bulan Ramadhan, Lakukan 4 Hal Ini

0
376
berdoa berdzikir
Ramadhan juga disebut bulan ampunan (maghfirah). ( ilustrasi foto: pixabay)

Tafsir Tematik Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 133-135

Oleh: Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si

 PERCIKANIMAN.ID – – Bulan Ramadhan ini Allah Swt memberikan ampunan ( maghfirah) kepada hamba-Nya yang bertaubat. Untuk itu momen Ramadhan yang penuh ampunan ini tidak boleh kita lewatkan. Dalam Al Quran Allah Swt berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ * وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٣٥)

iklan

“Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan dapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa, yaitu orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau men-zalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa mereka. Siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu dengan penuh kesadaran.” ( QS. Ali Imran: 133 – 135)

Ayat ke-133 sampai 135 surat Āli ‘Imrān tersebut merupakan rangkaian dari prasyarat menuju kebahagiaan hidup dunia dan akhirat dalam bingkai ridho Allah Swt. Jika kita membuka ayat sebelumnya (130-132), Allah mengemukakan bahwa prasarat pertama menuju kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat adalah meninggalkan segala hal menyangkut perkara riba.

Karena, riba merupakan sistem tata kelola ekonomi yang sarat dengan ketidak-berimbangan antara para pihak yang terlibat sehingga sangat mungkin – dan bahkan telah dibuktikan – akan merugikan salah satu atau beberapa pihak hingga berujung pada hancurnya kebaikan yang hendak dicapai dari transaksi tersebut.

Prasarat pertama dan utama ini kemudian diikuti dengan peringatan keras dari Allah Swt. dalam bentuk siksa api neraka sebagai akibat dari sistem riba yang dianut. Na’udzubillah! Untuk sementara, mari kita simpan perbedaan fikih terkait definisi atau kategori riba. Marilah kita berusaha semaksimal mungkin agar terhindar darinya (riba).

Jika realitas yang ada memaksa kita masuk dalam sistem riba, marilah kita mohonkan ampun yang sebesar-besarnya kepada Allah untuk kemudian melangkah menuju perintah Allah selanjutnya agar keridhon-Nya melimpah dalam wujud kebahagiaan hidup dunia dan akhirat sesuai dengan firman Allah,

“Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan dapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa.”

Manusia diciptakan oleh Allah Swt. sebagai makhluk dengan potensi benar dan salah secara berimbang. Dalam realitasnya, potensi salah kadang mendominasi kehidupan manusia. Dalam pernyataan sangat sederhananya, lebih banyak manusia yang berlumur dosa ketimbang bermandikan kebajikan.

Tetapi, Allah telah menyediakan solusinya sebagai penyeimbang, yaitu magfirah (ampunan) Allah. Berdasarkan ayat tersebut, magfirah menjadi jalan mulus menuju surganya-Nya yang seluas langit dan bumi. Sebagian mufasir menyatakan bahwa luas surga yang seluas langit dan bumi menunjukkan hamparan laksana permadani untuk menggambarkan keindahan surga yang tiada tara.

Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya Raja Heraklius tatkala beliau mengajaknya menuju surga seluas langit dan bumi. Dengan rasionya, Heraklius bertanya, “Jika surga itu seluas langit dan bumi, lantas di manakah neraka berada?” Rasulullah menjawab dengan cerdasnya dengan balik bertanya, “Maha Suci Allah, dimanakah siang jika malam telah tiba?”

Rupanya Heraklius telah terjebak oleh pemikiran sempitnya. Jika Allah berkuasa menciptakan segala sesuatu seluas apa pun, surga yang seluas langit dan bumi tidak serta merta menghabiskan tempat untuk neraka.

Maghfirah Allah yang berbalas surga disediakan untuk orang yang bertakwa. Ini berarti kunci awal meraih surga adalah takwa. Ayat berikutnya berbicara bagaimana karakteristik orang yang bertakwa yang berhak mendapat imbalan surga.

  1. Menginfakkan Harta di Kala Lapang Maupun Sempit

“yaitu orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit”

Penghuni surga menunaikan apa saja yang diperintahkan untuk diinfakkan seperti zakat, sedekah, dan tidak lupa pula nafkah bagi keluarga mereka. Bukan hanya di waktu lapang (banyak harta), namun ketika mereka ditimpa dengan kesempitan, mereka tetap harus berinfak. Memberi tidak melulu soal materi.

Memberi adalah masalah hati.  Bagi yang berhati kaya, memberi sangatlah mudah dilakukan, meskipun dirinya masih sangat memerlukan harta. Sebaliknya, bagi yang bermental miskin, kekayaan sebesar apa pun hanya akan membuatnya merasa semakin miskin. Dan, jika orang-orang kaya tingkat dunia percaya dan membuktikan bahwa memberi merupakan cara investasi yang tidak pernah rugi, maka bagi yang modalnya terbatas silahkan berinvestasi dengan cara ini.

  1. Menahan Amarah

“serta orang-orang yang menahan amarahnya”

Mengendalikan marah menunjukkan kualitas kecerdasan emosional yang menurut sebagian ahli ikut menentukan kesuksesan seseeorang. Seorang ahli bernama Daniel Goleman (1995) menetapkan bahwa kesuksesan 80% ditentukan oleh EQ. Dan, Al-Qur’an sudah sejak lama mengisyaratkan hal itu, salah satunya dengan perintah untuk mengendalikan marah. Rasulullah Saw. juga telah mengajarkan dan mencontohkan pentingnya kecerdasan emosional.

Rasulullah merasa tidak perlu marah ketika seorang Yahudi tua meludahinya karena tahu dakwah secara lembut lebih efektif bagi Yahudi tua itu. Sukses iman dan takwa diukur dari kemarahan karena kemarahan bisa menghilangkan objektifitas yang bisa menghancurkan sendi-sendi kehidupan, memutus tali silaturahmi, mengurai simpul ikatan ukhuwah, dan sebagainya.

  1. Menjadi Pemaaf

dan memaafkan kesalahan orang lain

Memaafkan adalah meniadakan reaksi atau tindakan untuk membalas seseorang yang berlaku salah atau zolim. Bagi banyak orang, memaafkan dianggap kelemahan, ketakutan, dan menguntungkan orang lain. Padahal, memaafkan itu justru menyelamatkan diri sendiri dan tidak membiarkan luka yang dibuat orang lain terus menerus menggerogoti hati.

Sebaliknya, membenci dan mendendam merupakan cikal bakal yang akan menghambat kesuksesan meraih ridho Allah dan sukses dalam hal lainnya. Bagaimana tidak, pendendam akan menggunakan seluruh pikiran dan emosinya untuk mengikuti dendam dari rasa sakit hatinya, bukan fokus pada perbaikan hidup. Orang yang tidak bisa memaafkan dan tetap dendam ibarat meminum racun tetapi menyuruh orang lain (orang yang membuatnya dendam) mati. Sungguh perbuatan yang sia-sia.

  1. Senantiasa beristighfar dan bertobat sedari menyadari kesalahan

“Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau men-zalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa mereka. Siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu dengan penuh kesadaran.”

Inilah karakteristik penduduk surga. Bila melakukan dosa, dia lantas mengingat Rabb-nya dan segera meminta ampun. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan bahwa terus-menerus melakukan dosa padahal dia tahu bahwa itu adalah perbuatan dosa akan menyebabkan dosa kecil menjadi besar. Oleh karena, itu jangan anggap enteng dosa kecil, apalagi bila terus menerus dikerjakan

Marilah bersama-sama berusaha meraih ridho Allah dengan semaksimal kemampuan dan kesempatan yang ada. Perlu untuk kita ketahui bersama, manakala Allah menyenangi seorang hambakarena ketakwaannya, maka seisi alam raya (termasuk manusia di sekitarnya) akan menyenanginya.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk meraih yang menjadi petunjuk dari tiga ayat surah Āli ‘Imrān tersebut. Semoga Ramadhan ini kita memperoleh ampunan Allah. Aamiin. Wallahu a’lam bishshawab.[ ]

Tafsir Al Hikmah

5

Red: admin

Editor: iman

906