Shalat Idul Fitri Di Jawa Barat, Ridwan Kamil: Tunggu Hasil Evaluasi Pemerintah

0
99
Pelaksanaan shalat Idul Fitri 2020 di lapang atau rumah masih menunggu hasil kajian dan evaluasi pemerintah. ( ilustrasi foto: tribunnews)

PERCIKANIMAN.ID – – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil meminta masyarakat tak salah menafsirkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) soal shalat Idul Fitri saat Pandemi Covid-19.

Pernyataan dari pria yang akrab disapa Kang Emil ini, karena ada sejumlah masyarakat di Jawa Barat yang sudah membuat jadwal pelaksanaan salat Idul fitri berdasarkan fatwa MUI.

iklan

Ia menjelaskan, dalam fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020 itu, dijelaskan ketentuan pelaksanaan salat Idul fitri di rumah atau di tanah lapang. Bagi wilayah yang masih darurat Covid-19, maka pelaksanaan salat Idul fitri dilakukan di rumah.

Sementara, bagi wilayah yang sudah terkendali dari Covid-19, bisa melaksanakan salat Idul fitri di luar rumah, sesuai protokol kesehatan. Namun, pemerintah akan menentukan soal ketentuan pelaksanaan salat Idul fitri di tengah pandemi virus corona ini pada pekan depan.

“Fatwa MUI kan dua, kepada daerah yang masih darurat, itu salat Idul fitri di rumah. Kepada daerah yang terkendali, itu ada kesempatan untuk melaksanakan salat di luar tapi berjarak. Di manakah yang boleh dan tidak, itu diputuskan minggu depan,” ujar Ridwan Kamil di FMIPA UNPAD, Kota Bandung, Kamis (14/5/2020), dikutip dari YouTube Kompas TV.

Emil  menegaskan, ketentuan pelaksanaan salat Idul fitri akan dilakukan sesuai evaluasi dari pemerintah. Bagi daerah yang masih dalam zona merah Covid-19, pelaksanaan salat Idul fitri harus dilakukan di rumah.

“Bisa saja melalui evaluasi, ‘enggak bisa nih level 4 masih kira-kira begitu’, maka salat Idul fitri 100 persen di rumah. Atau turun ke level 3. Kalau level 3 juga masih belum boleh, kegiatan yang kerumunan-kerumunan.Yang boleh itu kalau kita masuk ke level 2, yaitu kegiatan kembali 100 persen, tapi dengan protokol,” terangnya.

Sehingga sambungnya, masyarakat harus menunggu pengumuman pemerintah berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Kalau ada yang menerjemahkan (fatwa MUI), saya mohon tunggu daerahnya itu boleh atau tidak boleh. Jangan menafsir sendiri ‘kayaknya boleh’, belum tentu. Pemerintah yang menentukan kelurahan atau kecamatan mana yang boleh atau tidak boleh,” imbuh Ridwan Kamil.

 

Fatwa MUI Soal Pelaksanaan Shalat Idul Fitri

Jika umat Islam berada di kawasan Covid-19 yang sudah terkendali pada saat 1 Syawal 1441 H, yang ditandai dengan angka penularan menunjukkan kecenderungan menurun dan kebijakan pelonggaran kegiatan sosial yang memungkinkan terjadinya kerumunan berdasarkan ahli yang kredibel dan amanah, maka shalat idul fitri dilaksanakan dengan cara berjemaah di tanah lapang, masjid, musala, atau tempat lain.

Jika umat Islam berada di kawasan terkendali atau kawasan yang bebas Covid-19 dan diyakini tidak terdapat penularan (seperti di kawasan pedesaan atau perumahan terbatas yang homogen, tidak ada yang terkena Covid-19, dan tidak ada keluar masuk orang), shalat Idul fitri dapat dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah lapang, masjid, musala, atau tempat lain.

Salat Idul fitri boleh dilaksanakan di rumah dengan berjamaah bersama anggota keluarga, terutama jika berada di kawasan penyebaran Covid-19 yang belum terkendali.

Pelaksanaan shalat Idul fitri, harus tetap melaksanakan protokol kesehatan dan mencegah terjadinya potensi penularan virus corona. Salat Idul fitri hukumnya sunnah muakkadah yang menjadi salah satu syi’ar keagamaan.

Salat Idul fitri disunnahkan bagi setiap muslim; baik laki laki maupun perempuan, merdeka maupun hamba sahaya, dewasa maupun anak-anak, sedang di kediaman maupun sedang bepergian (musafir), secara berjamaah maupun secara sendiri. [ ]

Sumber: tribunnews.com

5

Red: admin

Editor: iman

947

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini