Bermesraan Dengan Istri Saat Puasa Ramadhan? Ini Rambu dan Ketentuannya

0
162
Puasa Ramadhan itu bukan sekedar menahan lapar dan dahaga saja. ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID – –  Assalamu’alaykum. Pak Aam, mohon maaf jika pertanyaan kurang sopan. Apakah batasan dilarangnya bermesraan antara suami dan istri pada siang hari di bulan Ramadhan? Apakah memeluk dan membelai istri dikatagorikan sebagai perbuatan yang tidk diperbolehkan ketika shaum Ramadhan? Lalu, apa pula yang harus dilakukan suami dan istri ketika tengah bermesraan di siang hari bulan Ramadhan lantas suaminya keluar madzi (atau bahkan sperma)? Mohon nasihat dan penjelasannya. ( H via fb )

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah, sebelumnya mari kita perhatikan dua hadits berikut :

iklan

Dari Aisyah radhialahu anha, dia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam mencium dan bercumbu (dengan isterinya) saat beliau berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan syahwatnya di antara kalian.” ( Muttafaq Alaih )

Kemudian dalam hadits yang lain Rasul juga menjelaskan,

Dari Amr bin Salamah, dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Apakah orang berpuasa boleh mencium?” Maka Rasulullah shalllallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tanyalah kepada dia (maksudnya Ummu Salamah)”. Lalu Ummu Salamah memberitahukannya, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam berbuat seperti itu (mencium saat berpuasa).” ( HR. Muslim )

Berdasarkan dua hadits di atas, mencium diperbolehkan ketika berpuasa. Ciuman boleh jadi merupakan bagian dari pemanasan ( muqaddimah ) jima’. Dengan demikian, semua yang masuk dalam kategori pembuka/pemanasan jima’ tidak dilarang dengan sarat tidak memancing hasrat biologis apalagi melibatkan mulut ( lidah dan gigi ) yang memungkinkan ada sesuatu yang masuk ke dalam tenggorokan.

Bagi sebagian yang memiliki hasrat biologis cukup tinggi, sehingga sering kali keluar cairan yang disebut madzi ketika ada rangsangan, sebaiknya menghindari kemesraan saat berpuasa. Meski tidak masalah dengan saumnya jika akhirnya madzi itu keluar.

Namun para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi keluarnya mani akibat bermesraan di tengah bulan Ramadhan yang disebabkan selain karena jima’. Sebagian ulama memandang  bahwa saumnya batal. Sementara sebagian yang lain tidak. Sementara itu, saya melihat bahwa jima’ yang dimaksud membatalkan saum itu adalah bertemunya dua alat kelamin meski boleh jadi tidak mengeluarkan mani.

Dengan demikian, bermesraan di tengah melaksanakan saum Ramadhan sampai keluar mani tidak membatalkan saumnya, hanya saumnya sangat mungkin bisa menjadi rusak akibat tidak berhati-hati dalam menjaga hal-hal yang bisa mendekatkan pada batalnya saum. Selain juga dapat merusak pahala saum.

Sebab kalau sampai seseorang melakukan hubungan suami istri di siang hari bulan Ramadhan, selain batal saumnya juga berat tebusan atau gantinya. Dalam haditsnya Rasul menjelasan tebusan bagi orang yang melakukan hubungan suami istri di siang hari bulan Ramadhan maka ia wajib memerdekakan seorang budak. Jika tidak sanggup maka ia  wajib berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak sanggup juga maka ia wajib memberi makan kepada 60 orang miskin.

Lalu kapan suami istri boleh bermesraan bahkan berhubungan intim? Coba simak penjelasan Al Quran yang sangat detail dan mudah dipahami,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Dihalalkan bercampur dengan istrimu pada malam hari di bulan puasa. Mereka adalah pakaianmu dan kamu pakaian mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karena itu, Allah mengampuni dan memaafkanmu. Sekarang, campuri mereka dan cari apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakan puasa sampai datang malam. Namun, janganlah kamu campuri mereka ketika kamu beriktikaf di dalam masjid. Itu ketentuan Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Demikian Allah me¬nerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.” ( QS.Al Baqarah: 187)

Jadi Anda dihalalkan atau diperbolehkan berhungan intim di malam hari di bulan Ramadhan dari selesai Magrib hingga sebelum Subuh. Namun tidak boleh berhungan suami istri ketika sedang itikaf di masjid. Malam hari di bulan Ramadhan juga boleh makan dan minum hingga sebelum Subuh.

Demikian sangat jelasnya Allah memberikan panduan ibadah kepada kita. Allah Maha Tahu kebutuhan hamba-Nya baik lahir maupun batin. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

5

Red: admin

Editor: iman

974

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini