Puasa dan Perubahan Yang Lebih Baik

0
68
Ibarat kupu-kupu yang indah ia lahir dari proses puasa yang panjang. (ilustrasi foto: pixabay)

Oleh: Ali.K Bakti*

PERCIKANIMAN.ID – – Puasa di bulan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa merupakan ibadah individual sekaligus sosial yang bertujuan untuk membentuk manusia yang lebih baik.

Puasa merupakan ibadah yang vertikal, tidak ada yang berhak memberi penilaian selain Tuhan. Begitu spesialnya orang yang berpuasa, dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa di surga nanti, ada satu pintu yang tidak boleh masuk dari pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa, yakni Babu al-Rayyan.

iklan

Dari ajaran berpuasa di bulan suci Ramadhan tersebut dapat diperoleh hikmah berupa nilai kesalehan dan bagaimana menjadi bagian dari masyarakat yang dilandasi oleh kualitas iman dan takwa.

Ramadhan membentuk diri untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat, senantiasa ikhlas dalam beramal. Hasil terbaik yang diperoleh dari puasa Ramadhan ini adalah ketika memiliki perilaku berpuasa yang bisa diterapkan di luar Ramadhan.

Ibadah puasa juga membentuk jiwa pelakunya menjadi sehat, sabar, memupuk semangat solidaritas yang tinggi antarsesama, disiplin, mampu menahan diri. Bahkan, puasa dapat menjadi terapi mencegah korupsi jika diamalkan dengan sepenuh hati.

Solidaritas untuk peduli dengan saudara kita yang kurang beruntung, anak-anak yatim-piatu, kaum duafa, maka saat inilah momentum yang pas untuk berbagi dengan ikut merasakan penderitaan mereka yang serba kekurangan.

Yang pasti, puasa tidak boleh menjadikan umat Islam lemah, apalagi bermalas-malasan dengan alasan sedang berpuasa. Sekalipun tidurnya orang berpuasa disebutkan ulama dalam sebuah hadis termasuk ibadah, namun bukan berarti tidur orang bermalas-malasan.

Jika mereka beribadah sampai larut malam sehingga siang hari mengantuk, biasanya habis shalat Zuhur banyak yang tertidur di masjid, hal itu sangat mungkin memperoleh pahala. Jadi, bukan karena malam hari begadang, siang hari capek, lelah, dan akhirnya tertidur menunggu waktu berbuka.

Kita berharap puasa di hari pertama berjalan dengan baik dan lancar. Dalam arti, jamaah shalat di masjid meningkat. Hal yang sama pun terus berlangsung hingga pertengahan Ramadhan nanti, bahkan sampai akhir Ramadhan seluruh masjid dan surau (musala) tetap ramai dengan jamaah shalat Tarawih, tadarus, zikir, dan lain-lain. Jangan seperti selama ini, jumlah shalat berjamaah ramai di awal Ramadhan saja, setelah berjalan dua minggu jumlahnya berkurang, dan akhirnya hanya tinggal beberapa saf.

Selain itu, kita juga berharap kepedulian masyarakat, khususnya umat Islam, meningkat dalam hal membantu kaum duafa dengan memberikan sumbangan, infak, zakat, sedekah. Ketahuilah dalam harta yang kita miliki terdapat hak fakir miskin sehingga jangan menganggap harta kita menjadi berkurang, tapi semua amalan baik kita itulah, berupa sedekah dan infak yang nanti menolong kita di yaumil akhir sebagai harta yang sesungguhnya milik kita.

Kalau selama ini pemerintah kurang menaruh perhatian pada nasib rakyat miskin, bukan berarti kita juga ikut-ikutan tidak peduli. Minimal di lingkungan kita dulu kita perhatikan apakah masih ada anak-anak fakir miskin yang telantar kemudian keluarga miskin yang memerlukan bantuan.

Kalau kita sudah peduli terhadap mereka, berarti kita sudah memahami makna puasa di mana pada hakikatnya tidak hanya menahan lapar dan haus untuk diri sendiri, tetapi juga berbagi dengan orang lain, dalam mencari ridho Allah Swt.

Hal yang paling utama dalam berpuasa adalah pembelajaran positif hidup kita. Kata orang bijak, mustahil akan ada kemajuan atau perbaikan hidup tanpa perubahan. Perubahan butuh keberanian diri dan usaha keras.

Kita harus berani mengambil keputusan mengubah pikiran, memantapkan keyakinan, meluruskan dan membenarkan tindakan kita, jangan ragu walau sering menjadi berbeda dengan orang lain.

Ingat, orang yang tak dapat mengubah pikirannya tidak akan bisa mengubah apa-apa. Perubahan yang paling bermakna dalam hidup adalah perubahan sikap. Sikap yang benar akan menghasilkan tindakan dan output yang benar.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda bahwa setiap anak yang dilahirkan ke muka bumi ini berada dalam keadaan fitrah. Maksudnya, anak yang lahir hakikatnya suci. Tidak ada dosa turunan. Dia lahir seperti kain putih tanpa sedikit pun tergores titik noda, apalagi garis-garis hitam. Kesucian itu pulalah yang membuat sang bayi mampu menangkap keindahan dan kebenaran Allah yang Mahajamil.

Berangkat dari makna fitrah tersebut, pesan intinya ibadah puasa yang kita lakukan sejatinya membawa perubahan pada batin kita. Dari kondisi kotor ke kondisi suci. Dari fitrah kehidupan yang menyimpang menuju kehidupan autentik, yaitu kehidupan yang sesuai dengan bingkai syariah. Tegasnya, puasa sejatinya harus membawa perubahan di dalam kehidupan kita. Tentu saja kehidupan yang lebih baik.

Jika kita perhatikan Al-Qur’an, betapa terangnya Allah Swt. menjelaskan bahwa ibadah apa pun bentuknya, disyariatkan untuk membawa perubahan hidup manusia menjadi lebih baik, dalam kehidupan personal ataupun sosial.

Singkatnya, ada kesan kuat Al-Qur’an menegaskan bahwa media perubahan yang paling baik dan efektif adalah melalui ibadah. Logika sederhana akan menghantarkan kita pada sebuah kesimpulan pokok, “Semakin taat penduduk suatu bangsa terhadap ajaran agamanya, maka semakin baik dan bermorallah bangsa itu. Semakin beradablah bangsa itu. Semakin santunlah rakyat di negeri itu.”

Oleh karena itu, ritual puasa Ramadhan pada tahun ini akan sangat tepat bila dijadikan sebagai media untuk perubahan moralitas yang dirasakan makin merosot tajam. Suburnya tindakan korupsi, nepotisme, kolusi yang menggiring pada pengayaan segelintir orang dan meningkatnya jumlah masyarakat miskin, pengangguran, kriminalitas, dan kebodohan.

Puasa harusnya mampu membuka mata bangsa ini untuk berani mengatakan merah itu merah, putih itu putih, harus berani memutuskan yang salah itu salah dan yang benar itu benar.

Harus bisa menjadi momentum perubahan setidaknya minimal bagi tiap-tiap yang menjalankan ibadah puasa menjadi “kembali bersih” di akhir bulan Ramadhan, menjadi fitri di hari Lebaran dan menjadi lebih baik di kehidupan berikutnya. Aamiin.[ ]

4

Red: admin

Editor: iman

903

*Bagi pembaca yang ingin mengirim tulisan dalam rubrik “Kiriman Pembaca” berisi opini silakan kirim tulisan ke: [email protected]  . Mari berdakwah dan berbagi ilmu lewat tulisan. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan pahala kebaikan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini