Perkokoh Mental Muslimah di Bulan Ramadhan

0
213
Ina Wiyandini selaku pendiri dan pemilik brand "Ina Cookies". ( foto: istimewa)

PERCIKANIMAN.ID – – Menjadi Muslimah di era sekarang merupakan tantangan tersendiri. Tidak cuma harus pandai urusan domestik, Muslimah juga dituntut lebih cerdas. Beberapa kasus korupsi belakangan ini kerap dikaitkan dengan wanita.

Simak saja dalam berbagai kasus korupsi yang menyeret sederet wanita-wanita di Indonesia. Banyak yang bilang kegiatan macam itu adalah bagian dari money laundry yang dilakukan sang koruptor. Lalu, bagaimana posisi wanita dalam kasus itu? Dan, seperti apa sejatinya seorang Muslimah berperilaku agar tidak “terperosok” ke dalam jurang kemalangan.

iklan

Bagi saya, aspek paling penting adalah persoalan mentalitas dan kualitas iman. Seorang Muslimah dengan mental tangguh tentu tidak mungkin mudah tergiur oleh bujuk rayu setan. Merujuk pada firman Allah dalam Surah As-Sajdah (32) ayat 9, “Lalu, Allah menyempurnakannya dan meniupkan ruh (ciptaan)-Nya ke dalam tubuhnya. Allah pun menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, tetapi sedikit sekali di antaramu yang bersyukur.”

Bahkan, dalam Surah Al-Mulk (67) ayat 23, Allah kembali menegaskan,  “Katakan,‘Allah-lah yang menciptakanmu dan menjadikan untukmu pende­ngaran, penglihatan, dan hati nurani.’ Te­tapi, sedikit sekali kamu bersyukur.”

Sebagai makhluk ciptaan-Nya, kita telah dikarunia beragam anugerah dan nikmat. Akan tetapi, kita kerap lupa bersyukur. Nah, kebanyakan wanita yang terjerembap ke dalam kasus korupsi, khususnya money laundry yang dilakukan para koruptor adalah mereka yang kurang bersyukur.

Karena, bila di hatinya telah dipagari oleh syukur kepada Allah, tentu dia tidak akan mudah termakan bujuk rayu. Pada kasus money laundry ini misalnya, kita melihat bagaimana seorang wanita mudah diperdaya oleh koruptor.

Saya tidak habis pikir, kok kenapa wanita itu dengan mudahnya percaya begitu saja dengan orang lain. Muslimah yang cerdas pastinya akan kritis terhadap sesuatu yang dia terima. Jangankan dari orang lain, dari suami sendiri saja kita harus hati-hati. Maksudnya, bukan tidak memercayai hasil jerih payah suami, tetapi lebih menjaga diri dan keluarga dari hal-hal yang diharamkan.

Misalnya, kita sudah tahu gaji suami sekian, lalu tiba-tiba suatu saat suami memberikan sejumlah uang yang sangat banyak. Tidak ada salahnya kita bertanya, toh komunikasi yang baik juga membantu kelanggengan hubungan.

Kuncinya cuma satu, kita harus takut kepada Allah. Bila kita yakin, di mana pun kita berada, apa pun posisi kita, pasti Allah akan senantiasa memberi yang terbaik. Saya imbau kepada Muslimah Indonesia, mari kita sama-sama perkokoh iman dan rasa syukur.

Bila ada aliran dana yang tidak jelas, apalagi bukan datang dari suami, tolak saja! Ingat, bukankah Allah telah memberikan rezeki yang halal melalui suami kita? Bila kita merasa kurang atau masih belum cukup, coba cek kadar rasa syukur kita atas nikmat Allah. Mungkin saja kita masih belum bersyukur.

Manfaatkan Momen Ramadhan

Bulan Ramadhan tiba, saat yang tepat berbenah diri. Momentum Ramadhan, kerap dijadikan ajang introspeksi dan perubahan diri. Termasuk para Muslimah, tentunya sama-sama mengharapkan yang terbaik selama Ramadhan. Banyak perubahan yang sering kita tetapkan sebagai personal achievement selama bulan tarbiyah ini. Saya menganggap hal itu sebagai pencapaian Ramadhan.

Banyak dari kita yang ingin berubah pasca-Ramadhan, tentunya menjadi lebih baik. Momentum Ramadhan memang sangat tepat. Tak cuma berbenah urusan ibadah dan rohani semata. Akan tetapi, lebih dari itu perubahan yang mampu mendongkrak kearifan sosial dan empati sesama Muslim. Lalu, perubahan seperti apa yang mampu meningkatkan kearifan sosial? Ina menilai, terdapat empat poin penting yang perlu kita perhatikan selepas Ramadhan.

Pertama, kejujuran. Ini adalah prinsip yang paling utama. Puasa mendidik kita untuk senantiasa jujur. Dimulai dari kita belajar untuk jujur pada diri sendiri. Bukankah tidak ada yang tahu bila kita tidak berpuasa? Berbeda dengan ibadah lain, puasa lebih tertutup atau bersifat rahasia.

Bahkan, Rasulullah Saw. bersabda, “Segala amal kebajikan anak Adam itu dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh hingga 700 kali lipat. Allah berfirman, ‘Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku memberikan balasan (pahala) kepadanya, (karena) dia (orang yang berpuasa) telah meniggalkan syahwat dan makan minumnya karena Aku.’” (H.R. Muslim)

Bila orang sudah tidak jujur pada dirinya dan Tuhannya, tentu dia akan sulit diterima oleh masyarakat. Coba kita introspeksi, kenapa kita kerap ditipu oleh orang lain? Jangan-jangan, kita memang orang yang tidak jujur. Bila kita senantiasa jujur, kata Ina, insya Allah tidak akan ada yang berbohong pada kita.

Orangtua yang jujur kepada anak, tentu akan berbalas sikap terbuka dari anak-anaknya. Begitu juga dalam usaha, orang jujur pastilah punya nilai plus. Puasa mengajarkan kita hal itu. Oleh karena itu, kejujuran adalah aspek pertama yang perlu kita pantau pasca-Ramadhan.

Kedua adalah kecerdasan. Puasa mengajari kita cerdas dalam mengelola pola makan, waktu, hingga emosi. Cerdas yang saya maksud di sini adalah cerdas lahir-batin. Tanpa kecerdasan ini, kita akan sulit bersaing. Tak hanya dalam dunia usaha, dalam urusan sehari-hari kita dituntut untuk cerdas.

Ketika menghadapi suatu masalah misalnya, orang yang tidak cerdas akan mudah putus asa dan stres. Kecerdasan banyak ragamnya, mulai dari kecerdasan emosi, spiritual, fisik, hingga intelektual. Semua punya peran masing-masing. Karena itu, Ina memasukkan unsur ini ke dalam daftar personal achievement miliknya selama Ramadhan.

Berikutnya adalah dampak positif kita bagi lingkungan. Nah, inilah yang disebut sebagai pencapaian terbaik selama puasa. Goal utama ternyata tak berhenti pada tahap individu, melainkan aspek sosial.

Bukankah setiap ibadah yang diajarkan Islam dan dicontohkan oleh Rasulullah senantiasa bermuara pada perubahan tataran sosial? Kita melihat bagaimana masyarakat madani mampu menciptakan iklim perubahan yang luar biasa positif.

Bukankah sebaik-baiknya orang adalah mereka yang mampu memberikan dampak positif bagi orang lain? Melalui konsep pembedayaan ini pula kami mampu membangun tim yang solid. Kearifan sosial merupakan modal utama kita untuk lebih bermanfaat di masyarakat.

Manfaat dari hasil latihan selama sebulan penuh akan lebih terasa bila kita saling berbagi kebaikan, bukan? Ramadhan mengajarkan kita untuk senantiasa berempati dan tidak egois.

Terakhir adalah kemampuan menjaga amanah. Betapa banyak nikmat dan karunia yang telah Allah berikan. Semua itu adalah amanah yang harus kita jaga, mulai dari suami, anak-anak, hingga harta benda. Idealnya, kita semakin peka dan bertanggung jawab atas amanah yang diberikan. Momentum Ramadhan bisa kita jadikan ajang latihan untuk semakin disiplin. Ingatlah bahwa segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Jurus Ina Cookies

Tentu saja, pencapaian tersebut adalah idaman kita semua. Lalu, bagaimana cara terbaik agar kita senantiasa istiqamah dalam “program” perubahan diri itu? Tips personal development ini dirangkum menjadi akronim INA COOKIES, sama seperti nama usaha kue milik kami. Sebenernya, Ina Cookies itu singkatan. Ingatlah selalu kepada Allah; Niatkan segala sesuatu untuk ibadah; Amal kebajikan selalu kita perbuat; Cerdas lahir-batin dalam berkerja dan berkarya; Optimalkan segala kemampuan; Optimislah selalu; Komunikasi positif senantiasa diutamakan; Ikhlas dalam setiap kondisi; Empati pada orang lain; dan Sabar.

Rumus ini bisa juga kita pakai selama training di bulan puasa. Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa perubahan yang hakiki sebenarnya bisa dimulai kapan saja. Tidak harus selalu menunggu momentum Ramadhan saja.

Banyak orang yang “mendadak” Islami selama Ramadhan, tapi setelahnya biasa kembali. Tentu hal seperti ini sangat tidak kita harapkan. Keimanan memang naik turun, tapi alangkah baiknya bila kita menjaga agar tetap naik. Jangan sampai turun terus, apalagi musiman.

Agar lebih mudah mengaplikasikan rumus “Ina Cookies”, salah satunya adalah dengan senantiasa menjaga wudhu dan melakukan muhasabah diri. Dengan menjaga wudhu, berarti kita senantiasa menjaga diri dari perbuatan kotor dan tidak berguna.

Selain itu, bila kita punya wudhu, emosi akan lebih mudah dijaga. Betul, lho, bila ada yang suka marah-marah maka wudhu saja, insya Allah marahnya hilang dan saya sudah membuktikannya.

Di penghujung hari, saya selalu menyempatkan untuk melakukan muhasabah diri. Kita lihat dan ingat-ingat kembali amal-amal apa saja yang kita perbuat selama sehari penuh. Apakah banyak kebaikan atau malah keburukan yang mendominasi? Bila sudah melakukan muhasabah, segerelah mohon ampun dan berdoa.

Tentu saja tidak harus menunggu Ramadhan untuk melakukan hal ini. Bahkan, perubahan itu sebenarnya bisa kita lakukan kapan saja asal kita benar-benar niat melakukannya. Jangan tunggu hari esok atau bulan Ramadhan, mulailah perubahan itu sekarang juga! [ ]

4

Red: muslik & iqbal

Editor: iman

842