Setan Dibelenggu Di Bulan Ramadhan, Begini Penjelasannya Ketika Masih Ada Godaan

0
241
Pada bulan Ramadhan setan dibelenggu. ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID— Ramadhan akan datang dalam hitungan jari, tak lama lagi umat muslim di seluruh dunia akan kedatangan bulan yang paling istimewa. Pada bulan ini pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan pun diikat sehingga kita dapat lebih banyak bersamal saleh.

Dalam sebuah haditsnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

iklan

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari, no. 1899 dan Muslim, no. 1079).

Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa yang dimaksud adalah makna secara tekstual dan hakiki. Terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka dan terikatnya setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan, mulianya bulan tersebut dan setan pun terhalang mengganggu orang beriman.

Ini isyarat pula bahwa pahala dan pemaafan dari Allah begitu banyak pada bulan Ramadhan. Tingkah setan dalam menggoda manusia pun berkurang karena mereka bagaikan para tahanan ketika itu. (Fath Al-Bari, 4:114 dan Syarh Shahih Muslim, 7:167)

Namun apabila setan dibelenggu, mengaapa maksiat masih banyak terjadi di bulan Ramadhan? Mengapa masih ada saja manusia yang bermaksiat di bulan Ramadhan?

Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi rahimahullah, begini penjelasannyaa:

  1. Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya.
  2. Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia.
  3. Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu.

Intinya, kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya. Namun apabila kemaksiatan masih berpeluang terjadi di bulan ini, berarti kita dituntut untuk bersabar.

Sebagian ulama berkata, “Sungguh kesabaran dari maksiat lebih besar dari kedua bentuk sabar lainnya; karena godaan keburukan banyak terjadi dalam kemaksiatan.”

Jadi bulan Ramadhan itu adalah bulan kesabaran. Sebagai seorang muslim kita harus bersabar menjaga hawa nafsu, besabar dari kemaksiatan, dan khususnya di tahun ini kita bersabar dari ujian wabah pandemi yang kini sedang menimpa kita.

Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagi maksiat di bulan Ramadhan, dan terus istiqamah dalam beramal saleh.

Sumber: rumaysho.com

3

Red: citra

Editor: admin

922