Kartini dan Emansipasi di Zaman Nabi Saw

0
171
Islam sejak 1400 sudah memajukan dan menyamaan kedudukan antara pria dan wanita. (ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID— Setiap 21 April bagi bangsa Indoensia selalu diperingati sebagai Hari Kartini. Ia adalah seorang wanita ningrat kelahiran Jepara, 21 April 1879. Atas perjuangan selama hidupnya, Kartini dianggap sebagai pahlawan emansipasi wanita di negeri ini.

Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang karangan Kartini yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dalam bahasa Melayu disebutkan bahwa emansipasi yang disuarakan oleh Kartini adalah mengenai kesetaraan bagi kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

iklan

Lalu bagaimana Islam memandang kesetaraan yang disuarakan Kartini sekira 130 tahun yang lalu? Apa yang disuarakan Kartini itu sebetulnya sudah sejak 1400 tahun yang lalu mendapat perhatian dalam Islam.

Islam sebagai ajaran yang sempurna telah mengumumkan dengan lantang tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dimana saat itu kondisi masa jahiliyah sangat merendahkan kaum perempuan. Mereka terbelenggu dan mendapatkan perlakuan yang tidak adil layaknya budak.

Dalam QS Al Hujurat ayat 13,  Allah Swt menyamakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, yang membedakan bukanlah gender, melainkan tingkat ketaqwaan kepada Allah Swt.

“Hai, manusia! Sesungguhnya, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di sisi Allah ialah orang paling bertakwa. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” ( QS. Al Hujurat: 13)

Di masa jahiliyah, perempuan diperlakukan tidak manusiawi. Banyak terjadi anak perempuan dikubur hidup-hidup. Di masa Rasulullah Saw perempuan dihormati dan mendapatkan hak-hak sebagaimana laki-laki.

Maka tidak mengherankan jika Siti Aisyah radliyallahu ‘anha bisa berperan penting dan mewarnai kehidupan masyarakat. Ia banyak meriwayatkan hadits sebagaimana laki-laki.

Ia mampu menghafal dan meriwayatkan hadits tak kurang dari 2.210. Nabi Saw bahkan mendorong perempuan sebagaimana laki-laki untuk mencari ilmu tanpa dibatasi waktu dan tempat.

Selain ada Sayyidah Aisyah, r.a yang berperan penting sebagai wanita pada zaman Rasulullah, ada juga salah satu diantara wanita yang dimuliakan, yaitu Sayyidah Fatimah Az-Zahra putri Rasulullah Saw

Sayyidah Fatimah melambangkan seorang perempuan dengan kepribadian mengagumkan. Kehidupannya dibaktikan kepada keluarganya. Ia begitu dicintai dan dihormati bukan karena apa yang telah diperbuatnya untuk diri sendiri, tapi lantaran usahanya untuk memelihara iman orang-orang di sekelilingnya.

Emansipasi yang disuarakan Kartini sejatinya sudah ada sejak zaman Nabi Saw. Banyak kaum muslimah yang berkarya dan menjadi penyokong peradaban Islam yang jejak dan harus masih terasa hingga saat ini. Hal ini menjadi pelajaran bagi umat muslim bahwa Islam tak pernah merendahkan derajat seorang perempuan.

Islam tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Sejatinya menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, bukan hanya bagi laki-laki, namun juga bagi perempuan. Dalam haditsnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah)

Ini membuktikan bahwa emansipasi dalam Islam lebih mendunia dengan jejak yang nyata hingga sekarang. [ ]

4

Red: citra

Editor: iman

783