Begini Gambaran Saat Sakaratul Maut Menjemput

0
177

PERCIKANIMAN.ID— Kematian adalah suatu hal yang pasti terjadi kepada setiap mahkluk Allah yang bernapas di muka bumi ini. Setiap orang pasti akan merasakan mati, namun tak ada yang mengetahui waktu, tempat, dan sebab kematian seseorang. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita selalu dianjurkan untuk mengingat mati. Dengan demikian kita akan senantiasa menyiapkan kematian karena setiap orang yang beriman pasti ingin wafat dengan khusnul khatimah.

Sesungguhnya sakaratul maut itu amat sangat menyakitkan. Saat kematian dan sakaratul maut menghampiri tentunya kita ingin nyawa kita dicabut dengan lembut. Pedihnya tidak dapat diketahui kecuali oleh orang yang telah merasakannya. Imam Ghazali menjelaskan bagaimana rasanya ketika ajal menjelang dalam kitab Ihya Ulumuddin.

iklan

Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa sakaratul maut hanya akan dialami makhluk yang memiliki ruh. Ruhlah yang sejatinya merasakan kepedihan sakaratul maut. Jika badan seseorang terimpa luka, bekas kepedihan fisik itu akan menjalar sampai ke ruh. Jika ia terbakar, rasa sakit yang dialami badan akan terasa jua oleh ruh.

Saat kepedihan pencabut nyawa menyerang ruh, rasanya akan menenggelamkan semuanya. Ruhlah yang ditarik dari badan. Dicerabut dari tiap urat badan, ditarik perlahan dari urat syaraf, dari sendi-sendi, dari pokok setiap rambut dan kulit dari ujung kepala hingga tapak kaki. Tergambar betapa menyakitkannya.

Sang Imam melanjutkan, akal manusia pada saat itu benar-benar kacau balau. Lisan telah dibisukan, tak sanggup berkata apa-apa tanpa pertolongan Allah SWT. Semua anggota badan telah dilemahkan. Tak ada upaya dan usaha kecuali hanya dari Allah SWT. Persis seperti dzikir yang kita sebut setiap saat.

Jika saja ia mampu berteriak, ia akan berteriak karena rasa sakitnya. Namun, ia tidak sanggup. Jika tersisa kekuatan pada seseorang yang dicabut nyawanya, tentu ia akan mengerahkan semua kekuatan untuk menahan rasa sakit.

Kepedihan itu semakin dalam menuju dua biji mata naik terus ke pelupuk mata. Kedua bibir sudah mengerut seperti asalnya. Anak jemarinya berubah menjadi kehijau-hijauan. Jika satu urat saja ditarik, sakitnya pun akan luar biasa. Apalagi, ruh diangkat dari setiap inci urat tanpa kecuali.

Lalu, setiap anggota badan dari seluruh anggota badan mati secara bertahap. Dinginlah kedua tapak kakinya, lalu ke betisnya, kemudian menjalar ke pahanya. Dari setiap badan, ada anggota yang sekarat tahap demi tahap hingga mencapai kerongkongannya.

Maka, lihatlah Aisyah r.a yang menemani Rasulullah SAW hingga saat-saat terakhirnya. Beliau berkata, “Tidaklah aku iri hari kepada seseorang yang Allah memudahkan atas kematiannya sesudah yang aku lihat dari kesulitan wafatnya Rasulullah SAW.”

Maka, benarlah jika kematian yang tiba-tiba itu sejatinya sebuah kenikmatan. Rasulullah SAW bersabda, “Kematian secara tiba-tiba adalah kesenangan bagi orang mukmin dan penyesalan atas orang yang berbuat maksiat.” (HR Ahmad)

Tidak ada yang lebih baik dibandingkan menyambut kepedihan sakaratul maut dengan terus tegap di atas iman. Kita tak pernah lagi tahu kapankah sakaratul maut itu akan bertamu. Kepedihan apa yang akan menghadap.

Setiap dari kita pun pantas terus berdoa agar detik-detik sakaratul maut kita akan berakhir dengan khusnul khatimah. Sebuah cara yang paling indah untuk memulai perjuampaan dengan Dzat yang menciptakan kita dari tanah lalu memberikan amanah besar untuk mengurus dunia ini.

3

Red: Citra

Editor: admin

922