Setelah Menikah Banyak Perbedaan? Ini Yang Perlu Pasutri Lakukan

0
285
Pentingnya menjalin komunikasi suami istri yang baik. ( ilustrasi foto: pixabay )

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya sudah menikah kurang lebih 5 tahunan dan dikaruniai 2 orang anak. Dulu dimasa perkenalan dan diawal pernikahan terasa banyak persamaan, namun dalam beberapa tahun ini suami seperti berubah. Saya dan suami terasa banyak perberdaan bukan hanya soal selera dan hobby tapi juga pada hal-hal yang prinsip. Terkadang hal ini menjadi pertengkaran. Mohon nasihatnya pak Aam agar rumah tangga bisa seperti dulu lagi. Terima kasih. ( Wen via fb )

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Perlu disadari bahwa yang namanya kenyataan rumah tangga itu apa yang sedang kita jalani saat ini. Tentu bukan rahasia kalau dimasa perkenalan semuanya serba sama, hobby sama, olahraga sama, makanan sama, warna sama, pekerjaan terasa sama bahkan tidak jarang sampai pada sama dalam pilihan politik.

iklan

Namun itu sejatinya yang demikian itu terkesan sama yang dipaksakan. Buktinya apa? Setelah menikah akan ketahuan persamaan yang sesungguhnya. Olahraga mulai malas, padahal dulu rajin. Makan mulai beda, alasannya kurang selera dan sebagainya.

Nah, sebenarnya adanya perbedaan pendapat antara suami dan istri adalah indikasi rumah tangga yang hidup. Artinya rumah tangga tersebut ada dinamikanya. Rumah tangga yang ideal bukan berarti suami dan istri mempunyai karakter yang sama dan sama dalam semua hal.

Rumah tangga yang ideal adalah yang mampu menciptakan suasana harmonis di antara perbedaan karakter antara suami dan istri. Anda dan suami saling melengkapi sehingga perbedaan tersebut tampak indah dan serasi. Lagipula, bila terlalu banyak persamaan, maka akan mudah melahirkan kejenuhan dan tidak ada dinamika dalam rumah tangga.

Misalnya, suami-istri yang sama-sama pendiam akan menciptakan suasana rumah yang sunyi senyap layaknya kuburan. Dan, suami-istri yang sama-sama banyak bicara akan menciptakan suasana yang gaduh dan membuat pusing seperti di pasar.

Adanya perbedaan pendapat akan melahirkan gagasan atau ide-ide yang mencerahkan kehidupan rumah tangga yang bersangkutan. Yang perlu diingat, apabila perbedaan pendapat tersebut tidak bisa menghasilkan titik temu, maka harus ada yang mengalah. Mengalah di sini bukan berarti kalah, melainkan justru menang dalam mempertahankan keutuhan dan ketenteraman rumah tangga.

Lantas bagaimana jika suami istri muncul perbedaan?. Agar perbedaan dalam rumah tangga tidak menjadi bibit perpecahan dalam keluarga dan mungkin bisa berujung sampai perpisahan maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan suami istri.

Pertama, jalin komunikasi.

Komunikasi dalam rumah tangga memang selalu disebut-sebut sebagai cara ampuh untuk menghindari konflik yang lebih rumit. Menjalin komunikasi dengan pasangan dan anggota keluarga yang lain sangat diperlukan untuk menjaga keharmonisan.

Kalau kita kurang berkenan dengan sikap atau perkataan dari pasangan yang membuat kita tersinggung atau marah, bicarakan baik-baik dengan pasangan. Usahakan untuk tetap menjaga intonasi saat menegur pasangan. Jangan sekali-kali menggunakan kata-kata kasar untuk menyerang pasangan karena hal itu hanya akan membuat masalah semakin runyam.

Kedua, hargai perbedaan.

Menyatukan perbedaan yang ada antara suami dan istri memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, kalau setiap pasangan dapat menghargai perbedaan tersebut, maka perselisihan pun bisa diminimalkan.

Pernikahan merupakan ajang untuk saling memahami perbedaan, bukan untuk menyatukan perbedaan. Dari perbedaan tersebut, kita akan mampu memahami segala sesuatu yang disukai maupun yang tidak disukai oleh pasangan kita. Dan, kita akan menjadi lebih bijak dalam menyikapi perbedaan tersebut.

Ketiga, jangan libatkan anak-anak dan orangtua.

Kalau sekiranya pertengkaran itu tidak bisa dibendung lagi, jangan tumpahkan kemarahan kita di depan orangtua atau orang lain, terutama anak-anak. Karena, jika anak anak menyaksikan atau mendengar pertengkaran orangtuanya, hal tersebut bisa mempengaruhi psikologisnya.

Begitupun jika salah satu atau kedua belah pihak (suami dan istri) melibatkan orangtua dalam permasalahan rumah tangganya, permasalahan akan bertambah rumit.

Menurut para ahli, banyak pasangan suami-istri yang telah menikah, gagal mempertahankan rumah tangganya karena masih belum bisa mengatasi masalahnya sendiri dan masih belum benar-benar lepas dari pengaruh pihak-pihak yang selama ini dianggap sebagai pemberi solusi atas masalah-masalahnya saat masih belum berstatus suami atau istri.

 

Jadi selama perbedaan bukan masalah yang prinsip misalnya masalah keyakinan atau akidah maka perbedaan itu masih bisa ditolerir. Setidaknya Anda dan suami bisa melakukan tiga tips tersebut diatas. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

5

Red:admin

Editor: iman

903

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini