Roh Orang Bunuh Diri, Benarkah Terus Didalam Rumah?

0
481
Bunuh diri adalah dosa besar karena ia telah berputus asa dari rahmat Allah. ( ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID— Assalamu’alaykum. Pak Aam adakah orang yang meninggal sebelum azalnya datang? Orang tua saya meninggal dengan cara yang tidak wajar (maaf, gantung diri). Sebelum meninggal ia memiliki penyakit seolah-olah ia diguna-guna sampai ia gantung diri. Setelah 10 tahun kepergiannya, ada salah satu orang mengatakan bahwa kepergian ayah saya belum saat azalnya. Arwahnya belum sampai ke alam barzakh dan masih di rumah saya dengan keadaan siang malam menangis. Apakah itu benar? Mohon nasihat dan penjelasannya . ( K via fb )

Wassalamu’alaykum, Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Saya perlu jelaskan bahwa ada dua macam takdir. Pertama ialah takdir muallaq, yaitu takdir yang ada kaitannya dengan usaha kira.

iklan

Takdir muallaq ditetapkan oleh Allah supaya manusia ikhitar dan melakukan yang terbaik. Misalnya ada seorang mahasiswa ia belajar dengan sungguh-sungguh sehingga ia mendapatkan hasil dan nilai yang baik dan lulus dengan cumlaude. Hal ini adalah takdir baginya, tapi ia ada ikhtiar yang ia lakukan.

Kedua takdir mubrom, yaitu takdir yang sudah Allah tetapkan. Sementara takdir mubrom itu seperti umur, itu tidak ada kaitannya dengan usaha. Misalnya ada saja kan orang yang olahraganya rajin dan ia terlihat sehat, namun umurnya pendek.

Namun ada juga orang yang sakit-sakitan, tapi umurnya panjang. Jadi umur dan nyawa itu disebut dengan takdir mubrom. Mengapa disebut takdir mubrom? Karena semua sudah ditetapkan oleh Allah. Sebagaimana Allah berfirman,

وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Allah tidak akan menunda kema­tian seseorang apabila waktunya telah datang. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqqun:11)

Jadi ayah Anda itu sudah ditetapkan umurnya, tetapi penyebab kematiannya itu adalah pilihan. Jadi kejadian ini sebenarnya Allah sudah takdirkan ayah Anda meningga di usia itu, tapi penyebabnya dia ciptakan sendiri yakni meninggal bunuh. Sebab, ada juga orang yang mencoba bunuh diri tetapi tidak meninggal. Berarti bisa jadi meninggalnya dengan cara lain.

Kemudian apa benar orang yang sudah meninggal ruhnya masih di dalam rumah? Coba kita simak firman Allah Swt,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang nyawa (ruh) seseorang pada saat kematiannya dan nyawa (ruh) orang yang belum mati ketika ia tidur. Allah menahan nyawa (ruh) orang yang telah ditetapkan kematiannya dan melepaskan nyawa (ruh) lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada peristiwa itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.”  (QS. Az Zumar: 42)

Menurut para ahli tafsir tentang ayat ini, misalanya Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Ar-Ruh menjelaskan, bahwa ruh orang yang ditahan adalah ruh (nyawa) adalah orang yang sudah meninggal, sehingga dia tidak bisa kembali ke jasadnya di dunia. Sedangkan ruh (nyawa) orang yang dilepas adalah ruh orang yang tidur maka ia bisa bangun kembali.

Jadi  orang setelah meninggal, maka ia menghilang dari kehidupan dunia ini dan berpindah ke alam akhirat. Dan ruhnya tidak kembali ke keluarganya, dan tidak mengetahui semua keadaan keluarganya. Anggapan yang menyebutkan bahwa ruh kembali ke keluarga selama 40 hari atau ruh orang yang bunuh diri tetap di rumah adalah anggapan keliru, yang sama sekali tidak memiliki dalil.

Bunuh diri adalah dosa besar karena ia telah berputus asa dari rahmat Allah. Padahal dalam Al Quran sangat jelas Allah firmankan kita dilarang untuk putus asa,

(53). قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakan, “Hai, hamba-hamba-Ku yang pernah terjerumus dosa! Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni semua dosa-dosanya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” ( QS. Az-Zumar: 53)

Jadi sebesar apa pun masalah yang kita hadapi maka jangan putus asa. Makanya kita harus berusaha mengisi hidup dengan amalan shaleh, supaya saat nyawa kita yang bertakdir mubrom ini dicabut kita sedang dalam ridha Allah. Kita harus berlindung kepada Allah, jangan sampai kita meninggal karena bunuh diri, karena putus asa. Itu rumus yang benar.

Berdoa dan ikhtiar secara maksimal maka Allah akan menolong dan menunjukkan jalan keluar. Kalau sakit ikhtiarnya berobat. Demikian juga dengan masalah-masalah yang lainnya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

5

Red: citra

Editor: iman

973