Sebab Manusia Masuk Jahanam (Tafsir surat An Naba’ bagian. 4)

0
275
Neraka adalah seburuk-buruk tempat kembali setelah kiamat. ( ilsutrasi foto: pixabay)

Tafsir Surat An Naba’ ayat 19 – 18

Oleh: Dr. Aam Amiruddin, M.Si

PERCIKANIMAN.ID – – Kelak setelah hari Kiamat datang dan seluruh kehidupan akan punah maka seluruh manusia akan kembali dibangkitkan dan segera memasuki hari perhitungan. Bagi yang berat timbangan dengan amal shalih maka akan memasuki surga yang penuh kenikmatan.

iklan

Namun bagi yang berat timbangannya keburukan dan dosa maka neraka lahh tempatnya. Proses terjadinya kiamat sendiri seperti yang Allah jelaskan dalam Al Quran

(19). وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا

Dan langit pun dibuka, hingga terdapatlah beberapa pintu.” (QS. An-Naba’ : 19 )

Yang dimaksud dan langit pun dibuka adalah pecah dan terbelah menjadi sekian banyak pecahan dari segala arah. Jadilah pecahan- pecahan itu beberapa pintu tanpa wujud bangunan. Setelah itu, gunung-gunung akan dihapuskan sehingga menjadi debu yang beterbangan bagaikan fatamorgana, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikutnya.

(20). وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا

“Dan gunung-gunung dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.”  (QS. An-Naba’ :20  )

Tidak sedikit ayat yang menyinggung tentang gunung saat berbicara tentang kiamat. Ini menunjukkan peranan gunung dalam keseimbangan bumi. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut, “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung. Katakanlah, ‘Pada hari Kiamat, Tuhanku akan menghancurkan sehancur-hancurnya.’” (Q.S. Ţā Hā [20]: 105)

Sejatinya, gunung-gunung itu berfungsi sebagai pasak untuk bumi. “Bukankah Kami telah menciptakan bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak? “ (Q.S. An-Naba’ [78]: 6-7). Pasak biasanya digunakan untuk mengokohkan kemah, dan bumi adalah kemah raksasa. Jika gunung tidak ada, sudah bisa dipastikan bumi akan ambruk.

Setelah terjadi kiamat dan semua manusia dibangkitkan dari kuburnya, mereka akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang pernah diperbuat sewaktu di dunia. Pada ayat berikut dijelaskan tentang neraka yang akan menjadi tempat tinggal orang-orang yang tidak pernah bersyukur kepada Allah Swt.

(21). إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا

Sesungguhnya, di Jahanam itu ada tempat mengintai bagi penjaga yang mengawasi isi neraka.” (QS. An-Naba’ : 21  )

Biasanya, di tempat-tempat penyiksaan atau penjara selalu ada tempat pengintai. Itu pula yang dijelaskan pada ayat ini. Jadi, dapat dipastikan bahwa neraka Jahanam adalah tempat yang mengerikan atau menakutkan.

Pada ayat lain dijelaskan bahwa Jahanam dijaga oleh malaikat-malaikat yang kasar dan bengis. “Hai, orang-orang beriman! Jauhkan diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat kasar dan tegas, yang tidak durhaka kepada Allah dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.” (Q.S. At-Taĥrīm [66]: 6)

(22). لِلطَّاغِينَ مَآبًا

“Menjadi tempat kembali orang-orang yang melampaui batas.” (QS. An-Naba’ : 22 )

Jahanam akan menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melanggar aturan-aturan Allah dan orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mencapai apa yang dicita-citakannya. Jahanam merupakan tempat pembalasan bagi orang-orang yang tidak tahu terima kasih kepada Allah.

Betapa banyak nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada manusia, tetapi semua malah dikufuri. Salat wajib saja tidak dikerjakan, padahal tidak lebih dari sepuluh menit, bahkan kurang dari itu. Harta tidak pernah dikeluarkan zakatnya, padahal hanya 2,5% saja. Ibadah haji tidak dilakoni, padahal fisiknya sehat dan hartanya berlimpah. Hanya untuk mendapatkan tender, tidak segan-segan menyogok. Sekadar untuk menjadi anggota dewan, tidak malu melakukan manipulasi dengan memalsukan ijazah. Inilah bentuk konkret perilaku yang melampaui batas.

(23). لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا

“Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama.” (QS. An-Naba’ : 23 )

Tinggal di Jahanam bukan setahun atau dua tahun, tapi berabad-abad. Padahal, kita hidup di dunia paling lama 70 atau 80 tahunan. Na‘udzubillah! Sungguh sangat merugi orang-orang yang lebih mengutamakan kehidupan dunia yang fana, yang tak seberapa dibanding dengan akhirat yang abadi. Betapa rugi kenikmatan semu yang kita cicipi di dunia dengan cara-cara haram yang pada akhirnya harus dibayar dengan Jahanam berabad-abad. Semoga Allah Swt. selalu melindungi kita dari azab Jahanam. Âmîn

(24). لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا

(25). إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا

(26). جَزَاءً وِفَاقًا

Tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula mendapat minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan setimpal.” (QS. An-Naba’ : 24,25,26)

Na‘udzubillah, betapa mengerikan gambaran neraka yang dijelaskan pada ayat ini. Penghuni Jahanam sedikit pun tidak akan merasakan kesejukan, bahkan akan mendapatkan minuman yang mendidih dan nanah. Kata mendidih adalah gambaran sesuatu yang menyakitkan. Dan, kata nanah untuk menggambarkan sesuatu yang sangat menjijikkan. Air mendidih dan nanah akan menjadi minuman utama ahli neraka Jahanam. Berarti, jika setiap penghuni Jahanam merasa haus, mereka akan diberi minum air yang sangat menyakitkannya dan menjijikkan. Ya Allah, Yâ Rabbal ’Alamîn jauhkan kami dari azab seperti ini.

(27). إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا

“Sesungguhnya, dahulu mereka tidak meyakini adanya Hari Perhitungan.” (QS. An-Naba’ :  27)

Inilah penyebab kenapa ada manusia yang masuk Jahanam. Sesungguhnya, dahulu mereka tidak meyakini adanya Hari Perhitungan. Rasa takut adanya hisab atau proses audit di akhirat bisa menjadi rem atau penahan dari perbuatan-perbuatan yang dimurkai Allah Swt. Sebaliknya, jika rasa takut pada hisab tidak kita miliki, kemungkinan besar kita akan menghalalkan segala cara dan akan lebih mengutamakan kesenangan duniawi. Sikap seperti ini akhirnya akan membawa penyesalan abadi di akhirat.

(28). وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا

“Mereka pun benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami.” (QS. An-Naba’ :  )

Penyebab berikutnya kenapa seseorang itu masuk Jahanam adalah benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami. Firman-firman Allah dianggap dongeng, padahal itu adalah obor kehidupan bagi manusia. Firman-firman Allah dianggap omong kosong, padahal ia berisi pencerahan hidup.

Ada tiga tipe manusia dalam menyikapi ayat-ayat Allah: ada yang mengufuri alias melanggarnya; ada yang mengamalkan hanya yang pokok-pokoknya saja; dan ada juga yang berlomba-lomba mengamalkannya.

Kemudian, Kami wariskan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi dirinya, ada yang pertengahan, dan ada pula yang berlomba berbuat kebaikan dengan izin Allah. Hal itu adalah karunia yang besar.” (Q.S. Fāţir [35]: 32)

Di antara mereka ada yang menzalimi dirinya… yaitu orang-orang yang tidak mau mengamalkan bahkan mengufuri ayat-ayat Allah. Inilah tipe yang paling celaka. Di antara mereka ada yang pertengahan. Inilah tipe orang yang mengamalkan ayat-ayat Allah, tapi hanya yang wajibnya saja.

Misalnya, salat hanya yang wajib saja, puasa hanya yang wajib saja, juga ibadah-ibadah lainnya Ada pula yang berlomba berbuat kebaikan. Inilah tipe orang yang selalu bersemangat dan bersungguh-sungguh mengamalkan ayat-ayat Allah. Tipe seperti inilah yang harus kita miliki.

Jahanam akan dihuni oleh orang-orang yang berani mendustakan ayat-ayat Allah. Semoga Allah Swt. menjauhkan kita dari perilaku ini. Âmîn. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

Sumber buku: TAFSIR AL-HIKMAH, Tafsir Kontemporer Juz Amma

5

Red: admin

Editor: iman

914

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini