Cara Agar Ditolong Allah Saat Musibah, Lakukan 3 Hal Ini

0
1023
putus asa
Musibah adalah bagian ujian Allah kepada hamba-Nya. ( ilustrasi foto: pixabay )

PERCIKANIMAN.ID— Akhir-akhir ini rasanya dunia sudah tidak baik-baik saja. Sejak awal tahun 2020 berbagai negara di dunia ini ditimpa dengan musibah wabah virus corona atau Covid-19. Pandemi Covid-19 ini kini juga menyebar termasuk di Indonesia.

Musibah ini tentu saja menghambat segala aktivitas dan mata pencaharian sebagai besar orang. Kegiatan sekolah, perkuliahan, dan bahkan perkantoran dilakukan dari rumah. Pasar, tempat hiburan, mall, rekreasi ditutup untuk sementara waktu.

iklan

Kegiatan peribadatan di masjid-masjid ditiadakan dan dilakukan di rumah. Hal ini ditujukan untuk mengurangi penyebaran pandemi covid-19. Tentu saja ini memengaruhi berbagai sektor kehidupan, salah satunya sektor ekonomi.

Dengan banyaknya penutupan tempat dan pembatasan aktivitas di luar rumah, tak sedikit dari mereka yang kehilangan sumber mata pencaharian.

Dalam kondisi sulit seperti ini tentu saja kita harus beriktiar. Salah satu bentuk ikhitar kita ialah dengan berdiam di rumah dan menjauhi kerumunan serta aktivitas di luar rumah.

Selain itu, sebagai seorang muslim kita harus berkhusnudzan atau berprasangka baik. Mari kita telaah hakikat dari khusnudzan. Apabila kita lihat hakikat khusnudzan itu ada tiga wilayah.

  1. Khusnudzan kepada Allah

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah. Siapa pun yang beriman kepada Allah, pasti Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun:11)

Ayat ini menyadarkan kita bahwa kita harus khusnudzan kepada Allah bahwa segala yang ada di alam semesta ini terjadi atas kehendak Allah. Jangankan hal yang dahsyat, yang sederhana, yang sehari-hari kita lihat pun terjadi karena kehendak Allah. Daun-daun yang berguguran di jalanan pun jatuh atas kehendak Allah. Sebagaimana Allah berfirman,

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

“Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya. Tidak ada yang mengetahui selain Allah. Allah mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur, yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauĥ Maĥfūź) (QS.Al-An’am :59)

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan. Oleh sebab itu, kita sebagai orang yang beriman tidak seharusnya mengatakan “Oh… kebetulan ya kita bertemu”, tapi kita katakan “Alhamdulillah ya kita dipertemukan”. Jadi kita harus hubungkan semua yang terjadi dalam hidup kita adalah kuasa Allah.

Jangankan kita sebagai manusia yang memikil akal, daun yang leapas dari rantingnya saja jatuh atas izin dan kehendak Allah SWT. Apa pu yang terjadi pada diri kita, pada ala mini sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Itu sebabnya kita harus khusnudzan kepada Allah.

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Bisa juga kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Apa yang menimpa kita sekarang ini, insyaAllah di suatu saat nanti kita akan merasakan hikmahnya. Tidak ada satu kejadian pun yang menimpa kita kecuali pasti di balik itu ada hikmah dan kebaikan untuk kita. Allah lebih mengetahui apa yang kita tidak ketahui.

Inilah yang disebut khusnudzan, berbaik sangka kepada Allah bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini dan menimpa kita itulah yang Ia kehendaki. Tugas kita sebagai manusia adalah berjuang untuk menyelesaikannya.

  1. Khusnudzan kepada diri kita sendiri.

Apa yang disebut khusnudzan kepada diri sendiri? Kita harus menyakini bahwa dengan pertolongan Allah, kita bisa menyelesaikan setiap musibah atau ujian yang menimpa kita. Allah berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan ukuran kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya. Mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, jangan Engkau hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, jangan Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebe­lum kami. Ya Tuhan kami, jangan Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkan kami, ampuni kami, dan rah­mati kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami dari orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah:286)

Ayat ini mengajarkan kita bahwa artinya kita harus yakin bahwa kita dapat menyelesaikan ujian apa pun yang Allah berikan kepada kita. Karena kita yakin setiap ujian pastinya Allah sesuaikan dengan kesanggupan atau kemampuan kita. Allah tidak mungkin dzalim kepada hamba-Nya sehingga memberikan ujian diluar kesanggupan hamba-Nya.

  1. Khusnudzan kepada orang lain.

Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Hai, orang-orang beriman! Jauhilah banyak prasangka buruk. Sesungguh­nya, prasangka buruk itu dosa. Jangan kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu menggunjing sebagian lain. Apakah kamu mau me­makan daging saudaramu yang sudah mati? Tentu kamu jijik. Bertakwalah ke­pada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat:12)

Dalam kondisi seperti ini kita harus khusnudzan kepada orang-orang yang berusaha menyelesaikan atau memperbaiki keadaan ini. Jangan sampai apa pun yang dilakukan oleh pemerintah kita salahkan.

Mari kita berkhusnudzan bahwa beliau-beliau itu sedang berjuang melakukan yang terbaik. Tugas kita bahu-membahu, saling menguatkan, jika ada yang salah mari kita luruskan dengan cara yang baik, minimal bantu mereka dengan doa.

Mereka yang membawa kebenaran, kita dukung. Mari kita berkhusnudzan kepada orang lain, karena belum tentu kita juga bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik apabila kita ada di posisi mereka.

Sahabat, dalam situasi seperti ini yuk kita pupuk dan bangun ketiga khusnudzan di atas. Semoga dengan modal berbaik sangka kepada Allah, kepada diri sendiri, dan kepada orang lain dapat menjadi salah satu pembuka pintu pertolongan Allah SWT.

Semoga Allah senantiasa menolong kita, meringankan beban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menghantarkan kita ke dalam keberkahan. Dan jika suatu saat Allah memanggil kita, semoga kita dalam keadaan khusnul khatimah. Aamiin… [ ]

Sumber: Instagram @aam_amiruddin

5

Red: citra

Editor: iman

922