Cara Menyikapi Musibah, Ini Yang Harus Dilakukan Seorang Muslim

0
596
Musibah adalah bagian dari ujian dalam hidup. (ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID–Assalamu’alaykum. Pak Aam bolehkah kita menjadi dekat dengan Allah karena akhir-akhir ini banyak musibah, banyak kejadian yang berat akhirnya kita menjadi lebih dekat kepada Allah?. Mohon nasihat dan penjelasannya. ( Anwar via fb )

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Ya tentu saja boleh. Allah berfirman,

iklan

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di da­rat dan di laut karena perbuatan ma­nusia. Allah menghendaki agar me­reka merasakan sebagian akibat per­buatan­nya supaya mereka kembali ke jalan  yang benar.” (QS. Ar-Rum:41)

Jadi bisa saja Allah SWT memberikan musibah, memberikan ujian supaya kita bertaubat. Musibah itu Allah itu berikan kepada kita supaya kita berpikir sehingga kita bisa memperbaiki diri. Dari ayat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa musibah itu diturunkan supaya mansuia merasakan kelalaian yang telah diperbuat olehnya.

Apabila kita ditimpa ujian yang Allah berikan kepada kita baik itu musibah, penyakit atau apa pun, maka ada beberapa sikap yang harus dilakukan seorang muslim.

Pertama, kita lakukan ialah introspeksi diri. Meminta ampunlah kepada Allah barangkali ujian ini terjadi karena dosa yang telah kita lakukan.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai, orang-orang beriman! Bertak­walah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhi­rat) dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr:18)

Kalau di negeri kita sekarang ini sedang ditimpa musibah baik itu tsunami, gempa bumi, banjir, atau pun kini wabah virus corona nah bangsa kita ini harus introspeksi diri.

Kedua, kalau kita ditimpa musibah kita harus memperbaiki diri. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Tahrim ayat 8:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Hai, orang-orang beriman! Berto­bat­lah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh. Mudah-mudahan Tuhan menghapus kesalahan-ke­sa­lah­an­­mu dan memasukkanmu ke da­lam surga yang mengalir sungai-su­ngai di bawahnya, yaitu pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang beriman yang bersama dengan­nya; cahaya mereka memancar di hadapan dan di kanan mereka. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sem­pur­na­kanlah cahaya untuk kami dan am­puni­lah kami. Sungguh, Engkau Maha­kuasa atas segala sesuatu.”

Dalam ayat di atas Allah berjanji akan mengganti keburukan dengan kebaikan, Allah ganti musibah dengan kesejateraan, tapi manusianya harus bertaubat terlebih dahulu.

Ketiga, mohon dan berdoa kepada Allah agar dilindungi atau dilepaskan dari beban berat yang ada di pundak kita.  Allah itu maha kuasa, kenapa kita tidak meminta kepada Allah untuk meringankan beban kita, meringankan atau mencabut ujian yang diberikan kepada kita? Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Apabila hamba-hamba-Ku berta­nya kepadamu tentang Aku, jawablah bahwa Aku dekat. Aku kabulkan per­mohonan orang yang berdoa jika ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mere­ka menaati perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”

Keempat, tentu saja kita harus meningkatkan amalan shaleh, baik amalan kepada Allah maupun amalan sosial terhadap mahkluk lain. Keshalehan individu dan sosial harus kita asah dan tingkatkan. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Qasas: 77

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Carilah pahala akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupa­kan bagianmu di dunia. Berbuat baik­lah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”

Kalau kita tertimpa musibah dan kita ingin terlepas dari musibah itu atau kita berjaga-jaga jangan sampai musibah ini turun kepada kita, maka yang harus kita lakukan ialah tingkatkan amal shaleh.

Maksud dari ayat di atas ialah kita ini dalam hidup harus seimbang antara dunia dan akhirat. Maka kita harus berbuat baik kepada orang lain sebagaimana Allah berbuat baik kepada kita.

Itulah di antara upaya apa saja yang harus dilakukan ketika kita tertimpa musibah. Musibah adalah ujian yakni ujian kesabaran dan pastinya ujian keimanan. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Semoga Allah segera mencabut ujian atau musibah yang kini sedang menimpa kita. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

5

Red: citra

Editor: iman

760