Hukum Menikah Tanpa Rasa Cinta, Boleh Tidak?

0
378
Pernikahan tanpa cinta dan kasih sayang ibarat sayur kurang garam, dingin dan hambar. ( ilustrasi foto: pixabay

PERCIKANIMAN.ID— Assalamu’alaykum. Pak Aam bolehkah saya menikahi seorang perempuan meskipun tak ada rasa cinta? Saya menikahinya karena sebatas agama dan rasa kasihan kepadanya.Mohon nasihat dan penjelasannya. ( H via fb )

Wassalamu’alaykum, Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Salah satu tujuan pernikahan dalam Islam dapat kita simak dalam firman Allah Swt yang sering kita dengar bahkan sudah kita hafal,

iklan

(21). وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Allah menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, serta Allah jadikan rasa kasih dan sayang di antaramu. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.”   ( QS. Ar-Rum: 21)

Dengan sangat jelas Allah sebutkan tujuannya untuk ” merasa tenteram kepadanya, serta Allah jadikan rasa kasih dan sayang” tentu dalam makna antara suami dan istri. Lalu bagaimana kalau menikah tidak ada atau tidak timbul perasaan tentram, cinta dan kasih sayang?

Ada kisah seorang sahabat Nabi yang mendatangi Nabi dan mengatakan, ‘Ya Rasulullah saya akan menikahi seorang perempuan madinah’, Rasul menjawab, ‘Apakah kamu sudah melihatnya?, Ia menjawab lagi ‘Belum Ya Rasulullah, tapi yang pasti dia adalah seorang perempuan’. Kemudian Nabi menjawab, ‘Lihatlah terlebih dahulu agar kamu lebih mantap untuk menikahinya’.

Jadi seorang laki-laki atau perempuan yang hendak menikah itu harus pakai selera, oleh karena itu Nabi menganjurkan kita untuk melihat terlebih dahulu calonnya. Islam tidak melarang apabila Anda tidak jadi menikah karena calon Anda tidak sesuai dengan selera atau kriteria Anda. Rasul menganjurkan kita untuk melihat terlebih dahulu calon kita, kalau ternyata kita cocok maka nikahi. Namun apabila tidak cocok, ya jangan memaksakan diri.

Jadi untuk menjawab pertanyaan Anda, saya rasa justru nanti kasihan kepada sang istri karena Anda menikahinya pun bukan karena cinta tapi karena sebatas kasihan. Menikah itu tetap harus menggunakan rasa dan ada cinta di dalamnya.

Menikah juga perlu ada pertimbangan kasih sayang, jagan asal menikah. Sah saja jika seorang perempuan atau laki-laki menolak hanya karena Anda tidak selera dengan calon Anda. Ya kalau Anda tidak selera bagaimana Anda bisa membangun rumah tangga?

Disebutkan dalam sebuah riwayat dijelaskan seorang perempuan mendatangi Rasulullah dan berkata bahwa ia tidak mencintai suaminya. Meskipun ia sudah berusaha mencintainya, tapi tetap tak ada cinta di hatinya. Sehingga ia takut mengkufuri kebaikan suaminya.

أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتِبُ عَلَيْهِ فِي خُلُقٍ وَلَا دِينٍ وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْبَلْ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ لَا يُتَابَعُ فِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ

Isteri Tsabit bin Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, tidaklah aku mencela Tsabit bin Qais atas agama atau pun akhlaknya, akan tetapi aku khawatir kekufuran dalam Islam” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu mau mengembalikan kebun miliknya itu?” Ia menjawab, “Ya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Terimalah kebun itu, dan ceraikanlah ia dengan talak satu.” [HR. Bukhari]

Jadi menikah itu harus bermodalkan rasa cinta. Jadi kalau Anda menikahi seorang perempuan hanya modal kasihan tentu saja kurang tepat menurut agama. Selain itu, apabila kita merujuk kepada hadits seorang perempuan itu dinikahi karena empat perkara.

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”(HR. Bukhari)

Dalam hadits ini memang Nabi menjelaskan bahwa sebaiknya kita memilih seorang yang hendak kita nikahi karena agamanya. Namun Nabi juga tidak menafikkan untuk melihat dari penampilannya, status sosialnya, keturunannya.

Jadi seorang perempuan atau laki-laki tentu saja boleh mempertimbangkan hal-hal yang bersifat duniawi. Walaupun Nabi menganjurkan kita untuk memprioritaskan agamanya, bukan berarti Nabi melarang untuk melihat dari sisi duniawinya.

Menikah itu pilihan yang bersifat abadi. Jadi dalam menentukan pilihan hidup itu harus menggunakan logika, jangan hanya emosi, jangan hanya untuk sesaat dan jangan coba-coba untuk menikah. Menikah bukan dan tidak bisa untuk percobaan.

Jadi sekali lagi saran saya, kalau Anda baru niat untuk menikahi cobalah tanamkan atau miliki perasaan cinta atau suka kepada calon Anda tersebut, baru Anda nikahi. Atau kalau Anda sudah terlanjur menikahinya, sama coba untuk menumbuhkan rasa cinta dan sayang secara bertahap. Jangan lupa senantiasa berdoa kepada Allah untuk mengilhamkan dan menumbuhkan rasa cinta dan sayang pada pasangan Anda.

Demikian penjelasan dari saya semoga bermanfaat dan semoga Anda dapat meraihkan kebahagian dalam rumah tangga. Wallahu’alam bishshawab. []

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

5

Red: citra

Editor: iman

952

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini