Hikmah Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

0
194
Di antara hikmah paling baik dalam peristiwa Isra Mi’raj adalah menerima dengan iman. (Foto: Pixabay)
Hijrah bukan sekedar berpindah secara fisik. (ilustarsi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID— Setiap tanggal 27 Rajab kaum muslimin memperingati sebagai Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Sallalahu’alaihi wassalam. Peristiwa Isra Mikraj merupakan mukjizat besar dan tanda kenabian yang sangat jelas.

Isra Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian naik dari bumi ke langit melewati lapis langit sampai pada langit ketujuh. Dalam perjalanan beliau bertemu dengan para Nabi, malaikat Jibril, hingga berjumpa dengan Allah SWT.

iklan

Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad memang tak bisa dibuktikan dengan akal. Namun wajib bagi seorang muslim untuk mengimaninya, menerima kebenaran dan tidak boleh menolak berita tentang peristiwa ini. Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah salah satu tanda kebesaran dan kuasa Allah Swt. Dalam Al Quran ditegaskan,

(1.) سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran Kami kepadanya. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al- Isra’: 1)

Secara akal sehat manusiawi saat itu peristiwa Isra’ Mi’raj sulit diterima bahkan tidak masuk akal. Hal itu  bisa dipahami  karena jarak antara Masjidil Haram (Mekah) dan Masjidil Aqsha (Palestina) sekitar 1500 km, yang memerlukan masa perjalanan sekitar 40 hari lamanya pada waktu itu. Sementara Rasulullah Saw melakukannya hanya dalam satu malam pulang pergi. Namun kewajiban kita sebagai muslim ialah mengimani segala perkara ghaib yang hanya Allah yang mengetahui.

Sebagian orang meyakini bahwa peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Padahal, para ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal kejadian kisah ini. Meskipun banyak perbedaan pendapat tentang kapan terjadinya Isra’ Mi’raj, satu hal bahwa peristiwa ini nyata adanya dan wajib bagi setiap muslim untuk mengimaninya.

Lalu apa hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa bersejarah ini?

Di antara hikmah paling baik dalam peristiwa Isra Mi’raj adalah menerima dengan iman. Sungguh bahwa Allah memberikan akal kepada manusia sangat terbatas. Akal kadang-kadang terlalu kecil untuk menerima teori keimanan, di antaranya peristiwa Isra Mi’raj Bagaimana tidak perjalanan ribuan kilometer hanya ditempuh dalam waktu sepertiga malam saja.

Dengan keimanan kita akan berpikir bahwa semua  yang terjadi di alam semesta ini adalah kehendak Allah. Ketika Allah sudah berkehendak, maka apapun dapat terjadi. Sama halnya ketika kini Allah menurunkan ujian wabah virus corona, ketika iman yang digunakan untuk melihat fenomena ini, maka hal tersebut adalah kehendaknya Allah.

Maka kita sebagai hambanya seharusnya instrospeksi diri. Oleh karena itu, keimanan itulah yang harus kita pasang di depan dalam situasi apapun. Dengan keimanan itulah kita sadar bahwa semua ini kehendaknya Allah.

Selain itu, para ulama juga menyebutkan ada beberapa hikmah terjadinya peristiwa  Isra`, yaitu:

  1. Perjalanan  Isra’di bumi dari Mekkah ke Baitul Maqdis lebih memperkuat hujjah bagi orang-orang musyrik. Jika beliau langsung Mi’raj ke langit,  seandainya ditanya oleh orang-orang musyrik maka beliau tidak mempunyai alasan yang memperkuat kisah perjalanan yang beliau alami.  Oleh karena itu ketika orang-orang musyrik datang dan bertanya kepada beliau, beliau menceritakan tentang kafilah yang beliau temui selama perjalanan Isra’. Tatkala kafilah tersebut pulang dan orang-orang musyrik bertanya kepada mereka, orang-orang musyrik baru mengetahui benarlah apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Untuk menampakkan hubungan antara Mekkah dan Baitul Maqdis yang keduanya merupakan kiblat kaum muslimin. Tidaklah pengikut para nabi menghadapkan wajah mereka untuk beribadah keculali ke Baitul Maqdis dan Makkah Al Mukarramah. Sekaligus ini menujukkan keutamaan beliau melihat kedua kiblat dalam satu malam.
  3. Untuk menampakkan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan para nabi yang lainnya. Beliau berjumpa dengan mereka di Baitul Maqdis lalu beliau shalat mengimami mereka.

4

Red : citra

Editof: admin

922