Memahami Kekuasaan Allah: Langit, Matahari, Awan, Hujan dan Tumbuhan (Tafsir surat An Naba’ bagian. 3)

0
449
Salah satu tanda kekuasaan Allah adalah adanya siang dan malam serta langit yang kokoh. ( ilustrasi foto: pixabay)

 

Tafsir Surat An Naba’ ayat 12 – 18

 

iklan

Oleh: Dr. Aam Amiruddin, M.Si

 

PERCIKANIMAN.ID – – Sungguh banyak tanda kekuasaan Allah Swt yang dapat kita lihat maupun rasakan setiap hari. Langit yang luas, Matahari, Awan yang kemudian turun Hujan dan menumbuhkan tanam-tanaman adalah sebagian dari tanda-tanda itu.

(12). وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا

“Kami bangun di atas kamu tujuh langit yang kokoh.”  (QS. An Naba’ : 12 )

Apabila disebut kata langit, biasanya yang terlintas dalam pikiran kita adalah hamparan biru yang tak berujung dan seolah menjadi atap bumi. Langit terlihat biru karena pada saat cahaya matahari menembus atmosfer, terjadi penghamburan warna cahaya matahari. Tidak semua cahaya dihamburkan, hanya cahaya biru sampai ungu saja, sehingga menyebabkan langit berwarna biru.

Jika matahari sudah tidak bercahaya, apakah langit biru masih ada? Tentu langit biru pun akan hilang. Matahari adalah salah satu bintang dari miliaran bintang yang ada di jagat raya. Jadi, kalau disebut kata langit, boleh jadi yang dimaksud adalah bintang.

Sejumlah ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud kata tujuh pada ayat ini bukan enam ditambah satu. Namun, menunjukkan kata yang sangat banyak, bahkan boleh jadi tak terhingga.

Maka yang dimaksud dengan ayat, Kami bangun di atas kamu tujuh langit yang kokoh, artinya Allah telah menciptakan miliaran galaksi yang berpenghuni miliaran bintang. Saking banyak dan luasnya sehingga digunakanlah kalimat “tujuh langit”.

(13). وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا

 “Kami jadikan matahari sebagai pelita yang terang benderang.” ( QS.An Naba’ : 13 )

Allah Swt. telah menjadikan matahari sebagai pelita yang sangat terang bagi bumi. Tanpa kehadiran matahari, bumi akan mati dan membeku. Matahari adalah salah satu bintang terdekat dan merupakan induk tata surya bermassa sekitar 300.000 kali massa bumi dan berukuran lebih dari sejuta kali besar bumi.

Gaya gravitasinya mampu menahan semua anggota tata surya yang sedikitnya terdiri dari 8 planet, sekitar 42 satelit, ratusan ribu asteroid (planet kecil), miliaran komet, bermiliar-miliar bongkahan batuan, juga logam atau es yang disebut meteoroid yang bertebaran di ruang antarplanet

Matahari hanyalah salah satu bintang berwarna kuning yang berukuran sedang. Padahal, masih ada miliaran bintang yang ukurannya ratusan kali lebih besar dari matahari.

Bumi tempat kita berpijak hanyalah satu planet kecil di tata surya. Planet Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus berukuran lebih besar daripada Bumi. (Djamaluddin 2006: 28). Mahasuci dan Mahaagung Allah yang telah jadikan matahari sebagai pelita yang terang benderang.

(14). وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا

(15). لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا

(16). وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا

 “Kami turunkan dari awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya, untuk Kami tumbuhkan biji-bijian dan tanam-tanaman dengan air itu, serta kebun-kebun rindang.”  ( QS.An Naba’ : 14 – 16 )

Dengan bantuan sinar matahari, air laut menguap dan membentuk butiran-butiran. Tercurahlah air hujan yang menyebabkan bumi menjadi subur. Dengan perantaraan air hujan, tumbuhlah biji-bijian, tumbuh-tumbuhan, serta kebun-kebun lebat yang akan memberi manfaat bagi manusia dan hewan. Mahasuci Allah dan Mahabesar Kekuasaan dan Keagungan-Nya.

Sesudah berfirman tentang Keagungan dan Kekuasan-Nya, pada ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman tentang keagungan lainnya, yaitu peristiwa kiamat dan penghisaban.

(17). إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا

 “Sungguh, Hari Keputusan adalah waktu yang telah ditetapkan.”  ( QS. An Naba’: 17)

Yaumal fashl artinya hari keputusan. Ini adalah nama lain dari hari kiamat. Atau, dengan kata lain, hari keputusan adalah hari kiamat. Yaitu, hari di mana tatanan jagat raya porak poranda dan ikatan-ikatan sistemnya berantakan.

Sesungguhnya hari kiamat adalah suatu peristiwa yang ditetapkan kepastian waktunya, tteapi hanya Allah Swt. yang Mahatahu kapan terjadinya. Jangankan manusia biasa, bahkan nabi pun tidak ada yang tahu. Pengetahuan tentang hari kiamat benar-benar milik Allah Swt.

(18). يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا

“Yaitu pada hari ketika sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong.”  ( QS. An Naba’ : 18 )

Kata ash-shuur atau sangkakala sering disebut dalam pembicaraan tentang kiamat dan kebangkitan. Sayyid Quthb dalam tafsir Adz-Dzilal menyebutkan bahwa kita tidak tahu tentang sangkakala ini kecuali namanya semata.

Kita pun tidak tahu kecuali bahwa sangkakala ini akan ditiup. Kita tidak perlu menyibukkan diri untuk mencari tahu bagaimana hakikatnya. Upaya ini tidak akan menambah keimanan dan tidak akan membantu penghayatan akan peristiwa tersebut.

Kita akan menghadap Allah berkelompok-kelompok. Sejumlah ahli tafsir berbeda pandangan dalam menafsirkan kata berbondong-bondong atau berkelompok-kelompok. Di antara mereka ada yang mengartikan bahwa kita akan menghadap Allah sesuai kelompok generasinya, misalnya generasi angkatan 60-an, 70-an, 80-an, dst.

Ada juga yang menafsirkan bahwa yang dimaksud berkelompok-kelompok adalah sesuai kadar kualitas amalannya. Para pendurhaka akan dimasukkan dalam kelompok pendurhaka. Para salihin akan dimasukkan dalam kelompok orang-orang saleh. Wallaahu a’lam, hanya Allah yang Mahatahu tafsir mana yang paling benar.

Menurut penulis, yang paling penting bagi kita bukan larut mendiskusikan makna berbondong-bondong. Yang terpenting adalah yakin dengan sepenuh hati bahwa kita akan menghadap Allah. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

5

Red: admin

Editor: iman

914