Tidak Shalat Jumat Karena Virus Corona, Boleh atau Tidak?

0
154
Jika berada di suatu kawasan yang potensi penularan tinggi maka ia boleh meninggalkan shalat Jumat serta meninggalkan jamaah shalat di masjid. (Foto: Pixabay)

PERCIKANIMAN.ID— Hingga saat ini penyebaran virus corona (Covid-19) terus menyebar diseantero dunia termasuk Indonesia. Pemerintah sendiri telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penularan virus corona atau Covid-19. Di antara himbauan pemerintah ialah menjaga jarak antar manusia atau social distancing, termasuk meliburkan sekolah, menunda segala macam pertemuan yang menghadirkan massa, bekerja dari rumah.

Semnetara itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui komisi fatwanya juga sudah mengeluarkan fatwanya agar kaum muslimin untuk sementara tidak melaksanakan Shalat Jumat atau shalat berjamaah di masjid.

Hal ini bertujuan untuk menekan angka penyebaran Covid-19 yang semakin meningkat di beberapa daerah terutama di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia. Beberapa masjid besar atau agung telah melakukan antisipasi dengan menutup masjid dan menghimbau kaum muslimin shalat di rumah.

Bagaimana Islam melihat fenomena ini? Apa hukumnya seorang tidak melaksanakan shalat Jumat dan tidak shalat berjamaah di masjid?

Dalam kitab Al-Ahkam Asy-Syar’iyyah Al-Muta’alliqah bi Al-Waba’ wa Ath-Tha’uun menyatakan bahwa meninggalkan shalat berjamaah dan shalat Jumat dibolehkan hanya ketika khawatir tertimpa bahaya yang sudah terlihat jelas bahayanya.

Artinya jika dengan shalat berjamaah di masjid yakin akan menularkan virus, maka boleh saja ditinggalkan. Adapun jika masih prediksi, maka tidak dibolehkan meninggalkan shalat jamaah dan shalat jumat. Siapakah yang berhak menentukan bahaya ataukah tidak untuk berkumpul adalah para pakar dan pemerintah yang bertanggungjawab dalam hal ini.

Lalu apa yang menjadi dasar penetapan untuk meninggalkan shalat berjamaah dan shalat jumat di masjid?

Pertama: Pasien yang terkena virus diharamkan menghadiri shalat Jumat dan shalat berjamaah, hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

Jangan dikumpulkan yang sakit dengan yang sehat.” (HR. Bukhari, no. 5771 dan Muslim, no. 2221)

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأرْضٍ، وأنْتُمْ فِيهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.” (HR. Bukhari, no. 5728 dan Muslim, no. 2218)

Kedua: Orang yang diputuskan oleh instansi khusus untuk diisolasi, maka dia harus berkomitmen akan hal itu dan tidak menghadiri shalat berjamaah dan shalat Jumat, dia menunaikan shalatnya di rumah atau di tempat isolasinya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Amr bin Asy-Syarid dari bapaknya, ia berkata,

كَانَ فِى وَفْدِ ثَقِيفٍ رَجُلٌ مَجْذُومٌ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّا قَدْ بَايَعْنَاكَفَارْجِعْ »

Dahulu ada utusan dari Tsaqif ada yang terkena kusta. Maka Nabi shallallahu alihi wa sallam mengirim pesan ‘Sungguh kami telah membaiat Anda, maka pulanglah.” (HR. Muslim, no. 328).

Ketiga: Orang yang khawatir terkena virus karena penyebaran di daerahnya tinggi atau ia dapat mencelakai orang lain, maka dia diberi keringanan tidak menghadiri shalat Jumat dan shalat berjamaah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.”(Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain)

Hal ini bukan merupakan bentuk kekhawatiran atau panik yang berlebihan. Tentu saja hal ini adalah bentuk kewaspadaan. Jika ka berada di suatu kawasan yang potensi penularan tinggi atau sangat tinggi, berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia boleh meninggalkan shalat Jumat dan menggantikannya dengan shalat Zhuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu, tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya

Sementara itu, jika berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar COVID-19, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun. (Fatwa Majelis Ulama Indonesia, no. 14 tahun 2020)

Menanggapi situasi ini beberapa ormas Islam di Indonesia juga sudah mengeluarkan pandangan atau pendapatnya. Misalnya Ormas Persatuan Islam (Persis) yang mengeluarkan Pandangan Dewan Hisbah Terhadap Dampak Penyebaran Virus Corona Menurut Syariat. Terkait dengan ibadah ibadah khususnya shalat Jumat ada 4 point yang disampaikan,

  1. Ibadah Jumat saat menyebarnya virus yang mematikan seperti Corona, bagi yang tidak dikecualikan dari kewajiban Jumat atau musafir, maka tetap wajib melaksanakan ibadah Jumat.
  2. Pada saat situasi wabah Corona yang tidak terkendali, pelaksanaan ibadah Jumat dapat dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi.
  3. Apabila segala upaya sudah ditempuh untuk melaksanakan ibadah jumat, namun tidak terpenuhi syarat dan rukunnya, maka laksanakan shalat Dzuhur.
  4. Penderita virus Corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain, baginya wajib melaksanakan shalat Dzuhur

Demikian beberapa pendapat atau pandangan terkait penyebaran wabah virus corona (Covid-19) saat ini yang dikaitkan dengan ibadah shalat berjamaah di masjid khususnya shalat Jumat.

Tentu ada pro atau kontra, mendukung atau menolak, setuju atau tidak setuju, sependapat atau beda pendapat hendaknya tidak dijadikab pertentangan atau saling menyalahkan. Hendaknya sesama muslim harus saling menghargai dan saling melindungi diri dan orang lain dari marabaya. Bagaimana dengan Anda? Wallahu’alam. [ ]

*Diolah dari berbagai sumber.

4

Red: Citra

Editor: Admin

922

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini