Kenali Perbedaan Darah Haid dan Darah Penyakit (Istihadhah)

0
94
Aisyah r.a pernah berkata: “Kami tidak menganggap darah yang kekuning-kuningan dan kekeruh-keruhan sebagai darah haid.”

PERCIKANIMAN.ID—Haid atau menstruasi merupakan darah yang keluar dari rahim wanita yang telah baligh (dewasa) selama beberapa hari tertentu, bukan karena faktor melaihirkan dan bukan pula karena faktorpenyakit. Dalam hal ini tentu sudah jelas bahwa yang mengalami haid hanya kaum wanita. Dalam Islam seorang wanita yang sedang haid dianggap tidak dalam masa suci. Artinya ia tidak diperbolehkan untuk melaksanakan shalat, puasa, dan ibadah lainnya yang dilarang secara syariat. Namun beberapa wanita mengalami haid yang berkepanjangan. Artinya ada darah yang masih keluar melebihi masa haid pada biasanya. Bagaimana membedakan darah haid dengan darah penyakit lain?

Hadits-hadits shahih Rasulullah menjelasakan bahwa warna adrah haid adalah merah kehitam-hitaman. Ada pun warna lainnya seperti kekuning-kuningan, kekeruh-keruhan, atau mirip warna debu, maka dianggap juga darah haid jika keluarnya masih di hari-hari haid. Namun jika darah ini keluar di luar masa haid biasanya, maka tidak lagi dianggap sebagai darah haid melainkan darah yang keluar dari urat (istihadhah) dan tidak menghalangi seorang wanita untuk mengerjakan shalat.

Rasulullah bersabda kepad Fatimah binti Abu Hubaisy, “Sesungguhnya darah haid itu warnanya kehitam-hitaman sebagaimana telah diketahui. Jika yang keluar adalah darah dengan ciri seperti itu, maka tinggalkanlah shalat. Namun jika yang keluar adalah darah selain itu, maka berwudhulah lalu kerjakan shalat; sebab itu hanyalah darah yang keluar dari urat” (HR. Ahmad, Abu Dawud)

Diriwayatkan pula dari Aisya r.a, bahwa ia berkata: “Sesungguhnya Ummu Habubah binti Jahsy, istri Abdurrahman bin Auf, pernah mengalami isihadhah selama 7 tahun. Ia lalu meminta fatwa mengenai bagaimana menyikapu hal itu kepada Rasulullah. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya darah yang seperti itu bukanlah darah haih, melainkan darah yang keluar dari urat. Hendaklah engkau mandi lalu kerjakanlah shalat.’” Aisyah berkata lagi, “Umuu Habibah binti Jahsy pun lalu mandi dengan air yang ditampung pada sebuah bejana di rumah saudarinya, Zainah binti Jahsy, setelah itu warna merah darah lalu terlihat mendominasi air bekas maindunya.” (HR. Muslim dan Sahihnya)

Aisyah juga pernah berkata: “Kami tidak menganggap darah yang kekuning-kuningan dan kekeruh-keruhan sebagai darah haid.”

Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan darah haid dan istihadhah atau darah yang keluar selain di masa haid. Jika istihadhah terjadi pada seorang wanita, maka ia tetap harus melaksanakan shalat dan ibadah lainnya seperti biasanya.

sumber: Fiqih Wanita Empat Madzhab oleh Dr. Muhammad Utsman Al-Khasyt

3

red: Citra

editor: admin

922

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini