Rajin Sedekah, Tapi Tidak Pernah Shalat. Apakah Amalannya Tertolak?

0
286
Jika wabah Covid-19 mau segera terangkat, sedekah harus jadi solusinya. (Foto: Pixabay)

PERCIKANIMAN.ID Assalamu’alaikum. Pak Aam,kalau ada orang yang jarang shalat, tapi ia tetap menjalankan puasa, sedekah, berbuat baik. Apakah amalannya diterima? Mohon nasihat dan penjelasannya. ( B via fb )

 Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Urusan diterima atau tidaknya amalan yang ia lakukan itu kembali kepada niat dan ketulusan orang tersebut. Suatu amal dapat diterima dengan dua syarat. Pertama ikhlas atau hanya mengaharap ridho Allah. Dalam Al Quran, Allah berfirman dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Padahal mereka hanya diperintah me­nyembah Allah dengan ikhlas mena­ati-Nya semata-mata karena menjalan­kan agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itu­lah agama yang lurus.” ( QS.Al-Bayyinah: 5)

Kedua, syaratnya ialah mengikuti contoh Rasul. Jadi kalau ibadah itu diterima atau tidaknya adalah hak prerogatif Allah, tapi kita sebagai hamba harus mengkondisikan supaya diterima.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

Sungguh, pada diri Rasulullah itu ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan yakin akan kedatangan hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Semua amalan baik itu shalat, shaum, zakat agar diterima oleh Allah ialah rumusnya pertama ikhlas dan kedua mengikuti contoh Rasul.

Nah, sekatang persoalannya ada orang yang sedekah dan shaumnya lancar, tapi ia tidak mau mendirikan shalat, apakah diterima? Sekali lagi itu kaitannya dengan hak prerogatif Allah. Namun kita juga harus ingat sabda Rasulullah,

اَلصَّلاَةُ عِمَادُ الدّيْنِ فَمَنْ اَقَامَهَا فَقَدْ اَقَامَ الدّيْنِ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدّيْنِ

Artinya: “Shalat adalah tiang agama. Barang siapa yang menegakkan shalat,maka berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia merobohkan agama”. (HR. Bukhari Muslim)

Jadi ibarat kita mempunyai suatu bangunan, jika kita tidak shalat sama halnya dengan bangunan yang tidak ada tiangnya. Berarti shalat itu yang menyebabkan amalan-amalan itu menjadi tegak. Bayangkan saja Anda memiliki bangunan, tapi tidak ada tiang yang meyangga. Maka dipastikan bangunan itu akan roboh.

Urusan dia shaum, zakat, dan amalan baik lainnya diterima atau tidak itu kembali pada kuasa Allah karena kita tidak berhak menilai sesuatu untuk ditolak atau diterima. Namun tentu saja suatu ibadah itu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti contoh Rasul.

Ibadah itu fondasinya iman. Iman itu seperti akar pohon yang mencengkram dan mengikat bumi, maka setinggi apapun pohon itu tergantung seberapa kuat akarnya. Begitu juga dengan bangunan, seberapa kuat dan tinggi suatu bangunan ditentukan oleh seberapa kuat fondasinya.

Oleh karena itu amalan kita itu ditentukan oleh iman yang jadi fondasinya. Nanti ada amalan-amalan yang menjadi tiangnya, yaitu rukun islam. Mengapa disebut rukun islam? Rukun itu kan artinya tiang. Jadi dengan demikian kita ini harus berusaha melaksanakan ajaran agama secara komprehensif.

Jangan mengamalkan agama pilih-pilih atau yang ringan-ringan saja yang dilaksanakan, ini tidak boleh. Masuk Islam itu harus kaffah atau menyeluruh menerima konsekuensinya. Seperti ditegaskan Allah,

“Hai, orang-orang beriman, ma­suklah ke dalam Islam secara me­nyeluruh (kaffah) dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguh­nya, ia musuh yang nyata bagi­mu. (QS. Al Baqarah: 208)

Shalat adalah ibadah yang dasar, setelah ia bersyahadat maka ia mempunyai kewajiban untuk mendirikan shalat. Kalau untuk shalat sunnah jika belum mampu maka boleh tidak dilakukan. Tetapi yang namanya shalat wajib, yang lima waktu itu maka tidak ada keringanan, kecuali wanita yang karena syariat boleh meninggalkan shalat.

Tetapi khususnya bagi laki-laki muslim yang telah baligh maka meninggalkan shalat wajib tanpa udzur syar’i jelas termasuk dosa besar. Demikian penjelasan dari saya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. []

5

Red: citra

Editor: iman

930

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini