Masker Langka Akibat Corona, Begini Hukum Menimbun Barang dalam Islam

0
116
Social distance atau social distancing adalah masyarakat diminta untuk menghindari hadir di pertemuan besar atau kerumunan orang. (Foto: Pixabay)

PERCIKANIMAN.ID— Sejak mewabahnya Covid-19 (Corona Virus Desease 2019) persediaan masker di pasaran semakin menipis. Sejak dua orang pasien dinyatakan positif corona di Indonesia pada Senin (02/03), masyarakat semakin mencari-cari keberadaan masker. Selain masker, masyarakat juga banyak mencari hand sanitizer yang dapat digunakan untuk mencegah penyebaran virus corona. Tingginya permintaan masyarakat terhadap masker dan hand sanitizer menyebabkan banyaknya oknum yang memanfaatkan keadaan. Masker dan hand sanitizer kini dijual dengan harga yang sangat melambung tinggi. Padahal harga normal satu box masker tidak lebih dari Rp50.000, kini masker dijual hingga ratusan ribu bahkan juta. Dalam islam hal ini disebut dengan ikhtikar atau menimbun barang. Bagaimana Islam melihat fenomena ini? Apa hukumnya menimbun barang dan menjualnya lebih mahal?

Penimbunan barang ialah membeli sesuatu dan menyimpannya agar barang tersebut berkurang dimasyarakat sehingga harganya meningkat dan demikian manusia akan terkena kesulitan. Penimbunan semacam ini dilarang dalam Islam karena ia merupakan ketamakan dan bukti keburukan moral serta mempersusah manusia.

Menimbun barang adalah salah satu bentuk kedzaliman yang sangat dilarang dan bagi pelakunya adalah siksaan yang pedih. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hajj: 25

 “..dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih”.

Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda:

 من احتكر قوت المسلمين أربعين يوماً يريد الغلاء، فقد برئ من ذمة الله وبرئ الله منه

“Siapa menimbun makanan kaum Muslimin selama empat puluh malam maka terlepas dari naungan Allah dan Allah melepaskan naungan darinya.” (HR. Ahmad).

Memang betul bahwa barang yang ditumpuk adalah sudah menjadi hak milik pedagang dan berada di bawah kekuasaan mereka. Dengan kata lain, sah-sah saja bagi mereka menjual barang tersebut dengan harga berapa pun seiring halalnya keuntungan dari jual beli. Toh, yang dimaksudkan untuk jual beli adalah untuk mendapatkan keuntungan. Namun, karena kebolehan jual beli ini juga ada aturan syariatnya, maka kebolehan jual belinya menjadi dibatasi oleh larangan ihtikâr.

Oleh karena itu, penting kiranya dibuat perincian hukum. Secara umum, kita klafisikan hukum ihtikâr sebagai berikut:

  1. Haram. Keharaman ihtikâr yang disepakati berdasarkan nash, adalah: 
  •  Barang yang ditimbun adalah terdiri dari bahan makanan pokok negara atau tempat penimbun
  • Barang dibeli dari pasaran dengan niat menghilangkan dari pasaran sehingga dapat menambah tingginya harga
  • Penimbunan terjadi melebihi kebutuhan keluarganya
  1. Makruh. Kemakruhan ihtikâr adalah terjadi bilamana: 
  • Menimbun tanpa tujuan untuk maksud menghilangkan komoditas dari pasaran
  • Barang yang ditimbun terdiri atas bahan pokok makanan
  • Menimbun pada waktu barang itu ada dalam jumlah banyak.
  • Menimbun untuk keperluannya dan keluarganya.
  1. Jaiz. Jaiz atau boleh melakukan ihtikâr, apabila:
  • Barang yang ditimbun terdiri atas bahan pokok makanan negara
  • Menimbun pada waktu lapang.
  • Niat menimbun adalah bukan untuk mempengaruhi harga di pasaran
  • Seseorang menyimpan untuk kebutuhannya dan keluarganya.
  • Menimbun di negara yang penduduknya musyrik
  1. Sunnah. Kesunnahan melakukan ihtikâr, adalah apabila:
  • Objek yang ditimbun adalah bahan pokok makanan
  • Penimbunan dilakukan saat harga barang itu sedang surplus dan murah
  • Dalam kondisi surplus, barang tidak sedang sangat dibutuhkan masyarakat
  • Barang akan dikeluarkan kembali sampai ia dibutuhkan  • Menimbun dengan niat menjaga kemaslahatan masyarakatsumber: islam.nu.or.id

3
Red: Citra
Editor: admin
922

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini