Lama Masa Iddah Wanita Yang Ditinggal Mati Suami

0
105
Wanita atau istri boleh menikah lagi jika sudah melewati masa iddah. (ilustrasi foto: okezone)
Ketika suami meninggal dunia maka wanita atau istri boleh menikah lagi jika sudah melewati masa iddah. (ilustrasi foto: okezone)

PERCIKANIMAN.ID – Kematian Ashraf Sinclair pada Selasa (18/2/20) meninggalkan duka yang begitu mendalam di hati para selebritas dan masyarakat Indonesia. Begitu juga keluarga yang ditinggalkan, pemakaman Ashraf Sinclair dipenuhi duka dan haru.

Bunga Citra Lestari (BCL) dan putranya Noah terlihat begitu terpukul melepas kepergian orang yang sangat ia cintai. Kematian memang meninggalkan duka yang mendalam terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Namun tentu saja kesedihan ini tidak boleh terlalu berlarut-larut. Dalam islam sendiri ada ketentuan masa berkabung atau masa iddah bagi seorang wanita yang ditinggal suaminya meninggal dunia.

Sering kali kita mendengar masa iddah ketika seorang istri ditinggal suami meninggal dunia atau . Apa sebenarnya yang disebut dengan masa iidah? Dalam Kifayatul Akhyar (hal. 391), yang dimaksud ‘iddah adalah masa waktu terhitung di mana wanita menunggu untuk mengetahui kosongnya rahim, di mana pengetahuan ini diperoleh dengan kelahiran, atau dengan hitungan bulan atau dengan perhitungan quru’.

Al Qodhi’ Abu Syuja’ dalam matannya membagi ‘iddah pada wanita dilihat dari sisi wanita yang diceraikan menjadi: (1) wanita yang ditinggal mati suami, (2) wanita yang tidak ditinggal mati suami.

Sementara itu wanita yang ditinggal mati suami ada dua macam. Pertama ditinggalkan mati dalam keadaan hamil. Kedua ditinggalkan mati dalam keadaan tidak hamil.

Wanita yang ditinggal mati suami dalam keadaan hamil, masa ‘iddahnya adalah dengan melahirkan, baik masa kelahiran dekat atau jauh. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath Tholaq: 4).

Begitu juga dalil mengenai Sabi’ah Al Aslamiyah, ia melahirkan sepeninggal suaminya wafat setelah setengah bulan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

قَدْ حَلَلْتِ فَانْكِحِى مَنْ شِئْتِ

“Engkau telah halal, silakan menikah dengan siapa yang engkau suka” (HR. An Nasai no. 3510. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sementara Wanita yang ditinggal mati suami dalam keadaan tidak hamil, masa ‘iddahnya adalah 4 bulan 10 hari, baik sesudah disetubuhi ataukah tidak. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُ‌ونَ أَزْوَاجًا يَتَرَ‌بَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْ‌بَعَةَ أَشْهُرٍ‌ وَعَشْرً‌ا  فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُ‌وفِ  وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ‌

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al Baqarah: 234)

Ditambah dengan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ ، إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Tidak dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suaminya, yaitu (selama) empat bulan sepuluh hari.” (HR. Bukhari no. 5334 dan Muslim no. 1491).

Sedangkan wanita hamil yang ditinggal mati suami tidak termasuk dalam dua dalil ini karena dikhususkan dengan dalil yang disebutkan sebelumnya.

Sumber: rumaysho.com

3
Red: Citra
Editor: admin
922

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini