Sejarah Hari Valentine dan Hukum Merayakan dalam Islam

0
35
Sejarah Hari Valentine dan Hukum Merayakan dalam Islam (foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID— Hari Kasih Sayang atau lebih dikenal dengan Hari Valentine merupakan perayaan yang diperingati setiap tanggal 14 Februari. Hari ini disimbolkan dengan memberikan hadiah kepada pasangannya seperti cokelat, bunga, dan lainnya. Tak sedikit umat muslim yang juga mengikuti perayaan hari kasih sayang. Para muda-mudi biasanya menghabiskan hari ini dengan berduaan dan memberikan kado spesial kepada pasangannya. Sebenarnya apakah muda mudi itu mengetahui sejarah asal usul perayaan ini? Yuk, kita terlebih dahulu mencari tahu. Jangan-jangan mereka yang ikut merayakan hanya sekedar ikut-ikutan tren.

Ada legenda yang menyatakan, nama Valentine berasal dari Santo Valentine dari Terni, seorang uskup. Beberapa sumber menyebutkan, dua orang itu sebenarnya sama. Legenda umum lainnya menyatakan St. Valentine menentang perintah kaisar dan diam-diam menikahkan pasangan suami istri untuk menyelamatkan suami dari perang.

Membantu orang Kristen adalah sebuah pelanggaran bagi Kaisar (pada masa itu Kristen dianggap agama sesat di Roma). Valentine kemudian ditangkap dan dipenjara. Ketika dalam penjara, Valentine jatuh cinta dengan putri sipir penjara dan mengirim surat pada tanggal 14 Februari sebagai ungkapan perasaannya dan ucapan perpisahan sebelum di eksekusi. Mengenakan mahkota bunga, tengkorak Santa Valentine diletakkan di Chiesa di Santa Maria di Cosmedin, Plaza Bosca de lla Verita, Roma. Para pasangan menganggap tempat tersebut sebagai situs suci yang mengisahkan keabadian dan pengorbanan cinta.

Sejak saat itu, kematian St. Valentine diperingati sebagai upacara Romawi Kuno dan menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara Valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.

Jadi, bukankah sudah jelas bahwa hari valentine merupakan hari penghormatan kepada tokoh nasrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta?

Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata,

فَإِذَا كَانَ لِلنَّصَارَى عِيْدٌ ، وَلِلْيَهُوْدِ عِيْدٌ ، كَانُوْا مُخْتَصِيْنَ بِهِ ، فَلاَ يُشَارِكُهُمْ فِيْهِ مُسْلِمٌ ، كَمَا لاَ يُشَارِكُهُمْ فِيْ شَرْعَتِهِمْ وَلاَ قِبْلَتِهِمْ

“Orang Nashrani punya perayaan, demikian pula orang Yahudi, di mana mereka mengistimewakan hari tersebut. Maka janganlah seorang muslim meniru mereka dalam perayaan tersebut. Sebagaimana kita dilarang meniru syari’at dan tidak mengikuti kiblat mereka.” (Tasyabbuh Al Khosis bi Ahlil Khomis, dinukil dalam Majalah Al Hikmah, 4: 193)

Bukankah sudah jelas larangan Allah dan Rasulnya bahwa setiap muslim dilarang menyerupai suatu kaum. Tak sepantasnya seorang muslim mengikuti perayaan orang nasrani. Bukankah toleransi pun berarti membiarkan umat lain merayakan hari rayanya tanpa menggangunya atau mencampurinya. Jadi hendaknya setiap muslim memahami makna di balik hari Valentine, bukan sedekar mengikuti tren. Terlebih di balik perayaan ini, betapa banyak kemaksiatan yang ada di dalamnya? Naudzubillah…

Sumber: tirto.id

3
Red: Citra
Editor: Admin
922

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini