Hukum Kerja di Leasing, Boleh atau Haram ?

0
539
Sebagian orang memanfaatkan jasa leasing atau kredit dalam memperoleh barang. (ilustrasi foto: pixabay)
Sebagian orang memanfaatkan jasa leasing atau kredit dalam memperoleh barang. (ilustrasi foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID— Assalamu’alaykum. Pak Aam suami saya bekerja di lembaga keuangan, tepatnya bidang leasing. Suami saya sudah ragu dengan pekerjaanya khawatir mengandung riba, tapi sejujurnya mencari alternatif pekerjaan lain belum berhasil. Sudah melamar ke beberapa perusahaan, tapi belum ada panggilan. Apa yang harus saya lakukan? Ada beberapa orang yang bilang tinggalkan saja karea leasing itu pekerjaan haram. Di sisi lain kan suami harus menafkahi saya dan anak-anak. Mohon penjelasannya dan nasihatnya. Terima kasih ? ( Gie via fb )

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Suami ibu bekerja di leasing dan suami ibu sendiri setelah mendengar kajian-kajian menjadi ragu, khawatir pekerjaannya ini tidak halal. Berarti kan saya sudah tidak perlu membahas leasingnya. Berarti suami ibu sudah mendapatkan pencerahan akan hal ini bahwa beliau berpendapat minimal meragukan. Memang ada hadits yang mengatakan

iklan

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ
لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ

 “Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kondisi saat ini suami Anda berpendapat bahwa leasing itu sumber penghasilan yang meragukan. Jadi saya sudah tidak perlu membahas itu lagi, suami Anda saja mengatakan ragu. Prinsipnya dalam syariah atau fikih adalah meninggalkan hal atau amalan yang meragukan. Sekarang coba kita membahas solusinya.

Memang ada orang yang memliki mental “ah gimana nanti saja. Mending saya tinggalkan, rezeki itu dari Allah”. Tentu kita harus menghargai orang-orang yang bermental seperti itu. Namun, ada juga yang seperti suami ibu. Dia realistis, dia lamar ke perusahan A ke perusahaan B tapi belum juga berhasil. Ada juga yang akhirnya berdagang atau beralih ke pekerjaan yang penghasilannya tidak begitu bagus.

Nah jadi itu kembali kepada kebijakan setiap orang dan kita tidak boleh memvonis orang seenaknya. Setiap orang itu kan ada petimbangan. Kalau saya lebih menyarankan kepada kemantapan hati, keyakinan dan pertimbangan yang bersangkutan. Kita tidak ada hak untuk memvonis orang.

Kita ini jangan suka memvonis keputusan orang. Contohnya saya tahu suami ibu bekerja di leasing. Ya saya menghargai suami ibu masih mencari-cari pekerjaan. Ya kita hargai, itukan keputusan yang bersangkutan. Lebih baik sekarang kita berusaha sesuai kadar kemampuan kita. Allah lebih tahu usaha dan ikhtiar kita.

Dalam sebuah hadits dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.” ( HR. Muslim)

Kemudian dalam hadits yang lain masih dari dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”  (HR. Muslim)

Jadi Allah menghargai upaya-upaya walalupun sedikit. Yang ingin saya tegaskan bahwa kalau ada orang yang ragu dengan pekerjaanya apakah mengandung unsur riba atau tidak, kita hargai kapasitasnya. Semua orang punya kapasitas atau pendapat yang berbeda-beda, saling menghargai tentu lebih baik.

Sekali lagi kalau ada yang sudah hijrah seratus persen dengan meninggalkan pekerjaan yang dianggap mengandung unsur riba atau haram, itu lebih baik dan kita hargai atau apresiasi. Tetapi jika ada hijrah namun masih belum seratus persen dan dia berusaha untuk bisa hijrah seratus persen, tentu kita hargai atau apresiasi upaya atau ikhtiarnya.

Kalau suami Anda ada niat untuk meninggalkan pekerjaannya karena ragu ada unsur riba, tentu itu bagus. Namun karena belum menemukan pekerjaan pengganti dan tetap serta terus berusaha untuk dapat pekerjaan yang baru, tentu harus kita hargai.

Saran saya, sambil berusaha mencari pekerjaan lain dan masih kerja ditempat lama atau yang sekarang, misalnya bisa juga dicoba sambil jualan atau projekan disela-sela waktu atau hari liburnya sehingga ada alternatif penghasilan.

Teruslah tetap semangat, ikhtiar dan berdoa. Semoga Allah memberikan jalan keluar yang terbaik atas apa telah suami niatkan dan dan lakukan. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. []

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

5

Red: citra

Editor:iman

980