Memahami Bullying dan Hukumnya Dalam Ajaran Islam

0
275
Bullying pada anak dapat berdampak pada perkembangan mental. ( foto: pixabay)
Bullying pada anak dapat berdampak pada perkembangan mental. (foto: pixabay)

PERCIKANIMAN.ID— Kasus Bullying atau perundungan terhadap anak dan remaja di Indonesia semakin mengkhawatikan. Beberapa hari lalu, seorang siswa di Malang diduga sebagai korban bullying oleh teman-teman di sekolahnya. Akibatnya jari tengahnya harus diamputasi. Tentu saja hal ini tidak bisa dianggap sepele, meskipun dalih yang dilakukan oleh pelaku ialah “hanya bercanda”. Dalan Islam sendiri bercanda itu ada batasan dan adabnya. Sebelum membahas itu, mari kita bahas apa itu bullying?

Department of Education and Training Victoria yang memberikan definisi terkait bullying. Bullying terjadi jika seseorang atau sekelompok orang mengganggu atau mengancam keselamatan dan kesehatan seseorang baik secara fisik maupun psikologis, mengancam properti, reputasi atau penerimaan sosial seseorang serta dilakukan secara berulang dan terus menerus. Bentuk-bentuk bullying bisa berupa fisik, contohnya memukul, menjegal, mendorong, meninju, menghancurkan barang orang lain.

iklan

Bullying psikologis, contohnya menyebarkan gosip, mengancam, gurauan yang mengolok-olok, secara sengaja mengisolasi seseorang, mendorong orang lain untuk mengasingkan seseorang secara soial, dan menghancurkan reputasi seseorang. Bullying verbal, contohnya menghina, menyindir, meneriaki dengan kasar, memanggil dengan julukan, keluarga, kecacatan, dan ketidakmampuan.

Masih dari lembaga survei yang sama, dampak dari tindakan bullying tidaklah main-main. 44% korban bullying merasa depresi, 41% merasa diasingkan, 33% bahkan pernah berfikir untuk melakukan bunuh diri.

Islam sebagaimana seharusnya adalah agama yang damai, agama yang harmonis dan rasional. Hal ini tercermin dalam firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Ayat tersebut mengekspresikan kemarahan Allah terhadap orang yang merasa lebih superior dan mengangkat derajat orang yang dihinakan. Ini adalah bentuk kontra-superioritas kepada orang yang merasa lebih hebat. Sebab, orang yang merasa hebat memiliki kecenderungan untuk menganggap remeh orang yang lebih rendah darinya. Ini juga terjadi kepada iblis yang dengan sombong menolak Adam dan mengatakan, ‘saya lebih baik dari pada Adam.’ Namun pada akhirnya Allah mengangkat derajat Adam sebagai khalifah di bumi.

Menurut ar-Razi, dalam cuplikan ayat di atas Allah secara khusus menyebutkan “kaum” bukan “personal”, hal ini menunjukkan adanya kecenderungan sikap superior muncul ketika seseorang berkumpul bersama gerombolan atau komunitasnya. Sebaliknya jika ia seorang diri, ia akan merasa inferior dan sikap superiornya sedikit melemah. Dengan demikian, ayat ini terang-terang menolak segala bentuk kesombongan atau merasa diri lebih baik dan lebih hebat dalam segala hal.

Lalu bagaimana jika seorang pembully berdalih “hanya bercanda?”

Jika bercanda melampaui batas, maka bisa jadi dikategorikan bullying, terlebih jika dalam candaan tersebut melibatkan orang lain sebagai obyek candaan. Nabi Sallalahu’alaihi wassalam seagai teladan umat muslim ialah seorang yang juga suka bercanda. Beliau bahkan mencontohkan kita bagaimana adab dalam bercanda. Adab dalam bercanda yang dicontohkan Rasulullah:

  1. Jangan melewati batas
  2. Jangan bercanda dengan orang yang tidak suka bercanda
  3. Jangan bercanda dalam perkara-perkara yang serius
  4. Hindari perkara-perkara yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’alasaat bercanda
  5. Tidak boleh menakut-nakuti seorang muslim dalam bercanda
  6. Hindari berdusta saat bercanda
  7. Hindari candaan yang berisi tuduhan dan fitnah terhadap orang lain
  8. Hindari bercanda dengan aksi dan kata-kata yang buruk
  9. Tidak banyak tertawa
  10. Bercanda dengan orang-orang yang membutuhkannya
    Jangan melecehkan syiar-syiar agama dalam bercanda

Sumber: bincangsyariah.com, almanhaj.or.id

5

Red: citra

Editor: admin

837