MUI: Perlu Ada Pendekatan Berbeda dalam Berdakwah kepada Milenial

0
182
MUI: Perlu Ada Pendekatan Berbeda dalam Berdakwah kepada Milenial (Foto:Pixabay)
MUI: Perlu Ada Pendekatan Berbeda dalam Berdakwah kepada Milenial (Foto:Pixabay)

PERCIKANIMAN.ID—Berdakwah merupakan menyerukan, mengajak, serta menyebarkan ajaran agama Islam. Saling mengajak dan mengingatkan dalam kebaikan antar sesama muslim merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim. Berdakwah memang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Hal ini dalam artian, seorang yang berdakwah haruslah memiliki ilmu dan pengetahuan yang luas tentang keagaaman.

Tentu saja dakwah yang benar ialah yang sesuai dengan syariat Islam dan tidak membawa kesesatan di dalamnya. Dakwah juga tidak boleh bersifat memaksa atau menyudutkan seuatu kelompok. Terkait hal ini, Ketua komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa diperluka pendekatan tersendiri dalam berdakwah di kalangan milenial.

iklan

Dilansir dari Republika.co.id, KH Muhammad Choloil Nafis menyatakan bahwa kaum milenial memiliki ciri tersendiri. “Beda pendekatannya. Milenial ini kan independen, enggak mau terikat waktu dan tempat, enggak mau digurui, mau bersahabat. Mereka juga lebih cenderung pada kebenaran yang universal, dekat pada sifat natural seperti alam. Ya mungkin karena ada kejenuhan di tengah modernitas,” kata dia kepada Republika.co.id, Rabu (5/2).

Meski demikian, ia menyatakan bahwa nilai dan konsepnya tetap sama. Terkait metode dalam berdakwah itu harus disesuaikan dengan kondisi. Metode itulah yang bisa menyesuaikan ajaran kepada masyarakat sebagai audiens penerima dakwah itu.

Kiai Cholil melihat dai-dai sekarang ini lebih variatif dalam menggunakan metode dakwahnya. Sebab, setiap dai tentu memiliki segmentasinya sendiri. Menurut dia, dai-dai di perkotaan menerapkan dua cara berdakwah, yaitu tatap muka langsung dan melalui tayangan-tayangan di media sosial (medsos).

Namun, Kiai Cholil memandang, berdakwah secara tatap muka langsung sebetulnya diperlukan agar jamaah bisa lebih mendapatkan pemahaman yang mendalam. Hal inilah yang sulit dilakukan jika berdakwah melalui medsos.

Bertujuan menghasilkan dai yang kompeten di bidangnya, MUI telah membuat sistem kontrol jaminan mutu untuk para dai melalui program dai bersertifikat. Dengan begitu, diharapkan mereka berhasil dalam dakwahnya di tengah masyarakat sesuai segmen masing-masing.

“Kami sudah ada dai bersertifikat, sudah ada bagaimana mengontrol jaminan mutunya tanpa harus membatasi ustadz-ustadz lain untuk berdakwah,” katanya.

Sumber: republika.co.id