Kampanye No Hijab Day Viral, Liberalisasi Islam di Indonesia Semakin Masif

0
140
Kampanye No Hijab Day Viral, Liberalisasi Islam di Indonesia Semakin Masif
Kampanye No Hijab Day Viral, Liberalisasi Islam di Indonesia Semakin Masif
PERCIKANIMAN.ID— Baru-baru ini masih hangat terdengar pernyataan Sinta Nuriyah, istri dari Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) “memakai hijab tidak wajib” yang menuai kontroversi.

Tidak sampai disitu, sepertinya upaya liberalisasi di tengah kamu muslimin semakin gencar. Kini muncul kampanye ‘No Hijab Day‘ ala kaum feminis-liberal. Kampanye yang diserukan di jejaring sosial, khususnya Facebook ini pun gencar menuai kritik.

Aksi No Hijab Day pertama kali digagas oleh Yasmine Mohammed di Iran pada Februari 2018. Aksi ini bertujuan untuk melawan aturan-aturan yang memaksa perempuan untuk mengenakan hijab. Aksi ini diduga sebagai aksi kontra World Hijab Day yang diperingati pada 1 Februari. Mirisnya, aksi tersebut dijadikan agenda kampanye global untuk ramai-ramai melepas hijab.

Komunitas Hijrah Indonesia adalah yang menjadi pelopor kampanye No Hijab Day di Indonesia. Dikutip dari laman fanpage Hijrah Indonesia, dalam penjelasan acara, Hijrah Indonesia menulis,

“Hijrah Indonesia mengajak Anda para perempuan Indonesia baik Muslim maupun bukan Muslim untuk meramaikan #NoHijabDay dengan menayangkan foto-foto Anda berbusana dengan nuansa Indonesia dengan memperlihatkan kepala Anda tanpa memakai hijab/jilbab/ niqab/cadar/ kerudung dan semacamnya di akun media sosial Anda, baik Instagram, Facebook, maupun Twitter dan blog Anda dengan hashtag #NoHijabDay dan #FreeFromHijab pada 1 Februari 2020”.

Ajakan untuk melepas hijab disebut sebagai upaya kontra hijabisasi dan niqabisasi yang marak satu dekade terakhir. Hijrah Indonesia juga menulis bahwa terdapat perbedaan pendapat tentang batasan aurat dan hijab di kalangan para ulama, tarekat dan sarjana keislaman.

Adapun alasan diadakannya kampanye ini menurut Hijrah Indonesia adalah:

  1. Hijabisasi baru marak tiga dekade terakhir; Niqabisasi marak satu dekade terakhir
  2. Tidak semua ulama, tarekat dan sarjana KeIslaman mendakwahkan dan bersetuju dengan hijabisasi maupun niqabisasi. Pandangan mengenai batasan aurat berbeda-beda
  3. Kita berdiam di rumah, berada di habitat, berkebutuhan, bekerja, dan atau memiliki fisik, yang kesemuanya berbeda-beda
  4. Kebutuhan vitamin D, terutama yang mendesak.

Menanggapi polemik ini Mantan Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII, Quraish Shihab menegaskan, sebenarnya ia setuju jika seorang muslimah mengenakan hijab. Namun hal tersebut tidak bisa dipaksakan begitu saja karena masing-masing ulama memiliki pandangan atau pendapat.

“Karena ada ulama yang berpendapat bahwa jilbab tidak wajib, ada ulama yang berkata wajib menutup aurat. Sedangkan aurat diperselisihkan oleh ulama,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Lajnah Pantashihan Alquran Kementerian Agama Republik Indonesia, KH Muchlis M Hanafi mengatakan, hijab pada prinsipnya adalah pakaian yang menutup aurat.

Ia melanjutkan, di dalam Islam tidak ada syarat bahwa hijab atau jilbab yang harus dikenakan itu seperti apa. Dalam Islam hanya menentukan batasan aurat saja, namun itupun masing-masing memiliki perbedaan pendapat.

“Jadi soal bentuk, Islam tidak menentukan bentuk jilbab tertentu. Islam hanya menetapkan batasan aurat yang harus ditutupi. Dan itu para ulama berbeda. Ada yang mengatakan semuanya, ada yang mengatakan dikecualikan wajah dan telapak tangannya,” katanya kepada Okezone beberapa waktu lalu.

Jelas sudah bahwa Allah SWT memerintahkan kita melalui Nabi Muhammad untuk menutup aurat bagi perempuan.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Selain itu di ayat lain Allah kembali berfirman,

“…Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka ….” (QS. An-Nuur: 31)

Pada hakikatnya menutup aurat itu wajib hukumnya. Beberapa boleh jadi memiliki pendapat yang berbeda tentang batasan aurat wanita, tapi tidak satu pun mengatakan bahwa rambut bukan aurat

Sumber:

Suaraislam.id

Muslim.okezone.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini