Meninggalkan Shalat Jumat Karena Bekerja, Boleh atau Terlarang ?

0
220
Menunaikan shalat Jumat menjadi salah satu kewjiban bagi orang yang beriman (foto: pixabay)
Menunaikan shalat Jumat menjadi salah satu kewjiban bagi orang yang beriman (foto: pixabay)

Assalamu’alaykum. Pa Aam saya bekerja sebagai resepsionis dan di tempat kerja saya itu karyawannya laki-laki semua. Kalau hari jumat bergiliran shalat Jumat setiap minggunya karena  counter tidak boleh ditinggal. Apa yang harus saya lakukan, apakah shalat Dzuhur ataukah Shalat Jumat? Bukankah shalat Jumat itu hukumnya wajib? Mohon nasihatnya ( Bimo via fb )

 

Wa’alaykumsalamww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Terkait dengan shalat Jumat ini secara jelas Allah perintahkan di dalam Al-Quran surat Al-Jumuah ayat 9:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَءَامَنُواإِذَانُودِيَلِلصَّلاَةِمِنيَوْمِالْجُمُعَةِفَاسْعَوْاإِلَىذِكْرِاللهِوَذَرُواالْبَيْعَذَلِكُمْخَيْرُُلَّكُمْإِنكُنتُمْتَعْلَمُونَ

Hai, orang-orang beriman! Apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah perdaganganmu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS.Al Jumu’ah: 9)

Menurut para ulama tafsir menerangkan tentang ayat ini yang mengandung makna bahwa shalat Jumat itu wajib bagi orang yang beriman. Pada prinsipnya setiap perintah itu menunjukan wajib.

Namun ada riwayat yang menyatakan dari Thariq bin Syihab dari RasulullahShallallahu ‘alaihiwasallam, beliau bersabda:

الْجُمُعَةُحَقٌّوَاجِبٌعَلَىكُلِّمُسْلِمٍفِيجَمَاعَةٍإِلَّاأَرْبَعَةًعَبْدٌمَمْلُوكٌأَوْامْرَأَةٌأَوْصَبِيٌّأَوْمَرِيضٌ

Shalat Jum’at wajib bagi setiap muslim dalam berjama’ah, kecuali empat: hamba sahaya, wanita, anak-anak atau orang sakit” ( HR.Muslim )

Hamba sahaya itu tidak wajib shalat Jumat, tapikan sekarang sudah tidak ada hamba sahaya. Wanita juga termasuk yang dikecualikan untuk  tidak shalat Jumat. Dan orang yang sakit itu juga tidak perlu shalat Jumat, cukup shalat Dzuhur karena shalat Jumat itu wajib berjamaah dan di masjid. Demikian juga anak-anak yang belum baligh tidak wajib shalat Jumat.

Permasalahannya adalah ada beberapa orang laki-laki yang bertugasnya pada hari Jumat dan tidak bisa ditinggalkan. Hal ini diantara para ulama ada yang mengembalikan dan ada yang merujuk ke faktor uzur atau orang yang sakit. Sementara itu Jumat itu wajib hukumnya berjamaah.

Nah untuk kalangan laki-laki yang misalnya profesinya sebagai dokter jaga di IGD dan apabila meninggalkan tugasnya khawatir ada orang yang darurat membutuhkannya, maka hal ini berlaku seperti orang yang sakit, ada udzur.

Lalu apa yang harus dilakukan? Kembali ke shalat Dzuhur. Jadi bagi Anda yang ada udzur karena Anda sebagai dokter, perawat atau pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, maka berlaku apa yang disebutkan dalam hadits tadi berlaku hukum orang sakit. Jadi orang yang sakit itu ia tidak melaksanakan shalat Jumat, tapi kembali kepada hukum asal yaitu shalat Dzuhur. Bedanya, Anda bukan sakit tapi Anda memiliki udzur. Inilah yang disebut dengan logika hukumnya merujuk kepada illah yang sama yang disebut dengan kondisi darurat.

Jadi, kalau saya mengambil pendapat yang lebih realistis. Bagi Anda kaum laki-laki yang tidak bisa melaksanakan shalat Jumat sama sekali karena tugas yang tak bisa ditinggalkan, maka Anda kembali ke shalat Dzuhur.

Ini pendapat yang saya ambil, tapi tentu saja ada pendapat yang lainnya dan kita saling menghormati. Tentu saja zaman Rasulullah situasi dan ragam profesinya pun berbeda, sekarang zamannya sudah berkembang dan berubah dan berijtihad.

Ijtihad itu ialah mencurahkan segala usaha, pemikiran intelektual untuk menjawab permasalahan kontemporer dengan melihat isyarat-isyarat yang ada di dalam Al-Quran dan Sunnah.

Nah, yang Anda tanyakan ialah persoalan Ijtihadi sehingga terkait pertanyaan ini, ada beberapa pendapat dan jawaban yang berbeda tergantung perspektif mana yang digunakan oleh penjawab.

Namun ada hadits tentan larangan meninggalkan shalat Jumat tanpa udzur syari atau dibenarkan oleh agama. Misalnya hadits dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

Hendaknya orang yang suka meninggalkan jumatan itu menghentikan kebiasaan buruknya, atau Allah akan mengunci mati hatinya, kemudian dia menjadi orang ghafilin (orang lalai).” (HR. Muslim)

Kemudian hadits dari Abul Ja’d ad-Dhamri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Siapa yang meninggalkan 3 kali jumatan karena meremehkan, maka Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Ahmad, Nasai, Abu Daud )

Lalu ada hadit yang lain dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ، ثَلَاثًا، مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ، طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Siapa yang meninggalkan jumatan 3 kali, bukan karena darurat, Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Ibnu Majah)

Dapat kita pahami bahwa meninggalkan shalat Jumat tanpa alasan itu sangat dilarang, bahkan Allah akan mengunci hatinya dari kebenaran dan hidayah. Ini menjadi landasan atau alasan bahwa kita harus berusaha bisa melaksanakan shalat Jumat.

Kalau menurut hemat atau saran saya, coba Anda pikirkan kembali dengan pekerjaan Anda saat ini. Dalam Islam bekerja itu bagian dari ibadah dan seharusnya mampu meningkatkan semangat atau ghirah untuk beribadah, bukan sebaliknya justru pekerjaan dapat melalaikan ibadah.

buku shalat wudhu

Anda boleh bertahan dipekerjaan lama sambil berdoa dan ikhtiar untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang baru yang dapat mendukung ibadah Anda. Menurut saya itu lebih baik, jangan sampai pekerjaan yang terkait urusan dunia malah mengorbankan urusan akhirat. Silakan Anda pikirkan dan renungkan dengan hati yang lapang. Demikian yang bisa saya jelaskan semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab.[ ]

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

5

Red: citra

Editor: iman

920

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini