Ciri Suami Sholeh dan Tips Menjalani Rumah Tangga Bahagia

0
317
Setiap rumah tangga punya romantika dan problemanya masing-masing. (foto: pixabay)
Setiap rumah tangga punya romantika dan problemanya masing-masing. (foto: pixabay)

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya ingin bertanya, apa syaratnya supaya kita hidup bahagia? Lalu apa ciri laki-laki shaleh? Bagaimana mana cara menjalani hidup rumah tangga dengan bahagia? Sebab beberapa teman saya justru mengaku tidak bahagia setelah menikah. Saat ini saya sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki dan berencana untuk menikah. Mohon nasihat dan penjelasannya. ( Che via fb )

 

Wa’alaykumsalamww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Pertama kita harus tahu bahwa hidup bahagia itu relatif. Maksudnya relatif karena setiap ornag memiliki kepentingan yang berbeda.

Saya ambil contoh yang sederhana, ada seorang ibu yang terlambat menstruasi lalu ketika di test ia postif hamil. Bagi ibu yang sudah menikah lama tapi belum punya anak ia akan merasa bersyukur dan senang sekali. Namun, bagi sebagian orang atau istri ada yang terlambat menstruasi itu justru ia merasa tertekan, panik bahkan stress. Ia terbayang repotnya punya anak lagi, biaya persalinan, biaya pendidikan dan sebagainya.

Jadi fenomena terlambat menstruasi saja bisa membuat orang lain merasa bahagia, namun ada juga yang merasa sedih, kecewa, stress dan terpuruk.

Ini contoh bahwa bahagia itu relatif sebenarnya. Nah karena bahagia itu relatif, maka harus dimulai dari mana? Mulai dari cara berpikir. Kalau orang ingin bahagia coba berpikir selalu positif. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

عَجَبًالِأَمْرِالْمُؤْمِنِإِنَّأَمْرَهُكُلَّهُخَيْرٌ، وَلَيْسَذَاكَلِأَحَدٍإِلَّالِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْأَصَابَتْهُسَرَّاءُشَكَرَفَكَانَخَيْرًالَهُ، وَإِنْأَصَابَتْهُضَرَّاءُصَبَرَفَكَانَخَيْرًالَهُ

“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim).

Hadits ini menjadi isyarat bahwa bahagia itu dimulai dari cara berpikir atau kerangka pikir. Makanya kalau Anda ingin bahagia, bagaimana cara berpikir Anda menjadi positif. Contohnya ketika kita tertimpa sakit, bagi sebagian orang ketika ditimpa penyakit ia merasa terpuruk dan stress. Ada juga orang yang begitu ditimpa penyakit ia bersabar dan menanggap bahwa sakitnya itu adalah pelebur dosanya. Ia jadi banyak waktu istirahat, banyak waktu untuk ibadah dan hal positif lainnya.

Jadi bahagia itu dimulai dari pikiran kita. Ada orang yang ibadahnya rajin, ngajinya rajin, shaum Senin-Kamis tak pernah terlewat, doanya kenceng, shalatnya baik tapi ia merasa biasa saja bahkan cenderung hidup sumpek, ia malah mengaku menderita karena ibadahnya tidak membentuk kerangka pikirnya untuk positif. Ibadahnya hanya sampai difisiknya saja, tidak sampai ke hatinya.

Selanjutnya menjawab pertanyaan Anda tentang ciri laki-laki shaleh, sebenarnya kita hanya bisa melihat ciri lahiriahnya saja, tapi pada akhirnya pasangan hidup kita itu adalah ujian. Betapa banyak orang yang sebelum nikah ciri-ciri keshalehannya tampak, tapi begitu sudah menikah berbeda. Kalau bicara ciri-ciri shaleh itu rukun Islam saja dialakukan. Namun, tetap saja aslinya orang itu setelah nikah.

Kalau kita mengacu pada Al Quran maupun Hadits maka ada beberapa ciri atau indikasi lelaki atau suami yang shalih itu. Diantaranya adalah ia bertakwa kepada Allah, rajin ibadah, berakhlak yang baik dan mulia dan sebagainya.

Terkait dengan akhlak yang baik atau mulia maka kita bisa melihat atau membaca apa yang disabdakan Rasulullah Saw,

Yang paling sempurna imannya di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya. Dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istri-istrinya.” (HR. Turmudzi).

Secara dhahir atau fisik maka keshalihan itu akan nampak, maka sebenarnya secara batin atau psikologis juga harusnya demikian juga. Orang yang taat dan bertakwa kepada Allah maka ia akan menghormati orang lain, berlaku lemah lembut, sopan dan tidak menyakiti orang lain dan sebagainya.

Lalu bagaimana agar rumah tangga bahagia? Salah satu kuncinya adalah baik suami atau istri harus dapat memahami dan melakukan hak dan kewajibannya masing-masing. Kewajiban suami menjadi hak istri dan hak suami menjadi kewajiban seorang istri.

Selama masing-masing pihak yakni suami dan istri bisa saling memahami, saling memenuhi hak dan kewajibannya masing-masing maka insya Allah rumah tangga akan bahagia. Tentu yang namanya perbedaan pastinya ada, namun jangan sampai perbedaan menjadi pemicu ketidakharmonisan. Jalani rumah tangga dengan penuh tanggung jawab, contohnya jelas yakni kehidupan rumah tangga Rasululullah Saw.

Tentu kehidupan rumah tangga orang lain jangan dijadikan pathokan atau rujukan. Setiap orang atau setiap rumah tangga pastinya mempunyai problematika masing-masing. Jangan jadikan rumah tangga teman yang berantakan dan penuh masalah sebagai cerminan. Yakinlah masih banyak rumah tangga atau teman Anda yang hidup bahagia dengan menikah. Ini yang harusnya memotivasi Anda untuk membangun hidup berumahtangga.

Bisa jadi hidup berumahtangga tidak seindah dan sebahagia seperti yang dibayangkan sebelum menikah tetapi tidak juga menakutkan seperti yang dialami orang lain. Hidup berumahtangga dengan menikah itu tetap membahagiakan selama niatnya lurus, dibingkai dengan ibadah. Sementara hidup pacaran itu hanya kebahagian semu, selalu menutupi-nutupi dan beralaku tidak jujur.

Merasakan kebahagian hidup berumahtangga harus dijalani bukan sekedar dibayangkan atau diangankan. Terima dan jalani rumah tangga dengan penuh kesyukuran dan kesabaran. Saran saya, kalau memang Anda sudah ada calon dan dirasa cocok maka menikahlah. Jangan tunda-tunda dan bergelimang dosa dengan pacaran. Semoga kebahagian dapat Anda rasakan dengan menikah. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab

5

Red: citra

Editor: iman

950

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini