Hari Berbangkit dan Kehidupan Yang Berpasangan (Tafsir surat An Naba’ bagian.1)

0
222
Al Quran banyak menceritakan tentang Hari Kiamat dan Hari Kebangkitan (foto: pixabay/norman)
Al Quran banyak menceritakan tentang Hari Kiamat dan Hari Kebangkitan (foto: pixabay/norman)

Tafsir Surat An Naba’ ayat 1 – 8 

Oleh: Dr. Aam Amiruddin, M.Si

 

PERCIKANIMAN.ID  – – Setelah terjadinya  Hari Kiamat dimana seluruh alam raya hancur demikian juga dengan seluruh makhluk hidup telah berakhir. Namun tidak demikian dengan Jin dan Manusia, kedua makhluk ini masih harus menjalani beberapa tahapan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Setelah merasakan dan mengalami dahsyatnya Hari Kiamat, berikutnya mereka akan memasuki tahap yang disebut sebagai Hari Berbangkit atau Hari Kebangkitan setelah kematian.

Tentang apakah mereka saling bertanya? Mereka bertanya-tanya tentang berita besar (Hari Berbangkit), yang dalam hal itu mereka berselisih.” (QS.An Naba’: 1-3)

 

Surah ini diawali dengan berita mengenai sikap orang-orang kafir yang masih mempersoalkan atau bertanya-tanya tentang keniscayaan kiamat. “Benarkah kiamat akan terjadi, atau ini hanya berita sensasi?” Tujuan pertanyaan ini bukan untuk mencari tahu, melainkan sekadar melecehkan berita yang dibawa Rasulullah Saw. Artinya, mereka tidak percaya akan adanya kiamat dan ketidakpercayaan itu diwujudkan dalam cibiran, “Apa benar akan terjadi kiamat?”

Tidak! Kelak, mereka akan mengetahui, sekali lagi, tidak! Kelak, mereka akan mengetahui.” (QS.An Naba’: 4-5)

Inilah jawaban atas keraguan mereka. Kalimat seperti ini disebut taukid, artinya penguatan. Maksudnya, menguatkan atau menegaskan secara pasti bahwa kiamat bukan berita sensasi, tapi benar-benar akan terjadi. Kiamat adalah kehancuran total alam semesta. Kemudian, semua manusia akan dibangkitkan kembali untuk dimintai pertanggungjawaban. Orang beriman wajib memercayainya.

Lalu, ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dari kuburnya dalam keadaan hidup menuju Tuhannya. Mereka berkata, ‘Celaka kami! Siapa yang membangkitkan dari kubur?’ Inilah yang dijanjikan Allah Yang Maha Pengasih dan sungguh benar apa yang disampaikan para rasul-Nya. Teriakan itu hanya sekali, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami untuk dihisab. Pada hari itu, seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan tidak akan diberi balasan, kecuali sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Yā’ Sīn [36]: 51-54)

Ayat ini menegaskan bahwa setelah terjadi kiamat, semua manusia akan dibangkitkan untuk diminta pertanggungjawabannya. Sesungguhnya, para ilmuwan sekuler zaman sekarang banyak yang percaya akan terjadinya kehancuran total alam semesta. Namun, mereka tidak percaya kalau setelah itu, semua manusia akan dibangkitkan untuk dimintai pertanggungjawaban.

Di sinilah letak perbedaannya. Orang beriman yakin akan keniscayaan kiamat dan yakin akan dibangkitkan kembali. Sementara, orang kafir boleh jadi ada yang yakin dengan kiamat, tetapi tidak yakin akan adanya peristiwa kebangkitan. Dan, yang paling parah, ada orang yang tidak percaya pada kiamat, apalagi pada hari dibangkitkan. Oleh sebab itu pada ayat ini ada penegasan, tidak! Kelak, mereka akan mengetahui, sekali lagi, tidak! Kelak, mereka akan mengetahui. Artinya, kelak mereka akan mengetahui bahwa kiamat itu niscaya akan terjadi dan manusia akan dibangkitkan kembali untuk dimintai pertanggungjawaban.

Sesudah dijelaskan tentang keniscayaan kiamat dan peristiwa kebangkitan, pada ayat berikutnya Allah Swt. berfirman tentang keagungan dan kekuasaan-Nya yang berkaitan dengan kehidupan manusia di bumi ini.

Bukankah Kami telah menciptakan bumi sebagai hamparan.”  (QS.An Naba’: 6)

Ini adalah jenis pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban verbal, tapi dimaksudkan agar kita memikirkan bumi tempat berpijak. Pada ayat ini, bumi digambarkan sebagai ayunan. Menurut para ahli, bumi bergerak mengitari matahari sekitar 100.000 kilometer per jam. Manusia hidup di bumi bagaikan berada di ayunan raksasa. Ayunan bumi itu bergerak secara konstan dan sistematis sehingga menimbulkan kenyamanan yang luar biasa bagi manusia.

Dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS.An Naba’: 7)

Pasak alias paku besar biasanya digunakan untuk membuat kemah agar berdiri kokoh. Makin besar kemah yang kita buat, makin besar pula pasak yang kita tanam. Menurut ayat ini, gunung berfungsi sebagai pasak untuk kemah raksasa yang bernama bumi. Bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi sekiranya di bumi tidak ada gunung. Bisa dipastikan bumi akan ambruk. Gunung-gunung itu berfungsi sebagai pasak yang memberikan kekokohan dan keseimbangan pada bumi. “Allah menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak berguncang bersamamu…” (Q.S. An-Naĥl [16]: 15)

Kami menciptakanmu berpasang-pasangan.”  (QS.An Naba’: 8)

Agar terjadi keseimbangan dan dinamika, Allah Swt. telah menciptakan segala sesuatu berpasangan, di antaranya dalam penciptaan pria dan wanita. Wanita adalah makhluk yang memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki pria, artinya ada sifat-sifat wanita yang benar-benar khas wanita. Dan, pria pun memiliki sifat-sifat unik yang tidak dimiliki wanita. Jika digabungkan, sifat-sifat unik ini akan saling melengkapi.

Begitu juga pergantian siang dan malam. Siang memiliki keunikan tersendiri demikian juga malam. Maka kalau digabungkan, akan lahir kehidupan yang dinamis. Demikian di antara hikmah mengapa Allah Swt. menjadikan makhluk berpasang-pasangan. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

5

Red: admin

Editor: iman

840

Tafsir Al Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini