Cara Melupakan Mantan Suami, Ini Yang Bisa Dilakukan

0
670
Cara Melupakan Mantan Suami
Salah satu kewajiban suami adalah membimbing istri menjadi shalihah. ( ilustrasi foto: pixabay)

Assalamu’alaykum. Pa Aam, maaf mau bertanya. Bagaimana caranya supaya saya legowo (ikhlas) melupakan mantan suami saya? Kami dulu bercerai karena ibu atau keluarga ikut campur dengan urusan keluarga kami, akhirnya kami pun berpisah, tapi saya tidak rela mantan suami saya menikah lagi. Mohon nasihatnya ( Ca via fb)

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Dalam Islam, pernikahan adalah bagian dari ibadah dalam syariat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Harapan semua orang yang menikah adalah memperoleh kebahagian hidup minimal di dunia dan lebih jauh bahagia di akhirat bersama pasangan atau suami istri.

iklan

Namun hidup memang kadang tidak selamanya indah dan bahagia sesuai dengan harapan sebelum menikah. Ragam persoalan muncul dimana sebelumnya tidak pernah terbayangkan atau terpikirkan. Jika persoalan suami istri dalam rumah tangga sudah tidak bisa diselesaikan setelah berbagai cara dan upaya ditempuh maka perceraian menjadi pilihan terakhir bagi suami istri.

Secara umum hukum perceraian dalam Islam diperbolehkan selama syarat perceraian itu sah dan sesuai dengan kaidah syariat Islam. Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 227 Allah berfirman,

وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلٰقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika mereka berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”  (QS.Al Baqarah: 227)

Selanjutnya, lebih jelasnya terkait ayat tentang hukum perceraian ini berlanjut pada surat Al-Baqarah ayat 228 hingga 232.

Semua tentu sepakat bahwa perpisahan dalam hal ini perceraian tentu akan meninggalkan luka atau menimal kesedihan, apa pun latar belakang atau alasan perceraian. Tentu tidak kalah penting atas semua masalah atau kesedihan, musibah, atau ujian adalah ikhlas menerima kenyataan.

Jika ibu bertanya caranya, tentu saja saya akan sarankan ibu untuk kembali ke realita yang ada bahwa kini ia bukan lagi suami Anda sekarang.

Anda tidak berhak juga untuk cemburu atau marah karena kan Anda juga sudah mantan. Apa pun penyebab perceraiannya, yang jelas sekarang ia bukan lagi suami Anda. Jadi tidak ada alasan, Anda marah, membencinya, tidak setuju kalau dia menikah lagi.

Itu kan sudah menjadi haknya. Sama hal nya seperti seorang suami juga tidak berhak untuk menghalangi mantan istrinya menikah lagi. Walaupun di sini Anda sebut bahwa perceraiannya karena adanya campur tangan orang tua.

Justru yang menjadi catatan saya terkait masalah ini. Kepada para orang tua, tolong ingat urusan rumah tangga anak, adalah urusan anak. Kita tidak boleh ikut campur memutuskan harus lanjut atau harus cerai.

Boleh memberi pandangan atau pendapat, tapi tentu saja keputusan itu adalah milik anak Anda. Itu pun sebaiknya jika anak Anda meminta pandangan atau pendapat.  Jangan terlalu intervensi dengan rumah tangga anak apalagi sampai bersifat memaksa. Misalnya memaksa untuk bercerai, rujuk ia ikut campur.

Hal ini tidak bijaksana, karena urusan rumah tangga itu sudah urusan anak kita. Kita tidak boleh intervensi. Kalau kita dimintai masukan, boleh kita bicara. Masalah Anda ini banyak sekali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Rumah tangga sering kali cek-cok atau bahkan hancur karena orang tua sering ikut campur tangan.

Jadi saya banyak menemukan kasus orang bercerai itu bukan karena keduanya, tapi karena campur tangan orang tua. Jadi orang tua itu kalau anak sudah menikah, biarkanlah mereka belajar kehidupan.

Kita juga dalam berumah tangga pasti ada keributan atau salah paham, biarkanlah ia jalani. Itu sebabnya bahwa dalam rumah tangga itu yang afdhol kita tinggal dengan istri saja, apakah itu kos, ngontrak syukur-syukur sudah ada rumah, supaya intervensi atau campur tangan orang tua tidak terlalu besar atau sering.

Sebagai orangtua atau mertua kita bisa mencontoh Rasulullah.  Dalam sebuah riwayat sahabat Salman Al Farisi meriwayatkan, bahwa suatu ketika Fatimah ra. berkunjung kepada Rasulullah. Ketika Rasulullah SAW melihatnya, kedua mata Fatimah mencucurkan air mata dan roman mukanya berubah. Kemudian Nabi SAW bertanya : “Mengapa engkau hai anakku?” Fatimah ra. menjawab : ” Wahai Ayahku, tadi malam aku dan Ali bergurau, dan timbul percakapan yang menyebabkan dia marah kepadaku, karena kata-kata yang terlontar dari mulutku. Ketika aku melihat bahwa ia marah, aku menyesal dan merasa susah, kemudian aku berkata kepadanya : ” Wahai kekasihku, kesayanganku, relakanlah akan kesalahanku, seraya aku mengelilinginya dan merayunya sebanyak tujuh puluh dua kali, sehingga dia menjadi rela dan tertawa kepadaku dengan segala kerelaannya, sedang saya tetap merasa takut kepada Tuhanku “

Dalam kisah tersebut dapat kita pahami bahwa Rasul selaku ayah atau orangtua Fatimah membela putrinya tetapi juga tidak membela menantunya yakni Ali bin Abi Thalib. Juga tidak ikut campur tetapi membiarkan anak dan menantunya menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri.

Kisah rumah tangga Ali dan Fatimah serta bagaimana Rasullullah menjadi ayah dan mertua yang bijaksana. Ini seharusnya menjadi teladan bagi kita. Seharusnya orang tua itu, begitu anaknya ada masalah maka biarkanlah ia menyeselsaikannya sendiri bukan mengintervensi.

Bagaimana anak-anak kita belajar mengarungi rumah tangga, kalau setia pada ribut sedikit saja di intervensi. Biarkan saja mereka menemukan ritmenya, stylenya, frekuensinya. Tidak bisa style rumah tangga kita dipaksakan dengan style rumah tangga anak kita.

Jadi sarannya, lupakan mantan suami Anda dan terima dengan ikhlas kenyataan hidup bahwa Anda sudah bercerai. Ia bukan suami Anda dan Anda bukan istrinya lagi, apa pun perasaan Anda maka kenyataan lebih penting Anda hadapi daripada menuruti perasaan hati.

Sadarlah bahwa hidup harus terus berjalan, lupakan masa lalu dan jadikan hikmah atas apa yang telah terjadi. Sadarlah bahwa kebahagian hidup berumah tangga tidak lagi bersamanya tetapi bersikaplah optimis bahwa insya Allah Anda bisa bahagia bersama suami yang baru.

Memang, sekiranya Anda berdua masih saling mencintai atau menyayangi sebenarnya bisa rujuk kembali. Tetapi tentunya Anda dan suami tidak mau mengulangi kesalahan atau masalah rumah tangga sebelumnya kembali terjadi.

Jadi sekali lagi saran saya, jangan habiskan masa depan Anda hanya dengan kesedihan dan ketidakikhlasan. Jangan rusak hidup Anda hanya karena masa lalu. Tatap dan jalani masa depan dengan optimis. Doakan mantan suami semoga bahagia bersama istri yang baru.

Begitu juga sekiranya masa iddah Anda sudah habis, kemudian Anda ada calon seorang laki-laki yang baik dan shalih maka segeralah menikah. Bangunlah rumah tangga sakinah, mawadah dan penuh rahmah bersamanya.

Jangan lupa, dekatkan diri pada Allah dengan ibadah, doa dan amal shalih, semoga Anda segera mendapat jodoh atau suami yang jauh lebih baik dan sayang pada Anda. Demikian yang bisa saya jelaskan semoga bermanfaat. Wallahu’alambishshawab

 

5

Red: citra

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980