Hukum Istri Menagih Hutang Pada Suami, Boleh Tidak ?

0
172

Assalamu’alaykum. Pak Aam, mohon maaf sedikit curhat. Pada saat suami saya tidak memiliki pekerjaan bahkan untuk mengontrak saja tidak ada, kami tinggal bersama orang tua saya. Saat itu rumah ibu saya terjual dan saya mendapatkan bagian Rp.100 juta untuk membeli rumah. Ibu saya menjual rumah karena ingin anak-anaknya memiliki rumah. Pada saat yang bersamaan anak-anak perempuan saya dilamar, nah uang yang pemberian dari ibu dipakai dulu oleh suami untuk hajatan nikah anak, mengontrak rumah, dan lainnya. Dua tahun kemudian alhamdulillah kami bisa membeli rumah seharga Rp.450 juta. Pertanyaannya boleh tidak jika saya menagih uang pemberian ibu saya yang Rp.100 juta itu ke pada suami karena suamikan sudah ada uang?

 

 

Wa’alaykumsalamww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Ya, tentu saja boleh. Jadi kalau suami Anda akadnya pinjam berarti Anda boleh menagih boleh atau juga membebaskannya.

 

 

Kalau judulnya atau akad pinjam tentu saja ibu boleh menagih. Dan suami tidak boleh marah apabila istrinya menagih hutang tersebut karena kan itu harta istri dari orang tuanya, maka itu hak sang istri. Kan ibu mendapat uang itu dari orang tua Anda. Jadi itu adalah murni uang atau harta Anda.

 

 

Nah, apabila akad awalnya itu meminjam, berarti ada hutang yang harus dibayarkan. Kecuali apabila istrinya membebaskan uang tersebut sebagai pemberian atau hadiah, tentu boleh juga. Itu juga bagian dari amal shaleh. Namun, apabila Anda menagih pun itu juga bagian dari amal shaleh karena sudah mengingatkan suami akan kewajibannya yakni membayar utang.

 

 

Menagih hutang itu ibadah supaya orang yang berhutang itu mengingat kewajibannya. Jadi sekali lagi, jika transaksinya itu pinjam-meminjam, boleh Anda menagihnya sekali pun itu kepada suami, istri , orang tua atau anak. Tetapi akan menjadi amala shaleh jika Anda melepaskan atau mengikhlaskannya. Hal ini termasuk perbuatan yang sangat mulia.

 

 

Satu yang ingin saya ingatkan untuk para suami, kalau istri kita punya penghasilan, maka sesungguhnya itu adalah milik mereka. Apabila istri saya memiliki rezeki dari hasil dia berdagang, nah itu miliknya dan tidak boleh saya pakai seenaknya tanpa ijin dari istri.

 

 

Jadi harta istri adalah milik istri, tapi harta suami adalah milik berdua. Dimana salah satu kewajiban seorang suami adalah menafkahi istri dan keluarganya.  Hal ini jelas tertulis dalam firman Allah,

 

(34)……الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

 

 

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagiperempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.” (An-Nisa’: 34)

 

 

Berarti bapak-bapak, kalau Anda memiliki rezeki berarti Anda harus berbagi dengan istri. Rezeki suami adalah rezeki istri dan juga keluarga, tapi rezeki istri tidak otomatis jadi rezeki suami. Mengapa? Karena tidak ada dalil yang menunjukan bahwa istri itu harus menafkahi suami.

 

 

 

Jadi apabila ada istri yang bekerja membantu suami, itu adalah amal shaleh yang luar biasa besar dan hebatnya. Rezeki istri yang dipakai atau digunakan untuk kebutuhan harian keluarga maka nilai ibadahnya sungguh luar biasa. Tetapi hendaknya juga harus dibarengi dengan hati yang ikhlas, jangan terpaksa, jangan menggerutu.

 

 

 

Kembali ke pertanyaan Anda, kalau akad awalnya suami pinjam maka Anda boleh menagihnya. Tetapi alangkah bijaksananya sebelum menagih, Anda perhatikan dulu kondisi suami, apakah sudah mempunyai uang? Apakah sudah bekerja dengan mapan?

 

 

 

Hal ini diperlukan sebagai bahan pertimbangan agar tidak timbul masalah baru. Kalau suami sudah punya uang dan sudah bekerja, maka Anda tagih tentu tidak menjadi masalah. Tetapi jika sebaliknya, suami tidak atau belum punya uang, belum bekerja lagi maka Anda tagih bisa jadi suami akan tertekan, gelisah, galau dan sebagainya. Bahkan ujungnya bisa jadi timbul pertengkaran dan ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Ini yang perlu Anda pertimbangkan.

 

 

Untuk itu saran saya, jika akad awalnya suami pinjam maka Anda dalam menagihnya harus dengan cara halus, baik, sopan dan tidak menyinggung perasaannya. Ajak dialog suami sebagai pintu masuk. Kalau suami misalnya menyadari itu hutang yang dibayar namun belum memiliki uang maka sebaiknya Anda bersabar dan kasih waktu kepadanya.

 

 

 

Toh, Anda sudah mengingatkan akan kewajibannya yakni membayar hutang kepada Anda dan Anda pun sudah menyampaikan hak Anda. Sekali lagi lakukan dengan penuh kekeluargaan dan tetap hormati suami, jaga harga dirinya sebagai pemimpin dalam rumah tangga.  Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

5

Red: citra

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

982

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : Instagram : @percikan_iman.id

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini