Cara Memahami Perintah Ibadah dan Memaksimalkan Shalat Sunnah

0
603

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam, maaf mau bertanya. Dalam Al Quran disebutkan bahwa kita atau manusia diciptakan untuk beribadah. Lalu bagaimana menyeimbangkan urusan dunia dengan ibadah khususnya shalat? Sebab, khususnya shalat sunnah itu kalau dikerjakan bisa dari bangun tidur sampai menjelang tidur lagi. Bagaimana agar rajin shalat sunnah? Mohon penjelasannya dan nasihatnya. ( Tito via fb )

iklan

 

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Apa yang Anda sampai benar, bahwa pada hakikatnya kita diciptakan Allah untuk beribadah atau mengabdi kepada Allah. Dalam firman-Nya, Allah Swt tegaskan,

 

(56). وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

 

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Aż-Żāriyāt: 56 )

 

 

Dalam menafsirkan ayat ini Ibnu Qoyyim Al Jauziyah menjelaskan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya? ” Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Tentunya ibadahnya manusia dan jin berbeda dengan makhluk Allah lainnya. Binatang pun bertasbih sesuai bahasa mereka.

 

 

Allah juga menciptkan manusia dan jin bukan berarti akan dibiarkan begitu saja. Maka kelak ketika datangnya Hari Perhitungan ( yaumul hisab) semua manusia termasuk jin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dikerjakan selama hiudp, tanpa kecuali baik yang beriman atau yang kafir. Dengan sangat jelasnya Allah Swt telah berfirman dalam Al Quran,

 

(36). أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

 

Apakah manusia mengira ia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban?” QS. Al Qiyamah: 36).

 

Pertanggungjawaban tentu terkait dengan amal perbuatan manusia. Jika berbuat baik atau beramal shalih tentu mendapat pahala dan jika berbuat jahat atau buruk tentu akan mendapat dosa.

 

 

Jadi makna ibadah disini dalam arti yang luas, bukan hanya sebatas shalat dan memenuhi rukun Islam lainnya. Tetapi menjadikan segala ucapan dan perbuatan kita harus ada nilai ibadah atau pahalanya. Lisan digunakan untuk berkata yang baik atau diam. Telinga digunakan untuk mendengarkan hal-hal yang baik, mata dan semua anggota badan kita gunakan untuk berbuat baik seperti yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah. Ini makna ibadah dalam arti yang luas.

 

 

 

Kemudian bagaimana dengan shalat, karena selain yang wajib juga ada yang sunnah? Apa sehari semalam hanya kita gunakan untuk shalat?

 

Terkait pertanyaan Anda ini bisa disimak kisah atau dialog Rasul dengan seorang sahabat yang bermana Abdullah bin Amr. Dimana dalam sebuah kesempatan sahabat Abdullah bin Amr r.a. berkata, Rasulullah Saw. diberi tahu bahwasanya aku berkata, “Demi Allah, aku akan melaksanakan shaum setiap hari dan melaksanakan shalat sepanjang malam selama aku hidup,” aku berkata kepadanya, “aku telah mengatakannya demi bapakku dan ibuku.” Rasulullah Saw. bersabda,

 

 

Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup melaksanakannya, shaumlah kamu dan berbukalah, shalatlah kamu dan tidurlah, dan shaumlah kamu setiap bulan selama tiga hari karena sesungguhnya satu kebaikan diberi pahala sepuluh kali lipat, dan hal tersebut laksana shaum sepanjang tahun.” Lalu Aku (Abdullah bin Amr ) menjawab, “Aku lebih mampu dari itu.” Beliau menjawab, “Shaumlah satu hari dan berbukalah dua hari.” Aku menjawab, “Aku lebih mampu lebih dari itu.” Beliau bersabda, “Shaumlah satu hari dan berbukalah satu hari, hal tersebut sebagaimana shaum Daud a.s.” Aku menjawab, “Aku lebih mampu dari itu.” Lalu, Nabi Saw. Bersabda, “Tidak ada yang lebih utama dari itu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

 

 

Dalam hadits lain juga dikisahkan Abi Juhfah (Wahb bin Abdillah) r.a. mengatakan, Nabi Muhammad Saw. mempersaudarakan antara Salman r.a. dan Abu Darda r.a. Maka, Salman mengunjungi Abu Darda. Salman melihat Ummu Darda berpenampilan lusuh. Berkatalah Salman, “Bagaimana keadaanmu?” Ummu Darda menjawab, “Saudaramu ini tidak punya kebutuhan apa pun terhadap dunia.” Lalu datanglah Abu Darda kemudian menghidangkan makanan untuknya seraya mengatakan, “Makanlah, aku sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Aku tidak akan makan kecuali jika kamu makan.” Maka, Abu Darda pun makan. Di waktu malam bangunlah Abu Darda (untuk Shalat Malam). Salman mengatakan kepadanya, “Tidurlah.” Maka, Abu Darda pun tidur kembali.

 

 

Kemudian Abu Darda bangkit kembali. Lalu, Salman mengatakan, “Tidurlah.” Maka, Abu Darda pun tidur kembali. Ketika memasuki akhir malam, berkatalah Salman, “Bangunlah sekarang.” Lalu mereka pun shalat berdua. Salman mengatakan kepada Abu Darda, “Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu yang harus kamu tunaikan, dirimu punya hak atasmu yang harus kamu tunaikan, dan keluargamu punya hak atasmu yang harus kamu tunaikan. Maka, tunaikanlah hak kepada setiap pemiliknya.” Salman lalu mendatangi Rasulullah Saw. dan menceritakan yang terjadi. Berkatalah Nabi Saw., “Salman benar.” (H.R. Bukhari)

 

 

Sebagian orang memahami kedua hadis tersebut sebagai anjuran agar kita mengisi hidup tidak melulu dengan ibadah. Atau, paling tidak, ada keseimbangan antara ibadah vertikal (yang berkaitan langsung dengan ibadah terhadap Allah Swt.) dan ibadah horizontal (yang berkaitan dengan sosial dan kemasyarakatan).

 

 

Tidak salah memang, tetapi hal tersebut seolah-olah mematikan kobaran semangat kita untuk beribadah mahdah, dalam hal ini shalat dan shaum. Seyogianya, dua keterangan tersebut dapat menjadi penyemangat untuk kita lebih giat melaksanakan shalat karena 24 jam waktu yang kita miliki dalam satu hari dapat diisi oleh rangkaian shalat dan doa.

 

 

Untuk itu jadikan sejak kita bangun tidur di pagi hari sampai kita tertidur lagi di malam hari, adalah serangkaian ibadah shalat yang dapat kita kerjakan dalam rangka lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.

 

 

Kesibukan atau padatnya jadwal pekerjaan bukan alasan untuk tidak mengerjakan rangkaian shalat sehari penuh tersebut mengingat beberapa shalat (sunnah) hanya berjumlah dua rakaat sehingga dapat dikerjakan tidak lebih dari 15 menit.

 

 

 

Bandingkan dengan waktu makan siang yang kita lakukan yang biasanya hingga menghabiskan waktu 30 menit, bahkan lebih. Shalat seharian yang dimaksudkan di sini juga tidak harus dikerjakan di masjid atau tempat-tempat yang biasa dipakai untuk shalat.

 

 

 

Misalnya sebelum berangkat kerja atau sebelum memulai aktivitas keluar rumah, terlebih dahulu bisa shalat Dhuha di rumah. Atau kalau tidak sempat di rumah, shalat Dhuha bisa dikerjakan di mushola kantor, mushola pabrik, mushola sekolah, atau saung di sawah dan sebagainya. Bisa jadi saat perjalanan ke tempat kerja, sejenak mampir ke masjid.

 

 

 

Kita bisa melakukan sejumlah shalat meski tengah berada dalam perjalanan, berkelana di alam terbuka, atau berada di tengah-tengah keramaian. Modalnya hanya kemauan untuk melaksanakan dan saya yakin peluang untuk melaksanakan shalat itu pasti akan selalu ada.

 

 

 

Bagaimana agar tidak malas beribadah, khususnya shalat? Salah satu caranya adalah dengan kita mempelajari atau mengetahui keutamaan (fadhilah) dari shalat khususnya shalat yang sunnah. Dengan mengetahui keutamaannya maka insya Allah akan timbul semangat untuk mengerjakannya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, terkait pembahasan bab shalat ini lebih detail berikut dalilnya, Anda, bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU?” atau buku ‘ JANGAN HANYA 5 WAKTU “. Didalamnya ada pembahasan bab praktik shalat berikut contoh- contohnya. Wallahu’alam bishawab. [ ]

 

buku shalat wudhu

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

826

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : Instagram : @percikan_iman.id

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman