Batas Jarak Safar dan Shalat Qashar, Ini Ketentuannya

0
591

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam sebenarnya ketentuan jarak yang membolehkan kita shalat jamak dan qashar itu berapa kilo meter? Karena teman saya ada yang masih dalam kota tapi dia shalatnya dijamak. Bagaimana aturan dalam jamak dan qashar itu? Mohon penjelasannya. ( Dwi via fb )

iklan

 

 

 

Wa’alaykumsalamww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Pertama yang namanya jamak qashar itu artinya menggabungkan dua shalat di dalam satu waktu. Jadi yang dimaksud dengan menggabungkan itu waktunya itu dalam melaksanakan shalatnya. Misalnya Anda shalat Dzuhur dan Ashar di waktu Ashar. Ya berarti saya shalat Dzuhur 4 rakaat kemudian salam dan shalat Ashar 4 rakaat, tapi dilakukan di waktu Ashar. Ini yang disebut jamak takhir.

 

 

 

Jadi jamak itu dimana pun bisa kita lakukan baik sedang safar atau dalam perjalanan atau bepergian maupun tidak bepergian. Boleh jadi diantara bapak ibu pernah atau ada acara pernikahan misalnya, menjadi tuan rumah atau yang punya hajat nikahan. Biasanya pernikahan itu berlangsung dari pagi hingga sore. Misalnya resepsi mulai pukul 11.00 – 15.00 wib.

 

 

 

Nah, di saat itu Anda harus menghadapi tamu sehingga Anda jamak Dzuhur itu dengan Ashar, sementara Anda tidak sedang safar, Anda berada di kota Anda sendiri, lalu boleh tidak? Jamak itu boleh tanpa harus safar. Misalnya ada dokter jaga di IGD, ia harus menangani pasiesn yang kondisinya darurat, sulit untuk dia meninggalkan tempat bertugasnya. Akhirnya dokter ini menjamak shalat Maghribnya dengan Isya di waktu Isya.  Ini juga boleh dilakukan.

 

 

 

Jamak itu tidak terikat oleh safar saja, tetapi jamak itu terikat oleh situasi-situasi yang membuat kita tidak bisa melaksanakan shalat di awal waktu atau tepat waktunya. Tentu yang dimaksud aktivitas yang tidak bisa ditinggalkan disini dalam koridor syar’i atau dibenarkan secara syariat. Seperti yang disebutkan diatas.

 

 

 

Bukan semua aktivitas, bekerja, belajar, melayani pembeli dan sebagainya itu aktivitas yang bisa ditinggalkan atau bisa istirahat untuk shalat.

 

 

Nah jadi yang namanya jamak itu tidak ada ketentuan harus safar, sementara yang harus ada ketentuan safar adalah qashar. Qashar itu artinya mengurangi jumlah rakaat yang tadinya empat rakaat menjadi dua rakaat. Ini merujuk ke surat An-Nisa ayat 101

 

 

(101). وَإِذَاضَرَبْتُمْفِيالْأَرْضِفَلَيْسَعَلَيْكُمْجُنَاحٌأَنْتَقْصُرُوامِنَالصَّلَاةِإِنْخِفْتُمْأَنْيَفْتِنَكُمُالَّذِينَكَفَرُوا ۚ إِنَّالْكَافِرِينَكَانُوالَكُمْعَدُوًّامُبِينًا

 

Ketika kamu bepergian di bumi, tidak berdosa kamu mengqasar salat jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya, orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” ( QS.An Nisa: 101)

 

 

Ayat di atas menjelaskan bahwa qashar itu syaratnya safar karena ada kata-kata ‘jika kamu bepergian’. Lalu pertanyaannya ukuran safar itu berapa kilometer? Memang yang popular itu lebih dari 70 km. Namun, ada riwayat yang mengatakan bahwa sahabat Rasul dia safar hanya 7 km lalu dia qashar.  Ada juga yang yang shafar 70 km dia qashar.

 

 

Hal ini tidak dilarang oleh Rasulullah, artinya safar itu kembali kepada kebiasaan. Para ulama sendiri berselisih pendapat mengenai batasan jarak sehingga disebut safar sehingga boleh mengqashar shalat. Setidaknya ada tiga pendapat dalam hal ini:

 

 

Pertama, ada yang menyebut jarak safar jika telah mencapai 48 mil atau 85 km. Pendapat dari mayoritas ulama dari kalangan Syafi’i, Hambali dan Maliki. Dalil mereka adalah hadits,

 

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهم – يَقْصُرَانِ وَيُفْطِرَانِ فِى أَرْبَعَةِ بُرُدٍ وَهْىَ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا

 

Dahulu Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum mengqashar shalat dan tidak berpuasa ketika bersafar menempuh jarak 4 burud (yaitu: 16 farsakh).” (HR. Bukhari

 

 

Menurut ulama hadits , 1 burud sendiri sama dengan 12 mil atau sekira 22 kilo meter, sehingga 4 burud sama dengan 48 mil atau 85 kilo meter.

 

 

Kedua, ada ulama yang berpendapat safar itu jika telah melakukan perjalanan dengan berjalan selama tiga hari tiga malam. Pendapat ini terutama dipakai dikalangan  ulama Hanafiyah. Dalil mereka adalah hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

 

لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

Janganlah seseorang itu bersafar selama tiga hari kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

 

Pendapat ini juga diperkuat dengan hadits Ali ra, ia berkata,

 

 

جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan tiga hari tiga malam sebagai jangka waktu mengusap khuf bagi musafir, sedangkan sehari semalam untuk mukim.” (HR. Muslim)

 

 

Ketiga, ada ulama yang berpendapat bahwa tidak ada batasan untuk jarak safar, selama sudah disebut safar, maka sudah boleh mengqashar shalat. Pendapat ini diikuti oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan beberapa ulama lainnya.

 

 

Pendapat ini berdasarkan hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menempuh jarak kurang dari yang tadi disebutkan. Namun ketika itu beliau sudah mengqashar shalat.

 

عَنْ يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ الْهُنَائِىِّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ قَصْرِ الصَّلاَةِ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلاَثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلاَثَةِ فَرَاسِخَ – شُعْبَةُ الشَّاكُّ – صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

 

 

Dari Yahya bin Yazid Al Huna-i, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Anas bin Malik mengenai qashar shalat. Anas menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh –Syu’bah ragu akan penyebutan hal ini-, lalu beliau melaksanakan shalat dua raka’at (qashar shalat).” (HR. Muslim).

 

 

 

Ini beberapa pendapat mengenai jarak safar atau bepergian bagi seseorang sehingga bisa disebut safar atau dalam perjalanan sehingga boleh menjamak shalat atau pun mengqasharnya.

 

 

Bagi orang yang tidak pernah atau jarang keluar rumah, bepergian sejauh 15 atau 20 kilo meter sudah dianggap safar. Jadi sebenarnya yang namanya jarak itu relatif. Bisa jadi jarak 30 kilo meter itu ditempuh selama 3 jam atau lebih, karena mengendarai sepeda atau motor tua. Tapi jarak 30 kilo meter ada yang cukup waktu 30 menit dengan mobil karena lewat jalan tol.

 

 

Atau misalnya ada dosen yang tinggalnya di kota A, lalu dia setiap hari pulang pergi mengajar di kota B yang jaraknya 50 kilo meter. Karena sudah biasa dia tidak merasa safar, maka ia tidak perlu  mengqashar atau menjamak shalatnya. Jadi jarak itu relatif, makanya hadits tentang jarak itu bermacam-macam itu.

 

 

Namun yang perlu diingat dan diketahui adalah bepergian tersebut harus ada manfaatnya atau dibenarkan dalam syariat, bukan sekedar main-main atau sengaja melalaikan shalat. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, terkait dengan pembahasan bab shalat ini lebih detail berikut dalilnya, Anda, bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU?” atau buku “ MELANGKAH KE SURGA DENGAN SHALAT SUNAT ”. Didalamnya ada pembahasan bab praktik shalat berikut contoh-contohnya. Wallahu’alam bishawab. [ ]

 

 

buku shalat wudhu

5

Red: citra

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

934

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau alamat email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : Instagram : @percikan_iman.id

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman