Malam Pergantian Tahun, MUI Ajak Umat Islam Isi Dengan Kegiatan Keagamaan

0
34

PERCIKANIMAN.Id – – Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap perayaan pergantian tahun 2019-2020 tidak dilakukan dengan hingar bingar.

 

 

Menurut Sekretaris Jenderal MUI, Anwar Abbas, perayaan tahun baru tidak perlu berlebih-lebihan. Ia mengatakan, perayaan tahun baru lebih baik diisi dengan kegiatan yang bermakna.

 

 

“Lakukan kegiatan yang sifatnya jauh dari hura-hura,” ungkapnya seperti dilansir dari republika.co.id, ahad (29/12/2019)

 

 

Selain itu, ia pun sangat mendukung masyarakat yang melewati malam tahun baru dengan mengisi kegiatan keagamaan. Karena hal itu merupakan kegiatan yang bermakna.

 

 

“Hendaknya diisi dengan kegiatan yang berarti dan bermakna, hindari hura-hura yang tak bermakna,” ajaknya.

 

BACA JUGA: Hukum Merayakan Tahun Baru Menurut Al Quran

 

Pengurus Wilayah Muhamadiyah Jawa Timur (PWM Jatim) mengimbau masyarakat tidak berlebihan dalam merayakan malam pergantian tahun atau tahun baru 2020. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim Najib Hamid berpendapat, tahun baru bukanlah suatu hal yang harus dirayakan, melainkan momen untuk evaluasi diri.

 

 

“Tahun baru bukan untuk dirayakan. Tapi untuk evaluasi atau muhasabah terhadap yang sudah dilakukan, sebagai bahan atau bekal untuk aktivitas yang akan datang,” kata Najib Hamid di Surabaya, seperti dikutip republika.co.id, Senin (30/12/2019).

 

 

Najib juga mengingatkan, penyambutan tahun baru dengan berpesta atau berfoya-foya, tidak dianjurkan dalam agama Islam. Bahkan, kata dia, Islam melayang umatnya untuk berfoya-foya atau berlebih-lebihan. “Foya-foya itu tabdzir, dilarang agama,” kata fia.

 

 

Menurut Najib, hendaknya malam pergantian tahun baru bisa diisi dengan ibadah, kegiatan sosial, atau kegiatan intelektual yang bermanfaat. Terkait tradisi menyalakan kembang api maupun meniup terompet, Najib Hamid berpendapat boleh saja dilaksanakan, asalkan tidak berlebihan.

 

 

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim) pun mengimbau seluruh kader, tokoh, dan pengurus NU Jatim untuk tidak berlebihan menyambut datangnya tahun baru 2020. Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar meminta semua kader NU untuk beraktivitas seperti biasanya. Menurutnya, dalam syariat Islam, tidak diatur ibadah-ibadah khusus untuk menyambut tahun baru.

 

 

“Yang biasanya ngaji ya ngaji. Yang kerjanya satpam ya njaga seperti biasa, tetap salat lima waktu, semua seperti biasanya,” kata Marzuki.

 

 

Pengasuh Ponpes Sabillurrosyad Gasek Kota Malang ini juga tidak melarang andai ada warga yang mengadakan acara-acara untuk menyambut pergantian tahun baru. Namun, dia mengingatkan, khususnya kepada kader NU di Jatim, agar tetap menjaga syariat.

 

 

“Hanya kepada pengurus NU, kader NU yang mengadakan acara, harus tetap menjaga syariat, menjaga kerukunan warga, dan menghindari statemen perilaku yang kontroversial agar tetap adem ayem,” ujarnya.

 

 

Sedangkan untuk tradisi menyalakan kembang api dan menggunakan terompet, KH Marzuki Mustamar mengatakan pihaknya tidak bisa menentukan apakah itu haram atau tidak. Menurutnya, yang terpenting agar warga NU tidak melaksanakan kegiatan-kegiatan yang kontroversial.

 

 

“Kalau kami kiranya itu menjadi kontroversi, baiknya tokoh NU dan pengurus menghindari. Kalau warga kan tidak bisa dicegah karena yang selama ini menjadi sorotan NU-nya bukan warga,” kata dia.

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: republika

940

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : Instagram : @percikan_iman.id

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini