Apakah Seorang Ibu Mendapatkan Warisan Dari Anaknya?

0
397

Assalamu’alaykum. Pak Aam, bila seorang suami meninggal dunia dan beliau meninggalkan seorang istri dan satu anak perempuan. Apakah ibu kandungnya mendapatkan bagian warisan? Mohon nasihat dan penjelasannya. (Ayu via fb)

 

iklan

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Jelas ibu kandung itu akan selalu mendapatkan warisan. Jadi ibu ayah walau bagaimana pun warisan, kecuali yang terhalang warisan itua dalah paman, ua, itu terhalang oleh warisan anak laki-laki.

 

 

 

Jadi misalnya saya meninggal dan saya memiliki anak laki-laki, maka adik-adik saya satu pun tidak ada yang mendapatkan warisan dari saya. Mengapa? Karena kalau saya meninggal ahli waris saya adalah istri saya, ibu saya (karena ia masih ada).

 

 

 

Bagi ayah dan ibu itu jika masih ada maka masing-masing mendapatkan 1/6 dari apa yang ditinggalkan dari alhamarhum jika yang bersangkutan memiliki anak. Akan tetapi jika almarhum tidak memiliki anak, maka yang menjadi hak waris ayah dan ibu masing-masing 1/3 bagian.

 

 

 

Orangtua itu pasti mendapatkan hak waris. Hanya kalau almarhum memiliki anak, maka orangtua mendapat 1/6, tapi kalau almarhum tidak memiliki anak maka orangtua masing-masing mendapat 1/3 bagian.

 

 

 

Anda bertanya apabila seorang suami meninggal dunia dan memiliki anak apakah ibunya mendapat warisan? Jawabannya ya mendapatkan. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, lebih jelasnya Allah berfirman dalam QS An-Nisa ayat 11:

 

 

 

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

 

 

 

Allah mewajibkanmu untuk membagikan warisan kepada anak-anakmu, yaitu bagian laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Jika anak itu semuanya perempuan dan jumlahnya lebih dari dua, bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika anak perempuan itu hanya seorang, ia memperoleh setengah dari harta yang ditinggalkan. Untuk kedua ibu-bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan jika yang meninggalnya mempunyai anak. Jika yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh kedua ibu-bapaknya saja, ibunya mendapat sepertiga. Jika yang meninggal mempunyai beberapa saudara, ibunya mendapat seperenam. Pembagian-pembagian tersebut dilakukan setelah memenuhi wasiat yang dibuat oleh orang yang meninggal atau setelah melunasi utangnya. Mengenai orang-tua dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” ( QS.An-Nisa: 11)

 

 

Jadi kesimpulannya ayah dan ibu itu akan senantiasa mendapatkan warisan baik almarhum memiliki anak maupun tidak. Saya ulangi jika almarhum memiliki anak maka bagian orang tua masing-masing 1/3. Apabila almarhum tidak memiliki anak, maka bagian orang tua menjadi 1/6.

 

 

Nah yang terhalang waris itu ialah apabila seorag suami memiliki anak laki-laki dan memiliki adik. Maka, adiknya tidak berhak mendapatkan hak waris karena anak laki-lakinya menjadi penghalang waris untuk pamannya.

 

 

Namun bagi yang berlainan atau beda agama dan murtad maka ia tidak berhak mendapatkan warisan. Ahli waris lain agama, misalnya yang meninggal dunia orang Yahudi, sedangkan ahli warisnya Muslim, maka ahli waris yang Muslim tersebut tidak boleh mewarisi hartanya. Dan demikian juga sebaliknya. Dalam sebuah hadits dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu berkata sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 

لاَيَرِثُ الْمُسلِمُ الْكَافِرِ وَلاَ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ

 

Tidak boleh orang Muslim mewarisi harta orang kafir, dan tidak boleh orang kafir mewarisi harta orang Muslim”  ( HR. Bukhari )

Untuk lebih jelasnya termasuk besaran warisan dan cara pembagiannya, saya sarankan Anda berkonsultasi dengan ahlinya secara langsung. Prinsip pembagian warisan harus dilakukan sesusi dengan syariat Islam. Jangan sampai harta warisan menjadi sumber malapetaka termasuk saling bermusuhan, yang dekat menjadi jauh dan yang jauh menjadi putus kekeluargaan. Jangan sampai itu terjadi. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alambishshawab. [ ]

 

5

Red: citra

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

929

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau  email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : Instagram : @percikan_iman.id

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman