Cara Mengikuti Sunnah Rasul, Ini Penjelasannya

0
367

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz Aam, saya seorang mualaf yang masih banyak belajar tentang Islam termasuk suka mendengar dan ikut kajian pak ustadz. Kita kan diperintah  ikut sunnah nabi atau Rasul,  itu yang seperti apa? Bagaimana dengan shalat sunat/ sunnah? Mohon penjelasannya dan bimbingannya. Terima kasih. ( Jeany via fb )

 

iklan

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Sesungguhnya kewajiban belajar khususnya ilmu-ilmu agama atau keislaman itu berlaku bagi setiap muslim. Baik tua, muda, laki-laki atau pun perempuan. Meskipun dia bukan mualaf tetap harus belajar atau menambah ilmu. Jadi semangat Anda untuk belajar dan belajar sangat bagus dan mudah-mudahan istiqomah.

 

 

Sebagai muslim kita memang diperintahkan untuk mengikuti atau meneladani Rasul dalam segala aspek kehidupan , misalnya dalam aspek ibadah, muamalah dan sebagainya. Sebab, dalam pribadi dan kehidupan Rasul itu terdapat suri teladan yang baik bagi umatnya. Allah Swt sendiri dalam Al Quran tegaskan,

 

(21). لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 

Sungguh, pada diri Rasulullah itu ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan yakin akan kedatangan hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS.Al Ahzab: 21)

 

 

Jadi teladan atau contoh Rasulullah itu sangat banyak baik yang wajib atau pun yang sunnah. Menjawab pertanyaan Anda, mengingukuti sunah Rasul itu seperti apa? Untuk itu kita perlu tahu pokok-pokok hukum yang sunah atau yang biasa kita kenal sunnah artinya dikerjakan mendapat pahala dan jika tidak dikerjakan tidak berdosa. Terkait hukum sunah, para ulama membagi sunah dalam tiga macam, yaitu sunah muakad, sunah nafilah, dan sunah fadhilah. Ini bisa kita baca dalam Ilm Ushul al-Fiqh karya ulama Abdul. Wahhab Khallaf

 

 

 

Pertama, sunah muakad yaitu sunah-sunah yang menjadi penyempurna bagi hal-hal yang wajib, misalnya azan dan shalat sunat rawatib baik shalat sebelum dan sesudah shalat fardhu.  Termasuk kategori ini adalah sunah yang selalu dilakukan Nabi, yaitu bersiwak.

 

 

Kedua, sunah nafilah adalah sunah yang tidak menjadi rutinitas Nabi, misalnya shaum Senin-Kamis atau shuam tengah bulan (yaumul bith). Maksudnya rutin dikerjakan nabi tetapi tidak dikerjakan setiap hari, hanya pada hari Senin atau Kamis saja.

 

Ketiga, sunah fadlilah adalah meneladani sifat-sifat Nabi dalam kapasitasnya sebagai manusia, misalnya cara makan, minum, berpakaian, dan sebagainya. Fadlilah artinya utama atau keutamaan, jadi dalam sunah tersebut terdapat banyak keutamaannya.

 

 

Ada juga sebagian ulama yang membagi sunah dalam dua macam saja, yaitu muakad dan ghair muakad. Muakkad artinya sunah yang menjadi rutinitas Nabi, tidak pernah ditinggalkan, kecuali satu-dua kali sebagai isyarat bahwa hal itu bukan merupakan kewajiban. Ghair muakad artinya sunah yang tidak menjadi rutinitas Nabi.

 

Shalat sunat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ibadah sebagaimana halnya shalat wajib. Kita ketahui bahwa shalat merupakan kunci ditolak dan diterimanya amal ibadah seseorang. Dalam sebuah hadis dijelaskan,

 

 

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ ))

 

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.”  (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’I )

 

 

Satu hal yang mesti diperhatikan bahwa meskipun shalat sunat secara hukum tidaklah bermasalah ketika ditinggalkan, atau tidak menyebabkan datangnya siksa ketika diabaikan, tetapi seyogianya yang mesti menjadi perhatian adalah bahwa shalat sunat merupakan amalan yang melengkapi dan menyempurnakan shalat wajib dari kekuarangannya.

 

 

 

Jika diibaratkan, shalat sunat merupakan laba dari modal utama (shalat wajib), atau finishing dari desain yang menjadikan sebuah bangunan terlihat indah. Bukankah termasuk orang yang merugi jika seseorang yang berbisnis ternyata hanya dapat mengembalikan modalnya saja tanpa disertai laba? Dan bukankah belum dapat dikatakan sebuah rumah jika finishing belum dilakukan sehingga menyebabkan orang enggan tinggal di rumah itu?

 

 

Shalat sunat terbagi menjadi dua, yaitu shalat sunat mutlak dan shalat sunat muqayyad. Shalat sunat mutlak dilakukan hanya dengan niat shalat sunat tanpa dikaitkan dengan yang lain. Adapun shalat sunat muqayyad yaitu shalat yang disyariatkan karena ada kaitannya dengan yang lain, misalnya rawatib, shalat Dhuha, shalat ‘Idain, shalat Gerhana, dan shalat Istikharah.

 

 

Intinya kita harus mencontoh atau meneladani dari Rasulullah terkait perkara-perkara yang wajib khususnya dalam ibadah dan sebisa mungkin mengikuti sunnah-sunnah beliau dalam hidup keseharian.  Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

 

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Sesungguhnya sebaik-baik berita adalah kitab Allâh (Al Quran), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (hadits), seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru (dalam agama/bid’ah), dan semua bid’ah adalah kesesatan.” (HR.Muslim)

 

 

Jadi perkara-perkara yang sifatnya atau kategori ibadah misalnya shalat, haji, puasa maka harus mencontoh atau mengikuti cara Rasul. Tidak boleh membuat aturan atau cara sendiri. Tetapi untuk perkara-perkara diluar ibadah misalnya makan, berpakaian dan yang lainnya boleh kita berbeda dengan nabi. Misalnya makan, Rasul suka makan kurma dan roti gandum maka kita boleh makan nasi dan sebagainya. Sepanjang halal dan thayyib dan tidak melanggar syariat, boleh kita lakukan.

 

 

Sunah Rasul dalam olah raga ada berkuda, memanah dan berenang maka kita boleh olahraga main badminton, lari, basket dan sebagainya. Intinya kita dituntut untuk sehat jasmani dan rohani maka jenis olahraganya sesuai yang kita gemari. Sepanjang tidak melanggar syariat Islam maka boleh. Demikian penjelasan singkatnya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, terkait dengan waktu shalat dan juga tuntunan doa, Anda dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU” atau “ MELANGKAH KE SURGA DENGAN SHALAT SUNAT ”. Di dalamnya ada pembahasan terkait pelaksanaan dan tata cara shalat hingga amalan-amalan doa apa saja, yang dijelaskan secara detail dengan dalil yang shahih. Wallahu a’lam. [ ]

 

buku shalat wudhu

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

995

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau  email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : Instagram : @percikan_iman.id

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman