Istri Menolak Hamil Lagi, Boleh atau Terlarang?

0
89

Assalamu’alaykum.Pak Aam, saya sudah berumur 40 tahun dan dikaruniai tiga anak semua perempuan. Namun suami masih mengingingkan anak laki-laki. Mengingat usia yang sudah tidak muda lagi saya sendiri kurang setuju. Selain itu saya juga mempunyai sakit darah tinggi. Apakah boleh menolak keinginan suami untuk hamil lagi? Apakah ada larangan atau batas hamil dalam Islam? Mohon penjelasannya dan nasihatnya. ( Ella via email )

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah.  Perlu dipahami dan disadari bahwa yang namanya kehamilan atau kelahiran dan kematian adalah rahasia Allah. Dalam ayat Al-Quran dijelaskan,

 

 

(2). الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

 

Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji siapa diantara kalian yang terbaik amalnya”. (QS. Al-Mulk: 2)

 

 

Jadi kematian dan juga kelahiran termasuk kehamilan itu rahasia Allah. Kelahiran bisa diprediksi tetap tidak bisa tepat hingga seratus persen. Sementara kehamilan juga demikian. Ada pasangan suami istri yang menikah tetapi tidak punya anak atau istrinya tidak hamil. Berbagai cara medis non medis sudah ditempuh tetapi tidak hamil juga.

 

 

Ada yang masih muda tidak bisa hamil, namun ada istri yang sudah tua masih bisa hamil. Jadi ini adalah salah satu bagian dari rahasia Allah. Meski secara medis bisa dijelaskan tetapi itu tidak menjadi ukuran pasti.

 

 

Terkait dengan pertanyaan Anda, apakah ada batasan usia untuk hamil dalam Islam? Secara detail tidak ada penjelasan baik dalam Al Quran mau pun dalam hadits Rasul. Lalu bolehkan menolak hamil? Tentu ini juga tergantung dari situasi atau kondisi seseorang.

 

 

Namun mengingat usia Anda yang sudah menginjak 40 tahunan, barangkali bisa dijelaskan secara medisnya. Begini, puncak perkembangan tubuh manusia berada pada usia 28 – 29 tahun. Di atas usia itu, organ-organ tubuh perlahan-lahan akan menurun fungsinya.

 

 

Hal ini dapat kita lihat pada orang-orang yang bekerja menggunakan kekuatan fisiknya, misalnya atlet.  Petinju, petenis, pemain bolak, badminton atau perenang dan sebagainya dapat dipastikan memulai puncak prestasinya pada usia 20 tahun atau di bawah 20 tahun dan akan segera mengalami penurunan pada usia 25-26 tahun. Jarang sekali ditemukan atlet yang masih berprestasi pada usia 30 tahun ke atas.

 

 

Kehamilan sendiri bagi wanita atau kaum ibu merupakan suatu proses fisik yang berat karena seorang wanita harus membawa beban di perutnya yang mungkin bisa mencapai 10 kg atau lebih.

 

 

Beban itu dibagi menjadi 3 kg untuk janin, 3 kg untuk cairan ketuban dan plasenta, dan 4 kg atau lebih untuk penambahan lemak selama proses kehamilan. Bukan hanya itu, proses melahirkan juga merupakan aktivitas fisik yang tidak kalah berat. Seorang wanita yang melahirkan harus mengalami kontraksi antara 12 sampai 20 jam.

 

 

Selain itu, ia pun harus mengeluarkan tenaga ekstra yang luar biasa untuk mendorong bayinya keluar. Mempertimbangkan hal tersebut, idealnya (secara teori) usia wanita hamil antara 20-30 tahun.

 

 

Alasannya, untuk melahirkan keturunan yang sehat (fisik dan psikis) dibutuhkan berbagai sarana dan prasarana penunjang. Misalnya, kualitas ovum terbaik adalah pada usia tersebut di atas.

 

 

Kehamilan di bawah usia ideal, dapat mendatangkan masalah karena tubuh seorang wanita belum terlalu matang. Kematangan emosi pun belum teruji.

 

 

Perempuan sering mengalami stres berat pada saat hamil. Permasalahan lingkungan menyebabkan tekanan kenaikan darah yang disebut penyakit hipertensi dalam kehamilan (HDK) atau pre-eklampsia yang bisa berakhir dengan keadaan eklampsia.

 

 

Bila tekanan darah meninggi, bisa menimbulkan pecahnya pembuluh darah (stroke), kejang, sampai hilangnya kesadaran. Bila kehamilan berakhir dengan kejang, seringkali janin di dalam kandungan tidak dapat bertahan hidup.

 

 

Proses kejang yang berlangsung lama menyebabkan janin tidak mendapat oksigen, makanan, serta aliran darah karena semua dinding pembuluh darah berkontraksi.

 

 

Hamil pada usia lanjut (di atas 30 tahun) dapat menyulitkan wanita dalam menjalani hari-hari kehamilannya. Selain tenaga yang sudah jauh berkurang, fungsi sejumlah organ sudah mulai menurun.

 

 

Misalnya fungsi ginjal yang menurun memungkinkan peningkatan tekanan darah atau hipertensi. Hipertensi tentunya berpengaruh pada kehamilan karena tekanan darah yang tinggi menyebabkan aliran darah ke janin berkurang sehingga dapat menghambat perkembangannya.

 

 

Kenaikan tekanan darah yang terjadi sebelum kehamilan akibat kondisi tubuh yang sudah menurun disebut hipertensi kronis. Apabila timbul pada saat hamil, padahal sebelumnya belum pernah menderita hipertensi, disebut dengan HDK.

 

 

Kesimpulannya, hamil pada usia di bawah 16 tahun dan di atas 30 tahun dapat menyebabkan terjadinya pre eklampsia/eklampsi atau hipertensi disertai dengan eklampsia. Di atas usia 35 tahun, fungsi telur sudah jauh berkurang sehingga bisa saja timbul suatu kelainan yang disebut sindroma down (down syndrome).

 

 

 

Hal ini berupa gangguan genetik sehingga bayi terlahir cacat Mongoloid. Cacat Mongoloid menyebabkan bayi terlahir mirip seperti orang Mongol. Matanya sipit, kecerdasannya pun sangat rendah.

 

 

Walaupun berkulit hitam atau berkulit merah, ia akan tampak seperti Mongol karena bentuk matanya yang sangat khas. Persentase terjadinya down syndrome akan semakin meningkat  seiring dengan bertambahnya usia saat hamil.

 

 

Nah, ini barangkali yang bisa Anda jelaskan kepada suami Anda tetang kehamilan diusia lanjut ditinjau dari medis atau kesehatan. Jadi resikonya akan tinggi jika hamil diusia yang lanjut. Resiko yang dimaksud adalah keburukan secara medis.

 

 

Tentu saja kita yakin bahwa yang namanya kematian, sakit, lahir tidak normal dan resiko buruk lainnya adalah rahasia dan ketentuan Allah. Kalau Allah berkendak semua bisa terjadi dan yang Anda khawatirkan bisa tidak terjadi.

 

BACA JUGA: Syukuran Hamil 7 Bulan, Boleh atau Tidak ?

 

Tetapi kita oleh Allah diberikan akal dan pengetahuan tentu harus juga dipakai untuk memahami dan memprediksi yang bertujuan untuk kemaslatan atau kebaikan. Ini tentu tidak dilarang.

 

 

Jadi menurut hemat saya, kalau Anda menolak untuk hamil karena faktor usia dengan pertimbangan resiko medis seperti tersebut diatas tentu dibolehkan. Atau untuk memastikan, lebih baik Anda bersama suami konsultasi dengan ahli atau dokter sehingga mendapat penjelasan yang utuh dan komprehensif. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’allam bishshawab. [ ]

 

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

981

Sampaikan pertanyaan Anda melalui WA: 081281818177 atau  email: [email protected]  atau inbox melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : Instagram : @percikan_iman.id

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini