Memaksimalkan Potensi Spiritual Dalam Menerima Petunjuk Allah 

0
487

 

Tafsir Surat Al A’la ayat : 3-5*

 

iklan

 

Oleh: Dr. Aam Amiruddin, M.Si

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Pada hakikatnya setiap manusia diberikan potensi spiritual. Potensi spiritual inilah yang menyebabkan manusia akan mampu menerima petunjuk Allah. Yaitu berupa ajaran-ajaran yang harus dilaksanakan oleh manusia dengan sebaik-baiknya. Itulah sebabnya pada ayat berikutnya Allah berfirman:

 

(3). وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ

 

dan yang menentukan kadar dan memberi petunjuk” (QS.Al A’la: 3)

 

 

Allah swt. tidak sekadar menciptakan, tetapi juga menentukan kadar masing-masing serta memberikan petunjuk pada masing-masing makhluk, sehingga setiap makhluk mampu menjalankan perannya.

 

 

Allah swt. telah menentukan kadar pada seluruh ciptaan-Nya. “… dan Allah telah menciptakan segala sesuatu, dan Allah menetapkan kadar (ukuran-ukurannya) dengan serapi-rapinya.” (Q.S. Al Furqan 25: 2)  “

 

Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (kadar) bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Ath-Thalaq 65: 3)

 

 

Bumi mengitari matahari dengan konsisten di orbitnya pada kecepatan sekitar 100.000 km per jam karena Allah swt. telah tentukan ukuran (kadar)-nya. Matahari bergerak di antara bintang-bintang lainnya dengan kecepatan sekitar 800.000 km per jam, ini pun terjadi karena Allah telah tentukan kadar (ukuran)-nya.

 

 

 

Begitu juga jantung kita berdenyut secara konsisten, mata berkedip secara rutin, dan usus melakukan gerakan paristaltik. Semuanya karena kadar yang Allah tetapkan. Tanpa kadar (ukuran) yang konsisten, pasti akan mengalami kekacauan.

 

 

 

 

Manusia bukan hanya diberi kadar tetapi juga diberi petunjuk-Nya. Dan yang menentukan kadar dan memberi petunjuk. Hidayah atau petunjuk adalah peta kehidupan yang Allah swt. berikan pada manusia agar tidak tersesat dalam mengarungi belantara kehidupan. Sumber petunjuk manusia adalah Al Quran dan sunah yang berfungsi sebagai tafsir Al Quran.

 

 

 

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; merupakan petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S. Al Baqarah 2: 2)

 

 

 

Dalam menyikapi petunjuk-petunjuk Allah yang tertera dalam Al Quran, manusia terbagi atas tiga kelompok. Silakan perhatikan ayat berikut,

 

 

 

Kemudian kitab (Al Quran) itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Q.S. Faathir 35: 32)

 

 

 

 

Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam dalam menyikapi hidayah atau petunjuk Allah swt. yang tertera dalam Al Quran terdari atas, (1) kelompok Dzaalimun li nafsih (menganiaya diri) yaitu orang yang memahami isi Al Quran namun melanggar aturan-aturannya. (2) kelompok Muqtashid (pertengahan) yaitu orang yang mengamalkan Al Quran, namun hanya yang pokoknya saja, misalnya melaksanakan shalat hanya yang wajibnya saja, tidak pernah shalat sunah, shaum hanya yang wajibnya saja, begitu juga amalan-amalan lainnya, dan (3) kelompok Saabiqul bil khairat yaitu orang-orang yang berlomba dalam kebaikan, apa pun yang dijelaskan dalam Al Quran berusaha diamalkan dengan sebaik mungkin, tanpa keraguan.

 

 

 

Jadi jelaslah bahwa Allah swt. sudah memberikan petunjuk seperti yang diterangkan di atas, dan Dia yang menentukan kadar dan memberi petunjuk. Namun pada akhirnya, dengan bekal potensi yang Allah swt. berikan, manusia diberi kekuasaan oleh Allah swt. untuk menentukan apakah dia akan mensyukuri petunjuk-petunjuk Allah yaitu dengan menjalankan segala ajaran-ajaran-Nya ataukan akan menolaknya. Yang pasti, Allah swt.

 

 

 

Maha Adil. Orang-orang yang menerima petunjuk-Nya akan diberi imbalan kenikmatan abadi. Sedangkan yang menentang-Nya akan mendapatkan sanksi yang abadi juga.

 

 

Setelah berfirman tentang penciptaan manusia dengan segala kesempurnaannya, selanjutnya Allah swt. menyuruh kita memikirkan sesuatu yang relatif lebih dekat dengan keseharian hidup kita, yakni rumput.

 

 

(4). وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَىٰ

 

dan yang menumbuhkan rumput-rumputan”.(QS.Al A’la: 4)

 

 

(5). فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَىٰ

 

“lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman”. (QS.Al A’la: 5)

 

 

Simak Video Ust Aam: Tafsir Surat An Nas

Pernahkah Anda menyaksikan lapangan rumput yang menghijau, begitu indah dan menyejukkan mata? Namun perlahan tapi pasti, rumput itu layu, menguning, dan akhirnya kehitam-hitaman alias mati.  Sesungguhnya ini merupakan gambaran kehidupan manusia.

 

 

 

Kehidupan manusia diawali dengan masa-masa subur, yakni masa anak-anak dan remaja, kemudian bergerak ke masa dewasa, lalu masa tua, dan akhirnya kita akan kembali pada Allah swt. alias mati. Wallahu’alambishshawab. []

 

 

*Sumber: dikutip dari buku “Al-Hikmah Tafsir Kontemporer Juz Amma” karya Dr.Aam Amiruddin, M.Si

 

Tafsir Juz Amma

4

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

847

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : Instagram : @percikan_iman.id

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman